Part 16 : Awal Mula

3.5K 142 24
                                        

Setelah lama saling beradu argumen, akhirnya baik Kia maupun Dika sepakat untuk membicarakan masalah yang tengah mereka hadapi. Masih di cafe yang sama, di meja yang sama.. mereka memutuskan untuk memesan masing-masing secangkir kopi untuk menyegarkan pikiran mereka yang keruh seperti air selokan.

"Lo berani jamin ini bukan ulah lo?" Radikia masih tak percaya. Selepas menyesap kopinya yang masih hangat, dia berucap lagi. "Maksud gue, gue kenal sama Raka itu pas gue sama Sandy masih belum pisah. Dan itu artinya kita masih temenan. Seingat gue lo sama sekali gak ada cerita tentang akun ask.fm lo ini"

Dika mendengus. "Lo yakin kita masih temenan? Lo yang jaga jarak dari gue. Dan buat apa gue cerita? Kalo lo aja gak cerita sama gue pas lu bikin akun palsu lo itu" katanya sinis.

"Oke gue salah" Kia mengalah. Tidak ingin membahas perihal masa lalu keduanya lebih lanjut. "Gue baru deket sama Rakka baru-baru ini. Apa yang buat lo tertarik sama Cessa sampai mau temenan sama dia? Padahal setau gue, diliat dari likers nya, lo udah punya akun ini dari lama"

"Si Cessa.. maksud gue, elo.. selalu ngepost kalimat menarik setiap hari Senin. Jadi gue stalk lu. Pas gue tanyain gue bisa jadi temen lu apa enggak pake anon, lu jawab iya. So? Gue langsung ask aja. Simple"

Kia mengangguk-angguk. "Jadi ini benar-benar bukan kesengajaan?"

"Bukan" Dika membantah tegas. "Gue bahkan bisa cerita saat ini juga kronologis ceritanya kalau lo mau tau. Tapi karna gue tau--"

"Cerita"

"What?"

"Gue bilang cerita sekarang!"

Dika berdecak. Namun tak ayal membuka mulutnya sambil menerawang. "Waktu itu, sehabis UAS gue ngecek akun askfm gue yang udah lama gak gue buka..."

***

Beberapa bulan yang lalu...

Sambil bersiul siul, Dika mengambil laptop berwarna hitam miliknya yang berlogo apel tergigit. Setelah memastikan laptopnya telah terhubung dengan internet, dia mulai mengetikkan sejumlah kata yang kemudian langsung menampilkan profil askfm miliknya yang sudah penuh sarang laba-laba saking lamanya ia biarkan. Dika tersenyum lebar.

Foto Kia terpampang disana, sebagai foto profil.

Dengan baju balon imut warna pastel dan beberapa hiasan rambut yang terlihat karna anak itu hanya menampakkan punggungnya saja untuk di foto. Dika ingat betul, kalau itu adalah foto Kia saat ulang tahunnya yang keempat belas tahun. Dan cowok itu membawanya ke taman selepas acaranya selesai hanya untuk memandang bintang, karna cowok itu--Radika-- sedang tidak memiliki uang untuk sekedar membeli kado.

Tiba-tiba raut wajahnya mendadak murung. Kia tiba-tiba menjaga jarak. Meski tidak tahu apa penyebabnya, Dika mencurigai kekasihnya Kia yang mirip preman pasar itu, atau setidaknya begitulah Dika memandang Sandy, kalau lelaki itulah penyebab Kia menjauhinya.

"Apa sih hebatnya cowok berandalan itu? Gak ada yg bagus dari dia kecuali uangnya" gerutu laki-laki itu sambil menscroll beranda askfm-nya.

Kalau Tuhan tidak menciptakan kata cinta, akan jadi seperti apa aku sekarang?

Kalau Tuhan tidak menciptakan manusia berpasang-pasangan, akan seperti apa nasibku sekarang?

Jangan jadi seperti api yang egois dengan tetap membakar lilin untuk tetap bersama-sama ya, S.

Jangan berikan harapan palsu pada lilin ini hingga dia mau membakar dirinya. Jangan.

Karna persis seperti cahaya lilin yang gak bertahan lama. Kebahagian yang kamu berikan pun sama rapuhnya seperti itu.

Lepaskan tanganku, S. Biarkan aku berlari.

-Incessia
Kamis, 7 Des 2015

Jari-jari Dika yang tadinya hendak kembali menscroll tiba-tiba terhenti. Matanya menatap tulisan itu lama. Inisial yang dituliskan disana mengingatkannya pada Sandy alias pacar Kia selama hampir 3 bulan belakangan ini. Dika berdecak tak senang, bergumam,

"Ingatkan gue untuk gak kasih nama anak gue dengan inisial S. Karna sejak sekarang, gue benci sama orang berinisial S. Seperti Sandy contohnya" gerutunya tidak jelas.

***

"Yaudah sorry"

"Sorry aja nih?" Dika menaikkan kedua alisnya pura-pura terkejut. "Gak ada yang lebih baik dari sekedar kata?"

"Maksud lo?"

"Lo selalu nuduh gue yang enggak-enggak selama ini. Lo pikir, hanya dengan maaf aja apa itu cukup?" Dika mendengus. "Kalau kata maaf itu cukup, untuk apa ada polisi,hm?"

Kia melengos. "Licik banget sih lo?!" Seru gadis itu tak terima. Namun kemudian menghela napasnya. "Jadi apa yang harus gue lakuin? Jangan minta yang aneh-aneh kalau gak mau ada yang kena tendangan salah sasaran!"

Melihat arah lirikan mata Kia yang mengarah pada selangkangannya, Dika dengan cepat merapatkannya, kemudian berdehem.

"Gue mau lo terima perjodohan ini..."

Kia mematung.




"....buat bales dendam sama Sandy"

LOVEEUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang