Langit Desember tak lekas sembuh
Barisan mega masih gemar berlabuh
Kilat acap menyapa dan mendatangkan guruh
Bulir-bulir bening air gencar meluruh
Jauh di sana seorang pria duduk berteduh
Mengasingkan diri dari keramaian malam yang riuh
Berdiam diri merasakan angkasa semesta dan angkara perut nya yang bergemuruh
Mencecap secangkir kopi, sembari sesekali mendekap tubuh
Sungguh
Andai ruang dapat ditempuh
Andai jarak tak begitu jauh
Tanganku siap sedia untuk merengkuh
Realita berseru
Menyentak angan-angan dungu yang berlagu
Biarlah di lain waktu
Lengan ini nyata merengkuhmu, bukan sekadar pelukan semu
—lex
KAMU SEDANG MEMBACA
Him
PoetryKumpulan sajak berirama Yang terinspirasi dari mereka Yang tanpa disadari Menyumbang deretan kisah penuh arti Dalam perjalanan waktu Aku dengan diriku
