[ WENDY ]
Bagaimana kalian bersikap dan menghadapi masa lalu yang manis sekaligus pahit?
Aku, saat ini merasa hatiku masih terjebak di masa lalu. Terutama di pagi hari saat Papa meminum segelas kopi sebelum berangkat bekerja. Aku bukan maniak kopi, tapi Seoul Latte adalah minuman favoritku di dunia.
Mungkin sebagian dari diriku masih ingin kembali ke tempat itu. Tempat di mana aku bisa menikmati segelas Seoul Latte sehabis bernyanyi selama dua jam penuh. Di sana aku membuat banyak sekali kenangan, baik yang manis maupun yang pahit.
Yang memperkenalkanku pada tempat yang disebut Café Hometown adalah Bae Irene. Dia adalah sahabat terbaikku, yang kukenal sejak masa kuliah. Dia adalah sahabat terbaikku, yang masih mau menyempatkan waktu bertemu denganku di siang hari meski memiliki segudang pekerjaan.
Bae Irene bekerja sebagai model majalah fashion. Dulu, dia sama sekali tidak berpikir untuk menjadi seorang model. Impiannya untuk menjadi penyanyi justru mengantarkannya pada pekerjaannya saat ini.
Aku dan Irene, pergi dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain, mengikuti banyak sekali audisi mencari bakat, dan pada akhirnya kami berpisah begitu Irene direkrut sebagai model.
Tentu saja aku tidak membenci Irene karena meninggalkanku. Justru aku lah yang meminta Irene untuk berkarir sebagai model. Aku tidak mau Irene membuang kesempatan emas demi diriku yang keras kepala bertahan di sebuah jalur.
Sudah setahun sejak Irene membuat keputusan besar itu. Sampai sekarang, kami masih bersahabat. Irene adalah orang yang sabar, pengertian, dan tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku. Aku lah yang selalu memaksa Irene melakukan sesuatu untukku.
"Hai, Wendy!"
Setelah setengah jam menunggu di sebuah kursi taman, Irene menampakkan diri di hadapanku. Sahabatku itu terlihat cantik dengan riasannya yang tipis dan pakaian casual berwarna cerah. Tapi yang membuatku terkejut adalah benda yang dibawa oleh Irene.
"Ya Tuhan, Irene, bagaimana bisa?" tanganku dengan antusias menyambut segelas Seoul Latte yang masih hangat. "Kenapa kamu tahu kalau aku mau minum ini?"
Senyum Irene yang memikat bersama suara tawa yang ringan membalas pertanyaanku. "Kebetulan aku mampir ke Café Hometown sebelum kemari. Aku sengaja memesannya untuk kamu."
"Duduklah," ujarku sambil menarik lengan baju Irene. "Aku akan mengganti uangmu."
"Nggak perlu," balas Irene yang sudah duduk di sebelah kananku. "Aku juga mendapatkannya secara gratis."
Begitu, ya? Rupanya di Café Hometown, masih ada seseorang yang menginginkanku untuk kembali. Aku tahu itu, karena saat aku mencium aroma minuman di tanganku, aku bisa membayangkan sosok laki-laki yang membuatnya dan memaksa Irene untuk menerimanya secara gratis.
"Terima kasih," balasku sambil tersenyum. "Nggak apa-apa kalau kita berbicara di sini?"
Irene mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Taman yang dekat dengan rumahku ini memang sangat ramai dengan anak-anak dan orang tua mereka. Ada juga beberapa mahasiswa seni rupa yang mencoba menggambar sketsa air mancur yang ada di tengah taman.
"Memangnya kenapa dengan tempat ini?" tanya Irene kebingungan.
"Kamu, 'kan, orang terkenal. Nggak apa-apa kalau ada di tempat terbuka seperti ini?" tanyaku sambil tersenyum usil. Sejujurnya, aku hanya ingin menggoda Irene.
"Astaga, aku kira ada apa. Tentu saja nggak masalah," balas Irene setelah itu dia bernapas lega. "Lagipula, aku bukan orang terkenal seperti yang kamu bayangkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Before the Concert ✔️
Fanfiction[ COMPLETED ] 'Sequel dari After the Concert' Kembali pada waktu sebelum konser, di mana Suga berusaha membuat Wendy selalu tertawa. Ini kisah tentang dua manusia yang berusaha hidup bersama di Seoul. Dua manusia yang bertemu secara tidak sengaja ka...
