Suara khas dari guntur seakan tak membuat nyaliku ciut. Aku masih tak bergerak sedikit pun dari kursi yang sedang kududuki di depan jendela kamarku.
Kata ibuku sewaktu beliau masih bersamaku, aku sudah berteman dengan seperangkat hujan dari lahir.
Bahkan ketika aku -kecil- sedang menangis dan dengan waktu yang pas, turun hujan. Tangisanku akan terhenti seketika itu dan terganti dengan wajah polosku saat tertidur.
Sebegitu menenangkannya hujan?
Untuk orang orang sepertiku, hujan memang sangat sangat menenangkanku saat aku berada dalam kondisi apapun.
Duduk didepan jendela saat hujan, dengan kue dan secangkir susu hangat di meja dan novel yang berada ditanganku, membuat hariku sangat menyenangkan.
Memang tak banyak orang yang menyukai hal semenarik itu saat hujan.
Yang ada, mereka fikir "Orang bodoh mana yang bisa tenang, duduk dan membaca saat suara guntur seakan saut menyaut dari sisi kanan, kiri atau sisi manapun itu"
Tak jarang orang lain menyebutku "gadis aneh dibalik hujan" karena dibalik hujan turun, aku selalu hadir dengan posisi duduk ditemani secangkir susu hangat dan novel ditanganku.
No problem when many people judge me like human freak between rain. Yang jelas aku nyaman dengan semua ini.
