PART 8

92 5 6
                                        

Hani hanya diam selama perjalanan. Dujun berniat membawa Hani kesuatu tempat yang Dujun pikir Hani akan sangat menyukainya. Dujun memarkirkan mobilnya didepan sebuah bangunan yang membuat Hani tertarik. Segera saja Dujun mengajak Hani keluar dan masuk ke bangunan itu.

Mereka mencari tepat duduk dan seorang pelayan mendatangi mereka, Hani kembali menggigit bibirnya karena otaknya kemudian terpacu pada Junhyung. Ya, Dujun membawa Hani ke Metabox, kafe yang begitu terkenal seantero korea juga memiliki tiga cabang besar. Kafe milik Junhyung.

"kau ingin pesan apa? Apa aku harus memesan untukmu? Semua makanan dan minuman disini enak," Hani hanya mengangguk lemah, tentu dia sudah terbiasa dengan menu disini karena dia dan Junhyung yang membuat resepnya.

Hani masih memperhatikan sekeliling mencari Junhyung. Sebuah kemungkinan besar Junhyung akan kemari, dan Hani mengharapkan itu. Hani sudah benar-benar rindu dengan monster itu.

"aku sangat merindukanmu. Aku menjadi berpikir kita bisa menjalin sesuatu seperti dulu," Dujun tersenyum teduh sambil menatap Hani. Ini adalah sebuah pembicaraan serius dan Hani tau itu.

"bisakah kita mengakhiri semua ini?" tanya Hani. Dujun melotot mendengar pernyataan Hani yang terkesan sepihak.

"aku tidak mencintaimu lagi. Perasaanku padamu tidak seperti dulu," jelas Hani. Hani hanya melontarkan sebuah senyuman pahit karena dia benar-benar merasa ucapan Dujun itu tidaklah mungkin.

"kau sangat mencintainya? Sekalipun dia membuatmu terluka dan berlari padaku? Kenapa?" Dujun menatap Hani dengan senyuman teduh.

"karena dia tidak melakukan apa yang kau lakukan dulu," Dujun terdiam mendengar jawaban Hani. Mungkin ucapan Hani ada benarnya, semua ini berawal darinya.

"siapa sebenarnya lelaki yang membuat luka cekikan dilehermu juga luka genggaman di pergelangan tanganmu?"

"mungkin kau tidak harus mengenalnya, mungkin kau juga tidak harus peduli dengan kami," Hani tersenyum kecut. Ucapannya ini diharapkan mampu membuat Dujun menyudahi ini.

"aku akan ke kamar mandi sebentar," Dujun tersenyum pada Hani dan beranjak ke kamar mandi.

Merasa Dujun sudah masuk kedalam kamar mandi, Hani berdiri dari tempatnya duduk. Hani berjalan mendekati seorang dengan nametag manager.

"permisi, apakah Junhyung tadi kemari?" tanya Hani, manager itu melotot melihat siapa yang ada didepannya. Dia kemudian membungkuk memberi hormat.

"ya, silahkan, lewat sini." Manager itu memimpin Hani untuk bertemu dengan Junhyung. Hani sudah sangat merindukannya.

"silahkan," pria itu berhenti disebuah pintu dengan tulisan Presdir dan meninggalkan Hani.

Dengan ragu, Hani mengetuk pintu dan membukanya. Setelah pintu benar-benar terbuka, Hani melihat Junhyung sedang berdiri menatap jendela disana. Sepersekian detik kemudian Junhyung juga menatapnya, mereka saling menatap hingga akhirnya Junhyung memutar tubuhnya menghadap Hani.

Dengan langkah cepat Hani menghampiri Junhyung dan segera memeluknya erat. Hani tak lagi mampu menahan air matanya, dia menangis seperti ini adalah hari terakhirnya bertemu Junhyung.

"aku merindukanmu," ucap Hani. Tak ada balasan dari Junhyung. Junhyung masih mencerna kondisi saat ini, karena mungkin saja yang memeluknya ini hanyalah bayangan seperti hari-hari kemarin. Namun, Junhyung tau ini benar-benar Hani saat dia juga bisa memeluknya.

MineWhere stories live. Discover now