"kau ingin Hanshin hancur? Kita sedang krisis karena harga saham anjlok!"
"apakah kau sangat mencintai uang?"
"tentu saja! Aku bahkan lebih mencintainya daripada kau! Uanglah yang membuat ibumu melupakan kita!"
"kita?"
Seketika Junhyung membuka matanya karena mimpi yang dialaminya itu. Itu adalah rekaman kejadian beberapa hari lalu di depan kafe saat Taewoo dengan tiba-tiba menemuinya, menyapanya lebih dahulu.
Junhyung menoleh kesampingnya dan melihat kaki Hani diatas bantal sementara kepala Hani tergantung dari kasur. Junhyung bisa mendengar dengkuran pelan Hani. Mereka sangat berbeda dalam hal tidur, Junhyung selalu tenang saat tidur, bahkan seperti orang mati, sama sekali tidak bergerak. Sementara Hani... ah, lupakan.
Junhyung bangun dan melihat istrinya, dia pasti sangat lelah. Merasa tak tega, Junhyung akhirnya mencoba menyamankan posisi Hani. junhyung bangkit dari posisinya dan menghampiri Hani, kemudian dengan sekali gerakan Junhyung mengangkat Hani ala bridal dan menidurkannya kembali dengan posisi yang lebih nyaman.
Hari masih begitu pagi, bahkan matahari belum bersinar benar, pukul 3 pagi. Junhyung kehilangan beberapa jam tidurnya karena mimpi menyebalkan itu. Merasa semakin jengah, Junhyung akhirnya memutuskan untuk membuat sarapan. Walaupun masih terlalu pagi, tapi melihat Hani yang tidur seperti itu, Junhyung tidak tega jika harus membiarkannya membuat sarapan.
Junhyung segera berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok giginya, kemudian beranjak kedapur untuk memasak. Seorang pria seperti Junhyung terbiasa memasak makanannya sendiri. Junhyung tidak terlalu suka makanan buatan orang lain. Karena itu, Junhyung selalu memasak untuk dirinya, namun Junhyung akan sangat suka jika Hani atau Ibu Hani memasakkan sesuatu untuknya. Rasanya sangat spesial mengetahui orang itu susah payah memasak untukmu.
Junhyung berhasil memasak sup dan omelet dalam waktu setengah jam, dan sekarang Junhyung sedang menunggu supnya matang sekaligus menanak nasi. Karena sangat fokus, Junhyung tidak menyadari jika Hani sudah berada dibelakangnya dengan rambut menutupi muka juga memakai baju Junhyung yang kebesaran dipakainya. Junhyung terkejut dan membulatkan matanya saat berbalik dan melihat Hani.
Melihat wajah lucu Junhyung yang tiba-tiba mematung dengan tatapan 'jangan sentuh aku' itu membuat Hani tertawa pelan dan berlalu pergi ke kamar mandi. Siapa sangka jika Junhyung sangat takut hantu. Junhyung kembali pada pekerjaannya dengan mata yang masih membulat. Dia masih tidak mempercayai apa yang terjadi, Junhyung menengok ke arah kamar mandi dan melihat lampunya menyala. Ternyata benar, itu Hani.
0o0
"Jun... aku bosan... bosan..." Hani terus merengek sambil mengganggu Junhyung yang fokus membaca berkas. Yah, mereka berdua sedang berada di kamar dengan Hani yang bergelayut di tubuh Junhyung.
Junhyung berjalan ke sebuah rak buku dan mengambil sebuah map dengan logo Metabox, Junhyung mencoba untuk tidak mempedulikan Hani yang bergelayut di tubuhnya. Terkadang Hani memang sangat merepotkan.
Pertahanan Junhyung goyah ketika hani mencium bibirnya saat dia membaca isi map itu di meja baca dekat rak buku. Junhyung menarik Hani agar duduk dipangkuannya, Junhyung sangat menikmati ciuman Hani yang tiba-tiba ini. Dia hanya sangat merindukan saat-saat seperti ini, Junhyung merindukan wangi Hani yang menyeruak saat dia mencium lehernya dan.. sudahlah.
Hani membiarkan Junhyung mencium lehernya, Hani hanya mengalungkan lengannya ke leher Junhyung dan terkekeh pelan.
"ini selalu berhasil," seketika Junhyung menghentikan kegiatannya, ucapan Hani tadi terdengar seperti 'kena kau, pria mesum' dan itu sedikit menyakitkan.
YOU ARE READING
Mine
FanfictionAku mencintaimu yang bahkan lebih buruk daripada iblis. Bukan dengan kelembutan dan kenyamanan, namun dengan sejuta rasa pedih juga amarah.
