PART 15

64 5 4
                                        


Hani sedang memakan es krim yang dibelinya dengan harap-harap cemas. Dia masih memikirkan ucapan Dujun tadi. Tidak bisa dipungkiri jika perasaan Dujun masih tersisa, itu cukup membuat Hani merasa canggung. Hani merasa hubungan mereka tidak akan seakrab dulu setelah kejadian di kafe itu. Semuanya akan berubah, semuanya pasti berubah.

Perasaan aneh juga muncul di hati Hani karena rasa nyaman bersama Dujun berubah menjadi perasaan yang bisa dibilang... sedikit canggung. Perubahan drastis itu membuat hati Hani kebingungan menyikapinya. Entah Hani harus berpura-pura tidak terjadi apapun, atau Hani hanya harus menanggapi Dujun seperti sebelumnya. Semua terasa memusingkannya.

Kemudian, Junhyung turut hadir, mengingat Junhyung yang sangat benci dengan Dujun membuat Hani semakin dibikin pusing. Apa yang sebaiknya dilakukannya. Satu pria yang sangat protektif terhadapnya, mungkin bisa dibilang obsesi, dan satu lagi adalah sahabatnya yang mencintainya dengan tulus. Semua membuat otaknya panas hanya dengan memikirkan tindakan macam apa yang sebaiknya diambil.

"aku pulang," mata Hani langsung tertuju ke arah pintu. Junhyung menghampiri Hani dengan wajah murung dan langsung saja bersandar di bahunya. Tidak biasanya Junhyung akan bersikap seperti ini.

"ada apa?" Hani menyuapkan sesendok es krim pada Junhyung yang terlihat lelah.

"entah aku akan menceritakannya atau tidak," Junhyung memakan ice cream yang disodorkan Hani dan menutup matanya. Dia benar-benar.... lelah.

"kenapa? Ada apa memangnya?" kekehan Hani membuat Junhyung duduk bersandar pada kursi. Kembali Junhyung meningat bagaimana managernya itu bergelayut manja di lengannya. Saat bibir managernya menempel pada pipinya menginggalkan bekas yang rasanya sangat aneh. Entah ada apa, rasanya sangat berbeda dengan ciuman Hani. bahkan Junhyung masih bisa merasakan bibir managernya menempel di pipinya.

Junhyung merebut ice cream Hani dan memakannya dengan wajah frustasi. Bagaimana bisa seorang pria mencium pipinya? Walaupun hanya sekilas, namun itu benar-benar mengerikan bagi Junhyung. Saat mengingatnya, Junhyung bergidik ngeri bagaimana wajah kasmaran managernya yang sangat aneh. Ini membuatnya gila. Ini sangat gila. Junhyung terus memasukkan sendok demi sendok es krim dan mencoba melupakan kejadian tadi. Junhyung tiba-tiba berteriak keras saat Yongjun menjilat pipinya, seketika Hani terlonjak kaget diikuti dengan Yongjun yang berlari pergi.

"kenapa Jun? Ada apa?" Hani merengkuh pipi Junhyung mencoba menenangkannya. Junhyung masih melihat wajah khawatir Hani sambil mengatr nafasnya.

"ah... hidupku sudah dirusak olehnya," Junhyung menggenggam tangan Hani dan menengadah.

"ceritakan padaku, Jun. Kau aneh sekali," Hani terkekeh pelan melihat Junhyung yang terlihat frustasi.

"kau ingat tentang kupon hadiah setiap pembelian di kafe?" tatapan Junhyung yang terlihat begitu hampa membuat Hani terkekeh pelan. Perlahan dia mulai memahami apa yang dialami Junhyung mengingat dia membahas kupon untuk mengencaninya itu.

"kau akan tertawa saat mengetahui siapa pemenangnya," Junhyung kembali dengan posisinya yang menengadah, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.

"tidak, aku tidak akan tertawa. Siapa pemenangnya?"

"tidak, kau akan menertawakanku."

"aku tidak akan tertawa, sungguh."

"pemenangnya adalah managerku sendiri. Dia bahkan mencium pipiku," jawab Junhyung santai.

MineWhere stories live. Discover now