PART 7

95 8 1
                                        


"kamar mandinya disana, sudah ada handuk didalam." Dujun menunjuk sebuah ruangan dipojok rumah sambil melepas dasinya.

Hani mengangguk sambil menatap Dujun yang juga menatapnya. Dujun terus melayangkan sebuah senyuan pada Hani dan Hani membalasnya.

"kau butuh baju ganti?" tanya Dujun.

"tidak aku bisa memakai bajuku lagi,"

"hmm, nikmatilah." Dujun kemudian berjalan kelantai atas dengan bersemangat.

Hani hanya celingukan ditempatnya, dia sedang memandangi rumah Dujun dengan penerangan yang terasa begitu hangat. Hani kemudian mulai berjalan berkeliling rumah, dia menikmati suasana rumah Dujun yang begitu disukainya. Entah kenapa rumah ini terasa sangat nyaman walaupun tak seluas rumah Junhyung.

Junhyung. Nama itu kembali terngiang diotak Hani dan membuatnya kembali bersedih. Dadanya kembali terasa sesak dan dia kembali merasa kosong.

"Hani?" panggilan Dujun itu membuat Hani terlonjak, segera Hani membalikkan badannya menghadap Dujun yang ternyata sudah mandi dan berganti pakaian.

"rumahmu sangat nyaman," ucap Hani dengan sebuah senyuman.

"yah, sayangnya aku masih sendiri dirumah senyaman ini," Dujun kemudian terkekeh geli.

Guk guk guk

Hani segera berlari dan memeluk Dujun karena suara gonggongan anjing yang sangat keras dari belakangnya. Harusnya yang dipeluknya adalah Junhyung karena ini adalah refleksnya saat dia ketakutan. Hani akan memeluk Junhyung erat sampai rasa takutnya menghilang. Kembali Junhyung yang muncul.

"ah, mm... maaf," Hani segera melepaskan pelukannya dan mencari sumber suara. Dujun masih tak mampu berkutik karena perbuatan Hani barusan. Dujun kemudian menggeleng pelan dan berjalan mengikuti Hani.

"itu anjing peliharaanku," Hani menempelkan pipinya pada kaca besar yang memisahkan linkungan rumah dan halaman belakang tempat anjing itu.

"besar sekali, berapa lama kau sudah memeliharanya?" tanya Hani polos.

"sejak lulus SMA? Entahlah aku sudah lupa, tapi dia sudah lama sekali bersamaku," jelas Dujun.

Anjing itu kemudian mendekat kearah mereka dan duduk didepan kaca. Anjing itu terus memperhatikan Hani yang juga memperhatikannya.

"dia manis sekali," Hani menempelkan tangannya pada kaca itu seakan ingin menyentuh anjing yang duduk didepannya.

"mm... sebenarnya, ini bisa dibuka." Dujun kemudian menggeser kaca itu yang ternyata adalah sebuah pintu untuk ke halaman belakang.

Setelah pintu itu terbuka, Hani segera saja menyentuh anjing itu. Hani mengelus anjing itu dengan gemas karena anjing ini begitu manis.

"siapa namanya?"

"aku tidak akan memberitahukan namanya karena akan sedikit terasa memalukan," Dujun tertawa kikuk dan ikut berjongkok bersama Hani.

"beritahu saja,"

"tidak, aku terlalu malu,"

"ayolah, jun." Hani kemudian melotot mendengar suaranya sendiri yang memanggil Dujun dengan panggilan pria itu.

"baiklah, tapi kau tidak boleh tertawa. Namanya adalah john."

"apa?" Hani mulai tertwa mendengar siapa nama anjing ini. yah, Dujun memang menyukai nama-nama yang terkesan dari luar negeri.

"ya, namanya john. Sebelumnya aku memberinya nama mickel yang sebelumnya theodore yang sebelumya lagi nicolas," jelas Dujun. Hani masih berusaha menahan tawanya untuk menghargai cerita Dujun.

MineWhere stories live. Discover now