Junhyung terus saja memandangi Hani yang berbaring disampingnya. Tak ada suara apapun diantara mereka, mereka berdua hanya terus bertatap dalam kamar mereka. Junhyung masih menikmati bagaimana mata coklat Hani berkilau terkena cahaya matahari yang menembus melalui jendela, sementara Hani masih memandangi wajah suaminya.
Tangan Junhyung menarik Hani agar lebih dekat dengannya dan mulai mengambangi tubuh Hani. Perlahan Junhyung mendekatkan wajahnya pada wajah Hani sementara Hani hanya menutup matanya seiring dengan wajah Junhyung yang semakin dekat. Junhyung berhenti saat hidungnya bersentuhan dengan hidung Hani dan membuat Hani membuka matanya.
"aku akan sangat merindukanmu," mendengar ucapan Junhyung itu, Hani tersenyum dan membiarkan Junhyung menciumnya lembut.
Kedua tangan Junhyung bergerak menelusup ke punggung Hani dan menumpukan tubuhnya pada tangan. Mengecup dan melumat bibir Hani yang terasa begitu manis karena lip balmnya. Hani hanya menikmati setiap perlakuan Junhyung, terus menutup matanya dan menyisir rambut lebat Junhyung dengan jemarinya.
"mhh..." desahan Hani tak tertahan saat Junhyung kembali mendaratkan ciuman panasnya pada leher Hani. Hani tidak pernah bisa bertahan jika Junhyung sudah mengecup lehernya.
Kepala Hani berpaling ke kanan dan kekiri bahkan terkadang mendongak untuk memberikan ruang bagi Junhyung. Tubuh Hani melenting mendekatkan dirinya pada Junhyung, memberikan Junhyung kebebasan atas diri Hani. Merasa mendapat persetujuan, Junhyung tetap melanjutkan aksinya dengan membuat kissmark di leher Hani, yang entah akan hilang atau tidak besok.
"Junh..." kembali Hani mendesah begitu Junhyung mencoba menurunkan kaosnya dengan mulutnya. Nafas Junhyung yang terengah-engah menerpa kulitnya memberikan sensasi panas yang entah kenapa membuat Hani gila.
"kau sangat menyukainya?" Hani tertawa pelan dan bergerak melepas kaos kebesarannya, dengan senang hati Junhyung membantu Hani melepaskan bajunya.
"Jun! Hentikanh... ah... geli!" Hani menggelinjang karena Junhyung yang tiba-tiba mengecup setiap inchi lehernya hingga ke belahan dadanya.
0o0
Junhyung mengerjapkan matanya dan segera mencari Hani yang sudah menghilang dari sisinya. Junhyung mencoba mengumpulkan kesadarannya dan bergerak mencari Hani, entah kemana perginya gadis aneh itu.
Begitu keluar dari kamar, Junhyung mendengar suara nyanyian Hani yang tidak begitu merdu -tidak sama sekali. Akhirnya Junhyung mencari sumber suara dan menemukan Hani sedang memasak di dapur. Rambutnya tergelung ke atas membuat leher jenjangnya terekspos, juga beberapa bekas yang ditinggalkan Junhyung.
"oh, sudah bangun?" mendengar suara manis Hani itu, Junhyung tersenyum malas dan berjalan mendekati Hani yang sedang sibuk dengan masakannya.
"kau berangkat hari ini dan kau malah memasak?" Junhyung melihat apa yang dimasak Hani dan mencicipinya. Lidah Junhyung terluka begitu merasakan rasa asin yang sangat gila.
"gwenchanha~ ini makanan kesukaanmu, loh." Hani menyusul Junhyung dan merebut sendoknya, berniat mencoba makanan yang dibuatnya.
"mau apa kau?" mendeteksi niatan Hani, Junhyung segera menahan tangan Hani dan menggenggam tangannya erat.
"mau apa lagi memangnya?"
"ini sudah sangat enak, kau tidak harus mencicipinya," Junhyung mengecup pipi Hani dan mendorongnya agar menjauhi makanan terkutuk itu.
YOU ARE READING
Mine
FanfictionAku mencintaimu yang bahkan lebih buruk daripada iblis. Bukan dengan kelembutan dan kenyamanan, namun dengan sejuta rasa pedih juga amarah.
