PART 24

30 5 0
                                        


"ah, melelahkan sekali," Junhyung sudah berhasil mencapai balkon kamar Hani dan mencoba untuk mengatur nafasnya.

Dengan jelas Junhyung mendengar suara Hani yang terus memanggil namanya dengan nada khawatir. Dia sangat tidak tenang sampai berjalan kesana-kemari. Pintu ke balkon itu terbuat dari kaca, dan Hani tidak menutup tirainya, Hani terlihat begitu lucu saat dia ketakutan.

"Junhyung-ah... kenapa kau diam saja. Aduh, apa yang harus aku lakukan," karena frustasi, akhirnya Hani malah menangis. Junhyung tak segera mengeluarkan suara dan membuat Hani semakin khawatir.

Junhyung membuka pintu geser itu pelan membuat Hani menoleh dan benar-benar terkejut sekaligus marah. Junhyung hanya tertawa pelan sambil menghampiri Hani dan memeluknya, membiarkan Hani menangis. Sesekali Junhyung mencium Hani agar dia berhenti sesenggukan dan menatap wajah Junhyung.

"kau jahat sekali! Aku hampir mati kebingungan!" Hani memukuli Junhyung kesal sambil menahan suaranya. Takutnya ada penjaga yang lewat dan mendengar suara Hani.

"mianhae." Junhyung akhirnya hanya menerima pelukan dari Hani dan tetap menepuk punggungnya pelan. "Kau tidak ingin melepaskan aku?"

"tidak." Jawab Hani ketus. "kau harus mendapatkan hukumanmu," Hani mendorong Junhyung perlahan ke kasurnya, menindih tubuh Junhyung sambil mendusal ke ceruk lehernya.

"aromamu benar-benar berbeda," ucap Junhyung sambil memeluk Hani dan mencium rambutnya. Aroma Hani benar-benar berubah menjadi aroma seorang pria, aroma Junhyung. Mengerikan sekali.

"aku suka aromamu yang dulu," seketika Hani bangkit dan menuduki tubuh Junhyung. Memandangnya dengan wajah kesal.

"jadi kalau aromaku berubah kau tidak mencintaiku lagi? kau ini manusia atau anjing memangnya?" Hani memukuli dada Junhyung pelan hingga akhirnya Junhyung menggenggam tangannya.

Junhyung menarik tangan Hani agar Hani kembali mendekat padanya. Junhyung mendekatkan wajah Hani ke wajahnya dan Hani menyadari maksud Junhyung, Dia mendekatkan wajahnya ke Junhyung.

Tok tok tok

"Hani! Hani kau di dalam?!" mendengar teriakan itu, Hani melotot dan segera menjauh dari Junhyung.

Junhyung kebingungan mencari tempat bersembunyi semantara Hani sibuk merapikan dirinya, situasinya berubah menjadi kalang kabut. Akhirnya Hani menjejalkan Junhyung ke dalam lemarinya dan segera membuka pintu, menemui siapa yang mencarinya.

"oh! Daseul. Ada apa? Maaf aku barusaja mandi," ucap Hani berbohong. Diluar dugaannya Daseul justru masuk ke kamarnya dan melihat sekelilingnya.

"entah kenapa kamarmu terasa lebih luas. Di kamarku, aku harus berbagi dengan tiga orang." –semua karena Junhyung membayar uang sekolah Hani tiga kali lipat. Daseul berhenti dan menatap lemari. "kau pasti memiliki lemari yang luas juga."

"oh! Daseul! Jangan dibuka. Aku belum merapikannya, hehe." Hani mendorong Daseul menjauh dari lemari itu. Hani mengajak Daseul kembali keluar.

"sebenarnya aku kemari karena ingin memberikan seragammu. kau sedang tidak ada jadi mereka memberikannya padaku. Kau tahu kapan ini dipakai, kan?" Hani mengangguk paham. 

Akhirnya Hani bisa bernafas lega setelah Daseul pergi dan tiga pasang seragam itu sudah ada di tangannya. Hani menutup pintu dan meletakkan seragam itu di kasurnya, sengaja tidak segera membuka lemari, dia berniat mengerjai Junhyung.

Hani langsung saja berbaring ke kasurnya dan menyelimuti dirinya. Berusaha untuk tidur dan membiarkan Junhyung tetap berada di dalam lemari itu. Hani dibuat terkejut setelah seseorang menaiki kasurnya dan perlahan menindih tubuhnya. Begitu Hani membuka matanya, dia mendapat sebuah senyuman dari Junhyung.

Mereka berdua saling menatap hingga akhirnya Junhyung kembali berniat mencium bibir Hani. Hani sepertinya tidak mempermasalahkan itu dan hahya menutup matanya perlahan, menunggu Junhyung mencium bibirnya.

"Hani!"

Gdubrak

Seketika Hani terduduk setelah Junhyung menggulingkan tubuhnya hingga terjatuh. Jantung Hani berdebar begitu kencang namun dia berusah auntuk tetap tersenyum sekalipun wajahnya menjadi begitu aneh.

"wae?"

"aku melupakan kartu ini," Daseul melemparkan sebuah kartu beserta wadahnya dan melambaikan tangannya kemudian berlalu pergi begitu saja.

Begitu pintunya tertutup, Hani langsung melihat keadaan Junhyung yang terjatuh. Pasti sakit sekali, walaupun wajah Junhyung menunjukkan jika dia biasa saja, namun mengingat suara jatuhnya yang begitu keras, Hani yakin Junhyung kesakitan.

"sakit sekali, ya?" ucap Hani khawatir sambil mengelus belakang kepala Junhyung.

"entah kenapa mencium istri sendiri terasa seperti dosa besar disini," Junhyung duduk di tepian kasur Hani dan mengelus pipinya perlahan. Menatap wajah Hani yang tersenyum manis.

Junhyung menarik hani kepelukannya dan menyandarkan dagunya pada bahu Hani. Junhyung sudah kecanduan dengan pelukan Hani. Bahu kecil Hani terasa lebih nyaman daripada seribu bantal. Belum lagi jika Junhyung menghirup aroma Hani, aroma bunga lavender dengan sedikit citrus, benar-benar bisa menenangkan Junhyung.

Hingga sesi pelukan itu berakhir, Hani masih terus menatap Junhyung yang entah kenapa terasa sedikit berbeda. Junhyung tidak pernah tersenyum manis selama ini untuknya, dan Hani sedikit penasara apa yang sedang terjadi.

Sementara Hani memikirkan Junhyung, Junhyung sendiri benar-benar bingung. Menikahi gadis lain akan membuat Hani sakit hati, namun jika sesuatu terjadi pada Hani, itu akan jadi lebih buruk. Taewoo bisa saja menculik Hani membawanya ke tempat terpencil dan membunuhnya tanpa sepengetahuan Junhyung, Menikahi gadis ular itu sepertinya menjadi satu-satunya jalan.

0o0

Haera sedang berdiam diri di kamarnya, bersama dengan cahaya dari lampu balkon. Dia merasa begitu sedih, bagaimana Junhyung menolak dirinya yang tak kurang satu apapun demi seorang gadis yang jauh berada di bawahnya. Sepertinya hanya gadis itu yang dilihat oleh Junhyung, hanya dia satu-satunya.

Maksudnya, apa salah Haera hingga Junhyung bahkan tak mau melihatnya? Apa yang membuat Junhyung seperti itu? Memikirkannya saja membuat Haera semakin marah. Ada apa sebenarnya dengan gadis itu? Apa bagusnya dia?

Merasa semakin pusing, akhirnya Haera hanya bisa menangis mengingat Junhyung yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Siapapun juga akan marah jika terus saja ditatap seperti itu, dan Haera bahkan tidak mengerti kenapa dia mendapatkannya. Dia bahkan tak memiliki kesempatan untuk mendengar kesalahannya dan meminta maaf.

Memang, Haera begitu menginginkan Junhyung sampai melakukan apapun untuk itu, hanya saja Junhyung yang mengusiknya duluan. Jika saja Junhyung tidak bersikap sebegitu ketusnya, Haera tidak mungkin mengambil tindakan.

Kini otak Haera hanya tertuju pada Junhyung, pada cara untuk memilikinya dan menggenggamnya erat. Hal itu bisa terwujud dengan mudah jika Junhyung bisa melepaskan Hani, selamanya.

"nona," pintu kamar Haera terketuk dan muncullah seorang pelayan membawa beberapa makanan untuk Haera. Pelayan itu menaruh nampan berisi semangkuk sup, nasi, juga beberapa lauk yang sepertinya sama sekali tidak menarik perhatian Haera.

"anda belum makan apapun sejak pagi,"

"keluar," segera pelayan itu keluar meninggalkan Haera sendirian.

Haera mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang yang sering dihubunginya. Beberapakali Haera menghubungi nomor itu, namun tak ada jawaban. Hingga setelah ketiga kalinya Haera menelepon, ada jawaban dari sana.

"cari gadis itu, sampai dapat." 

MineWhere stories live. Discover now