ZEVA POV
Setelah saling mengucapkan selamat malam dengan sedikit canggung, kami memasuki unit kami masing-masing. Aku menyenderkan tubuhku di pintu setelah menutupnya. Siapa sangka, sih, kalau tetangga depanku adalah Alba?
Sejak kapan dia bertempat tinggal di situ? Aku kira unit di depanku itu kosong, karena memang tak pernah kulihat siapapun keluar atau masuk. Mamaku benar-benar nggak hoki banget milih unit.
Aku bergegas masuk ke kamar, membersihkan diri lalu bersiap untuk tidur karena aku capek banget. Setelah selesai mandi dengan air hangat, aku bergegas untuk istirahat. Begitu sudah nangkring di atas tempat tidur dan bergelung di bawah selimutku yang hangat, mataku malah tak kunjung terpejam.
"Shit, the coffee," desisku menyadari efek dari kopi hitam yang kuminum beberapa jam tadi. Alih-alih memaksakan diri untuk tidur, aku memutuskan untuk mengambil gawaiku lalu berselancar di sosial media. Seharian ini aku tidak berhubungan dengan sosial media apapun.
Saat membuka aplikasi instagram, aku jadi terpikir untuk mencari profil seseorang, sedikit kepo. Aku mengetikkan 'Alba' di kolom pencarian, dan setelah itu muncul banyak sekali akun yang tidak kuketahui.
Hm, nama panjang dia siapa, sih? Terlalu banyak akun dengan nama Alba, dan tak ada tanda-tanda akun milik Alba si arsitek tetangga depan bermulut tajam itu. Apa rekan-rekan kerjaku mggak ada yang nge-follow dia? Atau jangan-jangan dia nggak punya instagram? Ah, bisa jadi sih.
Aku buru-buru menghapus namanya dari kolom pencarian karena tak kunjung menemukan akunnya.
Beberapa belas menit berlalu, tapi mataku tetap saja rasanya tak ingin terpejam. Yang bisa kulakukan hanyalah bernapas dan berkedip-kedip nggak jelas. Semoga saja aku bisa lekas tertidur.
***
Kakiku melangkah dengan cepat melewati lobby kantor. Nggak bisa dipungkiri kalau aku hampir saja terlambat. Maka mau nggak mau aku harus mempercepat langkahku. Suara ujung high heels yang kukenakan terdengar sangat jelas beradu dengan lantai. Rambutku yang kubiarkan terurai sedikit berkibar. Jiah, bendera kali ya berkibar?
Pagi ini aku memang terbangun sedikit kesiangan dari biasanya gara-gara insomnia yang kualami tadi malam. Dan parahnya lagi sekarang kepalaku masih agak pusing.
Aku berjalan di belakang segerombolan bapak-bapak berjas hitam yang sepertinya hendak memasuki lift juga. Tapi ternyata mereka memasuki lift khusus para eksekutif. Jadi bisa kusimpulkan kalau mereka itu adalah petinggi-petinggi Mandala.
Begitu aku memasuki lift yang terasa sangat sesak di pagi hari begini, aku memencet tombol lima.
"Eh, denger-denger mau ada penggantian direktur utama ya?" celetuk lirih seorang perempuan pada teman di sebelahnya. Mataku melirik kanan kiri dengan smooth, telingaku kupertajam demi mendengar gosip yang sekiranya sedang hits di kantor. Meskipun aku termasuk pegawai baru, aku tetap harus tahu gosip-gosip dalam kantor. Karena pada dasarnya, perempuan tanpa gosip itu ibarat pistol tanpa peluru.
"Ah, iya? Denger dari siapa lo?"
"Gue denger dari orang-orang. Kabarnya makin santer aja, dan banyak nama-nama yang disebut-sebut bakal jadi calon dirut."
Hmm, menarik.
"Siapa aja?" Tanya perempuan satu lagi. Lift berhenti di lantai lima, pintu lalu terbuka. Mau nggak mau aku harus segera keluar. Yah, padahal baru saja aku akan tahu nama-nama yang kira-kira jadi kandidat direktur utama, eh malah sudah sampai di lantai lima aja.
"Pagi semuanya," sapaku pada rekan kerjaku yang masih sedang duduk di ruang santai untuk mengobrol hangat. Mereka terlihat menikmati minuman pagi mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Interlocking
ChickLitZeva tidak tahu ini semua salah siapa. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa ia bisa terjerumus ke dalam kehidupan seorang Alba, arsitek bermulut tajam dengan kalimat-kalimat tegasnya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ternyata dia lah yang justru me...
