Karena rankingnya naik (meskipun hanya seuprit), jadi saya putuskan buat post chapter ini lebih cepat. Wkwkw motivasi macam apa ini akwk
======♡♡♡======
ZEVA POV
Setelah berhasil melalu beberapa hari yang membosankan, akhirnya hari ini datang juga. Ya, hari ini aku akan mengikuti interview di sebuah perusahaan arsitek terkemuka di Indonesia, Mandala Architeam. Siapa deh yang nggak tahu perusahaan yang bergerak di bidang arsitektur dan interior design ini?
Mandala Architeam ini adalah perusahaan yang menurutku oke punya. Nama, reputasi, kualitas, udah oke semua. Maklum lah, mereka ini perusahaan senior di bidang arsitek dan interior design.
Selain itu, Mandala Architeam juga sudah bertahun-tahun bekerja sama dengan Hefranz Group dalam pengembangan properti seperti hotel, apartemen, resort, dan lain-lain. Tapi, jangan salah. Dalam rangka pendaftaranku sebagai pegawai Mandala Architeam, aku sama sekali nggak menggunakan kekuasaan papa. Aku benar-benar berjalan sendiri, tanpa sokongan dari siapapun, tanpa main jalur belakang.
Dulu, sebelum aku melanglang buana bekerja di Singapura, aku sudah direkomendasikan untuk bekerja di Mandala Architeam (dengan kekuatan tak kasat mata tentunya). Dan sekarang aku akhirnya apply job di sini, dengan kemampuan yang kupunya. Kini aku sudah cukup percaya diri dengan kemampuan serta pengalaman kerjaku.
Kalau kalian mengira aku adalah seorang arsitek, berarti kalian salah. Apalagi kalau mengira aku adalah seorang interior designer, salah lagi. Aku adalah seorang drafter. Apa itu drafter? Tidak pernah mendengar ya? Kasarannya, aku ini juru gambar, tukang gambar, atau apalah itu disebutnya. Tapi, bahasa kerennya adalah drafter. Lebih khususnya, aku ini adalah seorang architectural drafter.
So far, kerja jadi drafter itu gampang-gampang susah. Selama ini aku bekerja di Singapura, aku sudah menemui berbagai macam dan karakteristik arsitek. Mulai dari laki-laki-perempuan, tua-muda, otak statis -otak dinamis, kaku-luwes, baik-jahat, dan masih banyak lagi.
Aku keluar dari kamar mandi setelah memastikan bahwa penampilanku sudah prima untuk proses interview sebentar lagi. Aku berjalan dengan bahagia, mencoba menyimpan energi positif yang kumiliki saat ini dengan sebisa mungkin tersenyum, walau tipis-tipis. Di dalam lift, aku memencet nomor 8, lantai di mana terdapat ruangan tempatku akan melakukan interview. Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan.
Sebelum pintu lift tertutup, seseorang tiba-tiba menyela, sehingga pintu lift kembali terbuka. Lift yang berisi beberapa orang itu menjadi penuh setelah tiga orang laki-laki masuk. Mataku sukses melotot dengan lebarnya saat aku melihat salah seorang dari tiga orang yang baru saja masuk lift. Seseorang yang tidak familiar, tapi aku yakin aku pernah bertemu dengannya.
Astgahfirullah, Ya Allah, ngapain dia di sini?
Aku spontan membuang muka sembari menunduk agar tak terlihat oleh laki-laki itu. Laki-laki itu adalah Alba, ya ampun, iya Alba. Mataku masih sangat sehat sehingga aku tak mungkin salah lihat. Astaghfirullahalladzim, dia ngapain ada di sini? Aku pun mulai didera kepanikan.
Saat beberapa orang turun di lantai 3, tinggalah lima manusia tersisa. Aku, seorang perempuan seumuranku, dan tiga orang laki-laki, termasuk Alba. Ketiga laki-laki itu bercakap dengan lirih, namun aku masih bisa mendengarnya.
"Kali ini kayaknya saya nggak bisa ngasih maaf ke kamu," kata Alba pada laki-laki di sebelahnya dengan intonasi yang datar, entah untuk laki-laki sebelah kiri atau kanannya. Kepalanya bahkan tidak menoleh. "Aku benar-benar nggak menyukai amatiran," sambung Alba. Suaranya terdengar sangat dingin, sedingin dinding lift yang kubuat senderan saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Interlocking
ChickLitZeva tidak tahu ini semua salah siapa. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa ia bisa terjerumus ke dalam kehidupan seorang Alba, arsitek bermulut tajam dengan kalimat-kalimat tegasnya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, ternyata dia lah yang justru me...
