Chapter 5 • Rings

2.9K 545 91
                                        

Hari tengah berganti malam dan selama itu pula Park Jihoon masih berada di kediaman keluarga Oh, rencananya ia akan menunggu supirnya untuk menjemput dirinya tetapi orang itu tak kunjung memperlihatkan ujung batang hidung.

Langsung saja hal ini di gunakan oleh Luhan, ia meminta atau lebih tepatnya memaksa Jinyoung untuk mengantar Jihoon pulang, mau tak mau anaknya pun ikut menurut.

Setelah itu, Jinyoung menyambar kunci motornya di nakas hitam tersebut dan mengambil helmnya lalu membawa benda itu ikut bersamanya. Pemuda berkepala kecil tersebut menuntun tungkai panjangnya menuruni anak tangga satu persatu, akan tetapi dirinya di hentikan oleh suara dari ayahnya.

"Pake mobil aja, angin malem gak bagus apalagi buat Jihoon" mendengar ucapan itu Jinyoung memutar bola matanya malas. Lalu, dirinya kembali masuk ke kamar untuk mengambil kunci mobil. Sebetulnya Jinyoung lebih suka memakai motor kemana-mana, karna dengan kenderaan roda dua itu lebih mempersingkat jarak dan waktu.

Ngantar dia aja harus pake mobil cih

Setelahnya, Jihoon berpamitan kepada kedua orang tua Jinyoung dan jangan lupa si bungsu yang telah menemaninya sedari tadi, Ziyu.

Kemudian Jihoon melangkah pergi ke depan rumah, menunggu Jinyoung yang lagi memanaskan mesin mobilnya. Jujur saja, Jihoon tak enak harus di antar oleh Jinyoung, dirinya bisa menggunakan taksi untuk pulang tetapi Luhan terus memaksanya untuk diantar oleh calonnya itu.

Hanya berselang beberapa menit, Jihoon telah masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengamannya. Lalu, Jinyoung menginjak pedal gas tersebut perlahan dan mulai berlalu dari pekarangan rumahnya.

Kini kenderaan beroda empat itu tengah membelah jalanan dengan Jinyoung yang menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata sedangkan Jihoon lebih memilih memainkan ponselnya ketimbang harus membuka percakapan diantara mereka, karna memang tidak ada yang harus dibincangkan.

10 menit telah berlalu, baik Jinyoung dan Jihoon masih asik terhanyut dalam pikiran masing-masing. Sampai akhirnya..

“Lo jangan lupa kesepakatan kita tadi..” kemudian Jihoon bergumam ria tanpa ada niatan untuk menoleh kearah sang lawan bicara.

Ddrrrtt Ddrrrtt

Ponsel Jinyoung bergetar di saku celana pendeknya lalu ia mengambil benda itu dengan tangan kirinya sedangkan tangannya yang lain masih berada di atas stir bulat tersebut. Jinyoung melihat layar yang sedang berkedip-kedip dan ternyata itu sebuah panggilan masuk dari seseorang langsung saja ia menggeserkan jarinya di tombol berwarna hijau itu dan menempelkan benda tersebut di daun telinganya.
 

“Halo sayang. Bisa jemput aku sekarang kan? Aku tunggu di kampus ya. Byee i love you”

Belum sempat Jinyoung mengatakan salamnya kepada si penelfon tetapi yang di seberang sana telah mematikan panggilan itu secara sepihak. Sebetulnya Ahn Hyungseob yang berperan sebagai kekasihnya itu tak mau menerima penolakan dari Jinyoung. Maka dari itu sebelum Jinyoung banyak alasannya ia lebih memilih untuk melakukan hal tersebut.

Kemudian Jinyoung kembali memfokuskan maniknya di jalanan lagi tetapi tiba-tiba saja ia menginjak rem secara mendadak dan itu mampu membuat Jihoon terkejut di tempatnya.

“Turun” ucap Jinyoung tanpa melihat kearah lawan bicara.

“Loh kok tiba-tiba..”

“Gue harus jemput si tuan putri. Jadi lo turun aja disini”

Jihoon geram, ia menuntun maniknya untuk menatap Jinyoung tajam lalu mengepalkan kedua tangannya.

“Eh liat-liat juga dong kalo mau nurunin orang! Ini masih di jalan tol!” ucap Jihoon, suaranya naik satu oktaf saat ini, ia kesal bukan hanya masalah di turunin tetapi mobil itu masih berada di jalan tol yang sepi akan kenderaan di tambah di kedua sisi mereka hanya terdapat ladang kosong dan hanya lampu jalanlah yang menerangi sekitaran jalan tersebut.

The worst weddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang