Chapter 8 • D-1 Honeymoon

2.9K 546 107
                                        

Setelah adegan manis yang secara tiba-tiba terjadi begitu cepat, Jinyoung melepaskan pelukkannya lalu menghadap dan menatap lurus ke jalanan. Sedangkan Jihoon telah berhenti menangis lalu memalingkan wajah untuk tidak melihat wajah pemuda di sampingnya itu.

"Hm.. lo jangan salah paham, itu emang cara gue buat nenangin orang lain apalagi kasus ka--"

"Makasih ya" pemuda manis itu menoleh sebentar kearahnya dan tersenyum tipis. Hal itu membuat Jinyoung terdiam sejenak lalu ia bergumam kecil, arti lain dari sama-sama.

Rencananya untuk bermalam tahunan di festival kampus harus terpaksa dibatalkan, bukan hanya karna Jihoon akan tetapi acaranya akan segera selesai jadi ia memutuskan untuk pulang kerumah saja. Soal Hyungseob, ternyata kekasihnya itu sedang berada di club bersama teman-temannya, satu hal yang Jinyoung takjub akan Hyungseob yaitu kekasih tersebut mengerti keadaan Jinyoung yang tak bisa menjemputnya akibat mobilnya yang mogok, tentu saja itu hanya akal-akalan si pemuda itu.

Kemudian Jinyoung segera menancap pedal gasnya perlahan, membelah jalanan kota yang masih sangat ramai, untung saja tidak semacet tadi.

***

Sesampainya dirumah, Jinyoung meminta Jihoon untuk turun terlebih dahulu lalu dirinya memarkirkan mobil di garasi kemudian pergi berjalan ke pekarangan rumah.

"Loh ini mereka pergi juga?" tanya Jinyoung yang melihat Jihoon terus mengetuk pintu namun tak ada yang menyaut. Untung saja kemana-mana Jinyoung selalu membawa kunci cadangan rumah, setelahnya, kedua pemuda itu masuk dan menuju kamar.

Kini kedua pemuda tersebut merebahkan tubuh masing-masing di tempat tidur, akibat lelah yang melanda mereka, keduanya seperti melupakan fakta bahwa ini pertama kali mereka tidur bersama di satu ranjang. Kemudian Jinyoung mematikan lampu kamar dan kembali mendaratkan punggungnya di benda empuk itu.

"Jangan matiin lampunya dong gue gak bisa tidur" seru Jihoon yang berbaring tak jauh dari tubuhnya.

"Gue juga gak bisa tidur kalo lampunya nyala" lalu dirinya membelakangi Jihoon, tak tahu kalau pemuda tersebut mulai berkeringat dingin.

Sejak kecil Jihoon yang tak terbiasanya dengan suasana gelap seperti ini. Sekali ia pernah tidur tanpa lampu, malam itu juga dirinya seperti tidak bisa bergerak terlebih lagi pandangannya gelap padahal kedua matanya sedang terbuka lebar. Sebab itulah dirinya benci dengan suasana gelap.

"Jinyoung gue mohon nyalain lampunya" pintahnya lalu meringkukkan tubuhnya takut. Beberapa detik kemudian tak ada respon dari pemuda lain.

Jihoon mencoba menuntun tangannya untuk menarik baju Jinyoung pelan. "Jinyoung, lo udah tidur? Nyalain lampunya dulu dong gue takut" ia terus menarik-narik baju itu, sudah beberapa menit berlalu namun sepertinya pemuda tersebut tengah mendarat di alam mimpinya.

Tapi Jihoon tetap bersikeras untuk tidur dengan lampu yang menyala, ia terus menerus menarik baju milik Jinyung, awalnya tarikan itu pelan sampai ia menarik kasar baju itu dan "Jinyounggggg" meneriakin nama si sang suami.

Jinyoung membuka kedua kelopaknya tiba-tiba dan menyerngit dahinya kesal, lalu ia membalikkan tubuhnya dan memposisikannya berada di atas tubuh Jihoon dengan kedua tangannya yang saat ini berada di samping telinga Jihoon sebagai tompangannya.

"bisa gak jangan ganggu gue barang sekali aja" ucap Jinyoung dengan suara rendah.

Jihoon terkejut, terlebih tubuh jenjang itu sedang berada diatas ditambah nafas Jinyoung kini menerpa kulit wajahnya. Kemudian ia memalingkan wajah, "y-ya maaf lo sih pake matiin lampunya" bela Jihoon.

Dirinya bisa mendengar dengusan berat dari Jinyoung lalu tangan panjang tersebut meraih lampu tidur yang berada di sampingnya, kemudian Jinyoung menyalakan benda itu dan berlalu dari atas tubuh Jihoon. Kembali melanjutkan tidurnya yang sempat di ganggu.

***

Sehari sebelum honeymoon, Luhan meminta pasangan suami istri itu pergi ke Mall untuk membeli beberapa keperluan mereka disana nanti dan saat ini keduanya tengah melihat-lihat dan membeli keperluan masing-masing.

Jinyoung yang lebih terfokus untuk membeli beberapa pakaian sedangkan Jihoon lebih memillih untuk membeli skincare, benda-benda itu sangat diperlukan jika berliburan. Setelah itu, keduanya berjalan menuju parkiran namun tiba-tiba saja..

"Kak jinyoung?"

sosok itu berlari kecil, bahkan hampir berlari kearahnya dan langsung memeluk tubuh yang lebih tinggi. "Kak Jinyoung ngapain kesini?" lanjutnya lalu melepaskan pelukkan itu.

Jinyoung tersenyum kearahnya lalu, "nemenin dia doang" lalu menunjuk Jihoon bak menjadi nyamuk kali ini.

Seonho menoleh kearahnya kemudian melihat Jihoon dari atas sampai bawah bak menilai perawakan si manis itu. "Dia yang kemarin malem gak sih? Oh iya tumben gak jalan bareng pacarnya"

Jinyoung mengangguk, "Dia capek mau istirahat aja hari ini" lalu Seonho tersenyum tipis dan segera merangkul lengan Jinyoung posesif. "Kalo gitu temenin aku belanja ya kak.." pintahnya.

Jihoon menoleh ke segela arah, seakan menolak melihat rangkulan manja itu. "Tapi temen aku.."

"Suru pulang aja dianya, ganggu tau"

Jinyoung menoleh kearah Jihoon lalu memegang lengannya, "Lo masih mau ikut gak?", Jihoon melirik Jinyoung sebentar lalu menggelengkan kepalanya.

"Yaudah, lo tunggu gue aja di mobil, nih kuncinya" ia menyodorkan benda tersebut ke Jihoon, langsung saja dirinya pergi bersama Seonho.

Kemudian Jihoon melangkah cepat ke parkiran dan mencari mobil putih milik Jinyoung lalu masuk ke dalamnya.

"Siapa sih tuh orang.."

***

Satu jam telah berlalu, Jinyoung baru saja sampai ke parkiran bersama Seonho lalu ia mengetuk kaca mobil, menyuruh Jihoon membukakan pintu untuknya. Hal itu juga dilakukan Seonho, lalu dirinya berdiri di depan pintu mobil dengan ekspresi wajah seolah tak suka.

"Lo bisa duduk di belakang kan? Gue mau nemenin kak Jinyoung nyetir!" usir Seonho lalu menarik lengan Jihoon paksa sampai yang lebih pendek keluar dari tempatnya.

"Seonho, gak boleh gitu sama temen aku" ujar Jinyoung lalu dirinya melihat Jihoon yang sudah duduk di kursi belakang melalui kaca mobil yang berada di depan. "Hehe maaf kak, habis mukanya nyebelin sih"

Mendengar itu, Jihoon hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, memendam rasa amarahnya saat ini, dirinya lebih memilih untuk tidak mencari masalah dengan orang yang ia tak kenal.

Dalam perjalanan Seonho terus-terusan memperlakukan Jinyoung seolah pacarnya. Seperti menyuapi eskrim dan sesekali berselfie ria dengan ketua BEM di kampusnya. Tak terasa perjalanan untuk mengantar Seonho pun sudah berlalu, kini Jihoon berpindah ke tempat duduk depan tanpa membuka suaranya barang sekali saja.

"Mau eksrim gak?" tawar Jinyoung, tangan kirinya memegang cup esrim sedangkan tangannya yang lain berada di stir bulat tersebut, Jihoon melirik eskrim itu dengan ujung matanya.

"Gak"

"Yaudah kalo gak mau" lalu Jinyoung menarik kembali tangannya namun tangan milik Jihoon memberhentikannya.

"Gak nolak!" serunya tiba-tiba.

Dengan sekejap cup itu telah menghilang dari tangan Jinyoung lalu dirinya terkekeh kecil dan mendapati Jihoon yang tengah asik memakan eskrim dengan mukanya yang di tekuk.

Lucu juga kalo diliat-liat



TBC

.
.
Udah di cek berapa kali, maaf kalo nemu typonya
Iya ini singkat banget chapternya, besok gue up chapter 10 • honeymoon (1) hmm( ͡° ͜ʖ ͡°)

The worst weddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang