Chapter 4 • Face the reality

2.7K 555 102
                                        

Badan Eksekutif Mahasiswa, organisasi tertinggi di sebuah universitas dan disinilah kerajaan seorang Oh Jinyoung yang kini sedang berada di kursi kekuasaanya di temani Haknyeon yang berstatus sahabat dari ketua organisasi tersebut. Tak hanya dua pemuda itu di ruangan BEM, disana terdapat beberapa anggota BEM yang direktrut secara langsung oleh Jinyoung.

“Hwi masih lama?” tanya Jinyoung kepada sekretarisnya yang duduk tak jauh darinya, kemudian Daehwi melihat jam tangan miliknya. “Kalo lo gak bisa nunggu lebih lama lagi, yaudah kita rapatnya sama yang ada dulu sekarang” ujar Daehwi dan Jinyoung pun mengangguk menyutujui.

 
“Teman-teman kita mulai aja ya rapatnya..” Jinyoung selaku pemimpin di rapat ini mulai membuka suaranya, ia menarik buku agenda yang terletak tak jauh dari tangannya lalu membuka satu persatu lembar itu sedangkan anggota yang lain hanya bisa diam, menunggu sang ketua berbicara.

“Oh iya satu hal yang pengen gue sampein ke kalian. Kenalin ini temen gue Joo Haknyeon, dia yang akan mimpin rapat nanti kalo guenya berhalangan. Kalian tenang aja dia dapet di andalin kok tapi laporan tetap masuk ke gue, si Haknyeon cuma gantiin gue kalo ada di rapat kaya gini. Gimana kalian keberatan?” jelas Jinyoung kemudian orang-orang yang berada diruangan itu hanya menggelengkan kepala mereka, pertanda tidak keberatan atas pernyataan tersebut.

“Oke rapat event akhir tahun kita mulai. Pertama, sponsor.. ketua tim sponsor ada?”

“Si Yongguk lagi ujian Jin”

 
“Kalo gitu anggotanya mana?” Jinyoung melihat dua mahasiswa mengangkat tangan mereka “Oke, gimana perkembangannya? Kalian udah dapat berapa sponsor sejauh ini?”

Dan begitulah suasana ruangan BEM, selalu diisi dengan percakapan yang menurut mahasiswa lain sangat membosankan lebih tepatny tidak berfaedah.

***


Jinyoung menutup rapat pada hari ini kemudian ia langsung pamit ke anggotanya, pemuda berkepala kecil itu kini menuju parkiran, akan tetapi langkahnya terhenti disaat seseorang memanggil namanya. Lalu iamembalikkan tubuhnya, diri mendapati seseorang yang tengah berjalan kearahnya dengan senyuman lebar terlukis di wajah itu.

“Kak Jinyoung mau pulang nih?” tanya pemuda itu dan Jinyoung hanya mengangguk sambil senyum tipis kearahnya.
 

“Hmm kak.. bisa minta nomer WA nya gak?” yang diminta menyergit dahi tipis, mengerti akan situasi tersebut, pemuda tadi langsung menjelaskan tujuannya. “Aku niat masuk organisasi BEM dan aku mau nanya tentang organisasi langsung ke presidennya hehe”  kemudian Jinyoung pun menyutujuinya dan memasukan nomor WA nya di ponsel pemuda tersebut.

“Makasih ya kak.. oh iya kenalin, aku Yoo Seonho, mahasiswa management semester 1” ia menjulurkan tangannya dan disambut baik oleh Jinyoung dan entah sejak kapan kedua pipi Seonho sedang memerah disana dan Jinyoung bisa melihatnya.
 

Sekarang Jinyoung membelah jalanan dengan motor menuju rumah dan tiba-tiba saja otaknya langsung mengingatkan perkataan bundanya tentang pernikahan. Hal itu sudah pasti terjadi, ia setuju dengan perjodohan ini, jadi pernikahannya dengan Jihoon tak bisa dihindari. Soal Hyungseob, hubungan mereka masih sangat baik hanya saja akhir-akhir ini keduanya di sibukkan dengan kegiatan masing-masing jadi sulit untuk bertemu walau keduanya sekampus.

Kini motor itu telah masuk ke pekarangan rumah, Jinyoung melihat beberapa orang yang tengah berdiri di depan rumahnya kemudian ia memarkirkan motornya di sembarang tempat dan langsung menuju Luhan.

 
“Maaf bun aku terlambat” tak hanya Luhan disana tetapi ada Baekhyun dan Jihoon, mereka bertiga melihat Jinyoung yang sedang melepaskan helmnya. “Yaampun kamu kebiasaan deh, ini merekanya udah mau pulang” ujar Luhan dan Jinyoung membungkuk seolah meminta maaf.

“Tadi rapat gak bisa di tinggalin”
 

“Udah gak apa-apa, kesian baru sampe, gak usah dimarahin juga kali Lu. Gini aja Jihoonnya tinggal disini dulu ya nanti pak Moonbuk jemput kamu” tak usah ditanyakan lagi, langsung saja Jihoon memprotes akan hal itu, tetapi Baekhyun tetaplah Baekhyun, ia memolototi anaknya seolah-oleh member pesan lewat mata agar jangan menentang dirinya.

“Yaudah aku pergi dulu ya dan kamu Jihoon baik-baik sama calonmu” kemudian Baekhyun berlalu dari tempat dan Luhan langsung menarik kedua pemuda itu ke ruang tamu.

“Seperti yang bunda bahas tadi sama mamanya Jihoon, kalian akan nikah seminggu lagi tepatnya hari sabtu depan” ucapan itu berhasil membuat Jinyoung membulatkan matanya kaget, lalu ia melirik Jihoon dengan ekspresi seperti seseorang yang telah menyerah akan kehidupan.

“Bunda ini kecepetan banget! Kenapa gak nanya dulu ke aku? Aku belum siap jadi suami orang kalo nikahnya udah minggu depan” Jinyoung memprotes, pernikahan harusnya di bahas bersama termasuk dengannya, kalau seperti ini siapa yang tidak dongkol atas keputusan kedua orang tua mereka yang semena-mena.

“Tunggu apa lagi sih kamu? Kemarin udah naik yudisium kan? Jadi kita pergunakan libur kalian untuk ini”

“Tapi gak harus minggu depan juga. Aku ada tanggung jawab lain di kampus, bakal ribet ngurus ini itu” lagi-lagi Jinyoung melirik Jihoon dan tetap saja yang dilirik hanya berdiam diri tak mau ikut memprotes dan itu membuat Jinyoung semakin frustasi.

“Pernikahan ini kami yang ngurus semua. Ada lagi? Alasan apa lagi yang kamu sampein ke bunda?” wajah datar Luhan membuat Jinyoung langsung terdiam, kalau sudah begini, ia hanya pasrah saja dengan keadaan. “Yaudah ya penting kamu udah tau tentang. Jadi bunda istirahat dulu ya Jihoon, sana pacaran dulu sama Jinyoungnya” dan Jihoon pun tersenyum kikuk kearah calon mertuanya.
 

Si manis memberanikan diri untuk melirik Jinyoung diseberang sana, ketika mata mereka bertemu, Jihoon merasa ada kilatan tak enak di kontak mata itu, langsung saja ia melihat kearah lain, sepertinya mood Jinyoung kini benar-benar tak bagus.

Cukup lama mereka berdiam diri di ruang utama sampai ketika Jihoon dapat mendengar desahan halus dari mulut Jinyoung lalu ia melihat Jinyoung dari ekor matanya yang tengah berdiri dan menuju kearahnya.

“Ikut gue” pergelangan tangan Jihoon di tarik paksa oleh yang lebih tinggi, Jinyoung menyeret dirinya pergi ke lantai dua lebih tepatnya di kamar Jinyoung kemudian mengunci pintu itu.

“Lo hobi banget ya nyeret gue ke sini” Jinyoung melepas genggaman tangannya di pergelang Jihoon dan memposisikan diri duduk di sofa kecil.

“Kenapa? Lo takut gue jebolin lo?” Ucapan Jinyoung yang sedikit erotis itu membuat rona merah pipi Jihoon semakin menjadi lalu diri memalingkan kepala ke segala tempat.

“Cih.. tenang aja gue gak napsu sama lo” kemudian Jinyoung menyeret sofanya agar berdekatan dengan Jihoon yang sedang duduk di kasur miliknya. “Karna kita bakal nikah sabtu depan, gue mau kita harus buat kesepakatan” Jihoon menyerngit dahinya tipis dan mulai memperhatikan Jinyoung.

“Kesepakatan?” Jinyoung menangguk

 
“Yaudah. Apa?”
 

“Kesepakatan pertama, jangan ikut campur urusan masing-masing. Kedua, duit lo duit gue. Walau udah nikah gak ada yang namanya duit abang duit aku juga dan yang terakhir..” ia menatap manik Jihoon lekat sebelum melanjutkan ucapannya begitu juga dengan Jihoon, mengunci pandangannya kearah Jinyoung.


“Yang terakhir?”

 

“Yang terakhir.. hindari perasaan lebih”

 



TBC







Winkdeep getting marrieddddd🎉🎉

The worst weddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang