Chapter 20 • Pregnant?

3.3K 531 249
                                        

Mentari pagi kembali terbit dari ufuk timur membuat langit yang mendadak cerah sekaligus awan yang berubah menjadi embun-embun kecil. Perlahan si pemuda manis itu membuka kedua kelopak matanya, sedikit demi sedikit agar membiasakan pupilnya terhadap cahaya pagi.

Kemudian ia memalingkan wajah ke samping, tak seperti biasanya, kali ini ia di suguhi pemandangan tubuh Jinyoung yang tak berbalut sehelai benang pun. Hal itu di sebabkan semalaman mereka bercinta dengan gairah, ronde demi ronde mereka nikmati sehingga rasa lelah yang amat besar menggeluti keduanya.

Kini terlihat Jihoon mencoba menuntun dirinya agar menindih tubuh sang suami, dilihatnya pemuda tampan itu masih terlelap, kedua kelopaknya tertutup rapat. Lalu dirinya mempersempit jarak wajah mereka, Jihoon mulai membelai wajah Jinyoung lembut, jari telunjuknya menari dengan pelan di daerah itu, bermulai dari dahi lalu menurun ke hidung dan sampai di bibir tipis milik Jinyoung.

Jihoon mengamati wajah tanpa cacat itu, menelurusi setiap pahatan demi pahatan wajah, seolah ia tengah berada di sebuah pertunjukkan seni. Kemudian ia menempelkan bibir mereka, hanya menempel sampai..

“Udah mulai nakal ya” terdengar suara berat dan sedikit serak khas orang bangun, lantas Jihoon tersentak kaget, ia menjauhkan wajahnya dan memukul dada Jinyoung sekilas. “Ngagetin banget sih” timpah Jihoon, sang empuh terkekeh kecil.

Tiba-tiba Jihoon kembali merasa mual, persis seperti kejadian kemarin, langsung saja dirinya beranjak dari tempat dan pergi ke toilet, memuntahkan isi perutnya lagi dan lagi. Ini sudah terhitung hampir sepuluh kali ia seperti itu.

Setelah memakai pakaiannya tercecer di bawah, Jinyoung menyusul Jihoon untuk melihat kondisi istrinya di dalam sana, namun ketika kedua telapak kakinya berada di depan toilet, ternyat Jihoon sudah selesai dengan urusan, ia telah memakai baju handuk mandi berwarna putih.

Lalu si manis memeluk tubuh lemah Jinyoung, menjatuhkan kepalanya di dada bidang itu, Jihoon tak kuat dengan sakit yang melandainya. Yang lebih tinggi membalas pelukan tersebut dan mencium dahi Jihoon lama.

“Kita ke rumah mama ya sekarang, aku takut kamu malah kenapa-kenapa” ujar Jinyoung lembut sembari mengusap cuping telinga sang istri, lalu Jihoon mendongakkan  wajahnya.

“Kamu kan ada kuliah hari ini”

“Aku skip dulu, kamu lagi sakit gini ntar aku gak bisa konsen belajarnya” kemudian Jinyoung mengecup manis bibir sang istri dan memperat pelukan mereka.

***

Beberapa jam kemudian, sepasang suami istri tersebut telah duduk di ruang utama di kediaman keluarga Park, lebih tepatnya di rumah mertua Jinyoung.

Tujuan awal mereka hanya memberitahukan sakit yang di derita Jihoon namun entah kenapa Luhan telah menampakkan dirinya bak menunggu kehadiran kedua anaknya di ruang itu.

“Jihoon, kamu sakit apa? Apa yang dirasain?” Baekhyun dan Luhan menatap mereka antusias sembari memposisikan diri mereka duduk berhadapan dengan sepasang suami istri muda, setelah itu Jihoon melirik Jinyoung sebentar.

“Aku gak tau aku sakit apa, yang aku rasain akhir-akhir ini itu sering banget kecapean, pening juga terus kemarin mulai mual-mual sama muntah gitu Ma” curhat Jihoon

Kini terlihat ekpresi terkejut di kedua wajah orang tua mereka itu, Baekhyun dan Luhan segera menutup mulut mereka yang mengangak lebar sembari saling menatap ke satu sama lain.

Buru-buru kedua berdiri menghampiri Jihoon dengan Jinyoung di tarik keluar dari tempat oleh bundanya sendiri dan mereka saling memeluk tubuh Jihoon dari samping.

“Yaampun nak, bunda gak nyangka bakal cepat ini” ujar Luhan, ia mengelus surai cokelat milik Jihoon.

“Iya sayang, kamu udah gede ternyata!” perkataan kedua orang tua mereka malah membuat Jinyoung dan Jihoon bingung dan mengerutkan dahi mereka masing-masing. “Maksud bunda apa?” tanya Jinyoung yang tengah berdiri menghadap ketiga orang tersebut.

The worst weddingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang