Matahari tengah menampakkan dirinya dari ufuk timur, menyinari sinarnya yang hangat sampai menembus jendela kamar hotel itu tanpa salam.
Jihoon menggeliat dalam pelukan Jinyoung, perlahan ia membuka kedua kelopaknya, membiasakan cahaya masuk ke retina itu. Lalu dirinya mendongakkan kepala, menangkap Jinyoung yang masih terlelap.
Tiba-tiba otaknya kembali memutarkan adegan panas yang semalam mereka lakukan membuat rona merahnya kini menjadi tanpa aba-aba. Ia memperhatikan wajah Jinyoung yang tanpa cacat itu, setiap pahatan wajah itu benar-benar sempurna, hidung yang mancung ditambah bibir tipis yang telah menjelajahi tubuhnya semalaman. Sudah hampir sebulan dia bertemu dengan pemuda itu, namun sepertinya ia baru saja sadar kalau lelakinya begitu tampan bahkan di pagi hari.
"Pemandangan yang bagus kan.."
Jihoon tersentak kaget akibat suara berat itu, ia menundukkan kepalanya, seperti pencuri yang ketangkap basah. Lalu ia memberi sedikit ruang diantara mereka namun hal tersebut di cekal Jinyoung, pemuda itu menarik kembali tubuh Jihoon, lalu memeluknya posesif.
"Apaan sih jauh-jauh"
Jinyoung membuka matanya, menatap langsung manik indah milik Jihoon. Lalu ia mengangkat tangannya yang semula melingkari tubuh Jihoon hingga berada di pipi gembil itu dan mengusap lembut.
"Makin manis aja.."
Rona merah itu kembali lagi, ia memukul dada Jinyoung pelan, degup jantungnya tak kembali normal. "rese!" pemuda itu terkekeh kecil lalu mengecup bibir Jihoon sekilas.
"Morning kiss dari si rese"
Keduanya mengirim senyuman ke masing-masing, seolah melupakan fakta mereka dalam keadaan naked.
"Besok udah mau balik.." ujar Jihoon tiba-tiba tanpa melihat ke sang lawan bicara. Sedang Jinyoung asik menghujami dahi Jihoon dengan kecupan manisnya.
"Terus?" jawabnya santai, kemudian Jihoon mendongak, menatapnya tanpa ekpresi.
"Kencan yuk" ajak Jinyoung, peka dengan air muka Jihoon, langsung saja si manis mengangguk semangat.
Kini Jinyoung mengangkat tubuh Jihoon masuk ke kamar mandi, pemuda itu masih merasakan nyeri dibawahnya sehingga membuatnya agak sulit berjalan.
Lalu yang lebih tinggi, meletakkan tubuh Jihoon di bathtub dan ia mulai mengisi benda itu dengan air hangat dan sabun cair. Kemudian Jinyoung ikut masuk ke dalam bathtub dengan posisi Jihoon memunggunginya.
Ia menyandarkan kepala Jihoon di dadanya, memposisikan tubuhnya dengan nyaman. Lalu mulai merendamkan diri mereka.
"Ji, soal obat kemarin yang aku kasih, kamu minun berapa?" Jihoon menoleh sekilas, lalu kembali memainkan jemari panjang Jinyoung. "hmm dua. Kenapa emang?"
Jinyoung menaruh tangan kirinya di tepi bathtub dan mengelus rambut basah Jihoon. "Gak. Aku curiga aja itu bukan obat peredah mabuk" si manis menganggu mengerti.
Cukup lama mereka dalam posisi itu, sembari keduanya tertawa dengan cerita Jinyoung, sesekali pemuda itu mengecup kedua pipi Jihoon.
Merasa mulai dingin airnya, Jinyoung membasuhi tubuh Jihoon sekali lagi dan beranjak dari tempat lalu menuntun si manis keluar dari bathtub.
Kini Jinyoung tengah menyikat gigi Jihoon dengan miliknya, seolah menjadikan Jihoon menjadi tuan putri sehari. Sesudahnya, keduanya beranjak keluar dan bersiap-siap untuk kencan di hari akhir honeymoon mereka.
***
Jinyoung berperawakan celana jeans hitam panjang di balut t-shirt garis putih dan merah di tambah topi putih yang dipakainya secara terbalik, jangan lupa jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan kirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The worst wedding
FanfictionFANBOOK INI SUDAH DI CETAK [on private] Perjodohan dan menikah di usia muda, bagaikan mimpi buruk di siang hari oleh Jinyoung dan Jihoon terlebih mereka mempunyai kekasih masing-masing. Namun siapa sangka ada sesuatu yang terjadi antara keduanya? [f...
