Hari ini sudah terhitung hampir tiga minggu lamanya Jongyeon dan Jihoon tidak berkencan, keduanya tengah di sibukkan dengan urusan mereka yang seperti gunung itu. Terlebih pada kasus Jongyeon telah berstatus mahasiswa semester akhir, ia kini di geluti oleh skripsi yang menjadi akhir dari semua perjuangannya di universitas ini.
Namun berbeda dengan hari ini, tepatnya pada malam ini. Jongyeon menyempatkan waktunya untuk Jihoon, mengajak pemuda manis itu pergi ke suatu café yang menjadi tempat favorite mereka berdua untuk berkencan.
Mungkin hanya beberapa yang tahu tentang fakta ini, termasuk kedua orang tua Jihoon. Kedua pemuda itu telah menjalin hubungan sejak Jihoon masih duduk di bangku SMA dan pada juli mendatang, mereka akan masuk ke tiga tahunan. Namun sayang, hubungan mereka secara tiba-tiba di cekal oleh kedua orang tua Jihoon, entah apa alasannya..
Sekarang, kedua pemuda tersebut memposisikan diri mereka masing-masing duduk berhadapan dengan meja sebagai penghalangnya. Disana, tak ada pembicaraan khusus seperti yang terjadi di apartemen Jongyeon lalu, mereka hanya membahas seputar perkuliahan..
“Gimana kampus kamu yang baru?” tanya Jongyeon, sembari memainkan sedotan minumannya dan memutar-mutarkan benda itu di gelas kaca. “Kemarin masih ngurus registrasinya kak, besok udah bisa masuk kelas” jawab Jihoon, lalu ia mendapati anggukan kecil dari pemuda itu.
Cukup lama mereka membahas tentang itu, sampai pada Jongyeon yang perlahan menggerakkan tangannya maju, meraih jemari Jihoon dan di genggamnya kedua telapak tangan Jihoon sekaligus memberi tatapan hangat untuk pemuda itu.
“Mama nanya kabar kamu” lalu Jihoon menarik kedua ujung bibirnya, menampakkan senyuman kecil disana. “Nanya soal hubungan kita juga” perlahan senyuman itu meluntur, Jihoon tau kalau Jongyeon akan membahas persoalan yang lalu.
Kini dirasakannya genggam tangan Jongyeon semakin erat, namun tubuh Jihoon merespon aneh akan skinship itu, entah apa sebabnya, kini ia merasa canggung di sentuh oleh laki-laki lain, padahal yang di depannya sekarang itu tak lain kekasihnya.
“Kamu yang sabar ya, dikit lagi aku wisuda dan orang tua udah tau kalo aku bakal ngelamar kamu” mendengar itu, Jihoon menggigit bibir dalamnya, sepertinya Jongyeon serius dengan perkataannya kemarin.
Kali ini ia harus mengatakan yang sesungguhnya kepada Jongyeon. Mengatakan bahwa ia telah bersuami, Jihoon tak mau lagi menyembunyi fakta itu dan terus menerus berbohong kepada pemuda tersebut.
Perlahan ia menelan ludahnya sendiri, menyiapkan mentalnya terlebih dahulu kemudian..
“Kak, aku mau ngomong sesuatu” ucap Jihoon pelan, lalu Jongyeon mengangkat kedua alisnya, bak mempersilahkan Jihoon melanjutkan kalimatnya.
“Selama ini, sebenarnya aku udah—”
“Oh iya Ji aku lupa bilang ke kamu, kan dikit lagi aku bakal ujian skripsi kan, ntar dateng ya ke kampus, nyemangatin aku. Bisa kan?”
Jongyeon memotong pembicaraan Jihoon, lalu pemuda manis itu tersenyum kikuk di hadapannya dan mengangguk pelan. Langsung saja Jongyeon mengecup kedua punggung tangan Jihoon mesra dan mengelus pipi pemuda tersebut.
“Oh iya lanjut yang tadi, kamu mau bilang apa?” lanjutnya.
“Gak, sebenarnya aku udah kebelet tadi. Aku ke toilet dulu ya” Jihoon melepaskan genggam Jongyeon dan segera beranjak dari tempat.
Namun pemuda itu tak benar-benar pergi ke toilet, Jihoon menyandarkan punggungnya di dinding putih. Terlihat ada guratan cemas di wajahnya. Saat ini, ia merubah pikirannya, Jihoon belum bisa mengatakan hal itu kepada Jongyeon, pemuda itu pasti sangat di bebani oleh skripsinya. Ia takut jika hal tersebut akan semakin memembani pikiran Jongyeon dan membuyarkan fokusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The worst wedding
FanfictionFANBOOK INI SUDAH DI CETAK [on private] Perjodohan dan menikah di usia muda, bagaikan mimpi buruk di siang hari oleh Jinyoung dan Jihoon terlebih mereka mempunyai kekasih masing-masing. Namun siapa sangka ada sesuatu yang terjadi antara keduanya? [f...
