Di malam hari, waktunya orang-orang mengistirahatkan diri setelah kegiatan mereka sepanjang hari. Kini terdapat Jinyoung yang keluar dari toiletnya dengan penampakkan rambut sekaligus tubuh yang basah ditambah lilitan handuk putih di pinggangnya. Lalu, pemuda bertubuh tinggi itu melangkah mendekati lemari pakaian mereka dan mengambil baju dan celana pendeknya.
Berselang beberapa menit, ia kembali melangkah menuju ranjang yang sudah ada tubuh Jihoon yang terlentang santai diatasnya. Jinyoung menangkap sang istri yang tengah asik membaca sebuah buku dengan kedua sikunya menompang tangannya sendiri.
Kemudian Jinyoung mengambil tempat disamping Jihoon dan merabah tubuhnya disana. Ia memandang wajah Jihoon sebentar dan mendekatkan wajah mereka cepat. Lalu, pemuda itu mencium pipi gembil milik Jihoon.
Sang empu menoleh kesamping. Ia tersenyum kecil dan menaruh buku itu di sampingnya. Kemudian menggerakkan tangannya untuk memeluk lengan Jinyoung mersa. “Seneng bisa setiap hari kayak gini” tuturnya lembut.
Jinyoung ikut tersenyum, Ia mengacak rambut si manis pelan lalu mengambil ponselnya diatas nakas hitam dan memainkan benda itu. Sedangkan Jihoon hanya ikut melihat layar tersebut dan memiringkan kepalanya agar bersandar di pundak Jinyoung.
“Jinyoung..” tiba-tiba Jihoon menyahut kecil. Sang empunya nama hanya menggumam menjawab sahutan tersebut. “Jinyounggg” sahut si manis lagi, merasa ada yang aneh Jinyoung memalingkan kepalanya kesamping sedikit dan mengecup dahi Jihoon sekilas.
“Ada apa istriku?” tanyanya, namun kedua maniknya masih setia di layar ponsel membuat Jihoon kesal sendiri. Sebab, Jinyoung akan lupa waktu dan lupa diri kalau sudah memainkan game tersebut.
Lantas pemuda berwajah manis itu memutuskan untuk bergerak dan beranjak dari ranjang dan segera menyelipkan tubuhnya yang sedikit besar di antara kedua tangan Jinyoung sehingga posisi Jihoon sekarang menindih tubuh sang suami.
Ia memainkan telunjuk jarinya di dada Jinyoung, bak melukis sesuatu yang abstrak. Beberapa menit berlalu, Jihoon masih merasa di abaikan oleh suami sendiri. Kemudian ia mengangkat wajahnya sedikit dan menompangnya dengan tangan kiri.
Jihoon memandang wajah tampang milik Jinyoung, lalu ia tersenyum lebar. “Si ganteng..” ucapnya seraya mencubit gemas hidung mancung Jinyoung. Sang empu terkekeh pelan mendengar penuturan istrinya.
“Ganteng banget sih suami aku..” jemari Jihoon berahli menekan-nekan kedua pipi pemuda itu. Merasa masih terabaikan, Jihoon memukul dada Jinyoung kuat membuat yang dipukul meringis kesakitan namun tetap saja tak mengahlikan fokusnya di sebuah game ponsel tersebut. “Jinyoung!! aku di depan kamu tapi kamu malah main yang lain!” seru Jihoon marah.
“Bentar sayang, seharian aku gak main ML jadi harus push ranking dulu” Jihoon mendengus kesal. Jinyoung selalu saja begitu. Game tersebut bak seperti kebutuhannya sehari-hari membuat dirinya jengkel sendiri.
“Jadi game mu itu lebih penting dari aku?” sela Jihoon. Ia menatap tajam pemuda dihadapannya. Jinyoung melirik istrinya sekilas.
“Gak lah! Kamu kan segala-galanya buat aku yakali ini lebih penting dari kamu” kata Jinyoung lembut. Selalu saja perkataan manis itu dilontarkan dari mulutnya dengan lihai. Namun sayang hal itu tak meruntuhkan hati Jihoon.
“Kalo gitu perhatiiin aku dong disini aku pengen dibelai sama suami aku!” balasnya seraya menangkup kedua pipi Jinyoung. Segera saja Jinyoung menarik kepala Jihoon agar bersandar di dadanya.
“Nih, udahkan” Jinyoung mengusap kepala Jihoon pelan dengan pipinya, sebab kedua jemarinya masih asik memencet layar ponsel itu dengan cepat. Alhasil yang diusap semakin dibuat kesal olehnya, langsung saja Jihoon beranjak dari atas tubuh Jinyoung namun hal itu segera di cekal oleh pemuda tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
The worst wedding
FanfictionFANBOOK INI SUDAH DI CETAK [on private] Perjodohan dan menikah di usia muda, bagaikan mimpi buruk di siang hari oleh Jinyoung dan Jihoon terlebih mereka mempunyai kekasih masing-masing. Namun siapa sangka ada sesuatu yang terjadi antara keduanya? [f...
