4.Your Girlfriend ?

211 36 2
                                        

Sepanjang hari itu, Melody terus-terusan tersenyum, bernyanyi riang, bahkan tertawa pada hal yang tidak lucu sekalipun.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Melody keluar bersama chairmate nya, Leticia. Melody merasakan ada yang aneh pada sahabatnya itu, well, Leticia memang sangat pendiam, tapi hari ini dia jadi Double Pendiam. Pasti ada sesuatu, pikirnya.

"Melody"

Yang dipanggil segera menoleh, Leticia memanggilnya. "Iya Let ?"

Leticia terlihat agak ragu, ia menunduk sebentar, lalu menatapnya.

"Hati-hati" Leticia tersenyum tulus, ia menjadi terlihat sangat cantik kalau tersenyum, yang sangat jarang ia lakukan.

Melody menatapnya bingung, namun ia mengangguk. "Iya siap hehe"

"Gue pulang duluan ya"ujar Leticia, Melody tersenyum, lalu melambaikan tangan sampai Leticia tidak terlihat lagi.

Ia mengalihkan pandangannya, lalu melirik jam nya. Hari ini, ia harus pulang menaiki angkutan umum. Karena kakaknya tidak bisa menjemputnya, saat ia sedang berjalan di koridor sekolah, pintu bertuliskan "RUANG MUSIK" menarik perhatiannya. Ia menengok kekanan dan kekiri. Tidak ada orang.

Ia pun mencoba membuka pintu ruangan itu, dan ternyata tidak dikunci. Ruangan luas berisi instrumen musik itu terlihat sangat sepi, dan gelap. Tapi tidak segelap dibayangannya. Semburat matahari sore yang terpancar masuk melalui jendela-jendela besar. Hingga cahaya berwarna oranye dan jingga itu mendominasi pencahayaan ruangan.

Ia berjalan perlahan, tangannya menyusuri instrumen demi instrumen yang ia lewati.

Ini adalah tempat kesukaannya di seluruh sekolah, ia merasa sangat tenang dan bahagia disini. Jenis perasaan seperti perasaan kutu buku jika memasuki suatu perpustakaan yang penuh dengan buku.

Langkahnya terhenti didepan sebuah piano, dengan perlahan ia duduk di kursi depan piano, menyentuh permukaan hitam putih itu.

Chelsea mengajarkannya bermain piano, sehingga saat ini ia cukup mahir memainkannya.

Perlahan ia memainkan lagu Chopin Nocturne op.9 no.2 Dengan lembut, anggun, dan perlahan.

Ia memejamkan matanya. matanya, menghayati lagu itu, memainkannya penuh perasaan. Perlahan ia teringat masa lalu indahnya.

Flashback ON

"Bunda !  Ajarin Ody main pinano !"

Wanita yang ia panggil bunda itu terkekeh melihat putri nya yang baru berusia 5 tahun, matanya berbinar.

Wanita itu mengangkat Melody ke pangkuannya.

"Ody mau main piano ?"

Melody mengangguk dengan semangat.

Wanita itu mengajarinya dengan sabar, "Bunda ! Kalo ody udah gede, ody mau jadi penyanyi kaya bunda ! Dan Ody pengen jago main piano kaya bunda !!!" Seru Melody bersemangat.

Bundanya tersenyum seraya mengusap kepala putrinya dengan sayang.

Flashback OFF

Ia kembali ke dunia nyatanya, ia teringat adegan demi adegan. Dimana ia sedang bercanda ria dengan ibunya, menghabiskan waktu dengannya.

Dan saat ibunya meninggalkannya.

"Ternyata lo bisa main piano juga"

Suara itu mengembalikannya ke masa kini, ia pun menoleh kebelakang. Cowok itu, Rangga sedang menatapnya.

Melody hanya terdiam, ia sangat merindukan ibunya, lebih dari apapun.

Rangga mendekatinya, "Ayo pulang bareng gue, kita latihan lagi".

Melody berdiri dari kursi, lalu berdiri berhadapan dengan Rangga. Meskipun dalam kegelapan, ia tetap terlihat tampan seperti biasanya.

"Dimana ?"

Rangga terlihat berpikir, "Dirumah gue aja. Bokap sama nyokap gue lagi kerja, dirumah gue cuma ada abang gue".

Melody mengangguk, lagipula kakaknya juga tidak pulang malam ini.

"Eh motor lu mana ?"

"Gua bawa mobil, takut ujan lagi kayak kemaren" Rangga mendekati sebuah mobil, lalu membukakan pintunya.

"Masuk"

Melody pun segera masuk, lalu Rangga berjalan memutar. Dan menancap gas.

Lalu terdengar suatu lagu mengalun dari radio,

"Ketika ku mendengar bahwa, kini kau tak lagi dengannya.

Dalam benakku, timbul tanya

Masih adakah dia ? Di hatimu bertahta ?

Atau ini saat yang tepat untuk singgah ke hatimu

Namun...siapkah kau tuk jatuh cinta lagi"

Melody bernyanyi mengikuti lirik lagu itu,

"Meski, bibir ini tak berkata. Bukan berarti ku tak merasa, ada yang berbeda diantara kita"

"Dan tak mungkin ku melewatkanmu hanya karna bibirku tak mampu untuk bicara, bahwa aku inginkan kau ada di hidupmu"

Melody segera menoleh kearah Rangga, yang ternyata ikut bernyanyi kecil.

"Eh, lo bisa nyanyi juga ?"

"Enggak kok, iseng-iseng aja"

Melody tersenyum, senang karena ternyata Rangga bisa bernyanyi juga.

"Eh kalo lo bisa nyanyi, kita bisa duet loh buat penampilan nanti"Seketika Melody bersemangat dan mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Rangga.

"Suara gua ga sebagus itu buat duet sama lu, gue main gitar aja"

"Lo bisa main gitar sambil nyanyi ! Dua suara, pasti double keren !"

Rangga tampak menimang-nimang. "Gaktau deh, liat aja nanti" .

Melody memanyunkan bibirnya, "Pleasee !!" Ia menyatukan kedua tangannya dan menatap Rangga dengan tatapan memohon.

Rangga menghembuskan nafas, "Yaudah, tapi gue gamau nyanyi banyak-banyak"

"YEYYY !!!" Seandainya ia sedang tidak duduk di mobil dengan jok kulit yang terlihat mahal, ia mungkin akan berjoget dan meloncat.

● ● ●

Mobilnya memasuki pekarangan rumah yang cukup besar.

"Ayo turun"

Melody pun turun, dan mengikuti Rangga memasuki rumahnya.

Saat mereka masuk keruang tamu, seorang pria yang umurnya terlihat tak terlalu jauh dari mereka terlihat.

"Rangga, ini siapa ? Pacar lo ya ?"

● ● ●

Hi All !!! Sorry kalo ada typo dan kesalahan lainnya, jangan lupa Vote dan Comment ya !

-Vee-

Melody Of HeartCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang