WDHR-10

47 9 3
                                        

Nada benar-benar tidak tahan lagi, baginya Filan sudah keterlaluan. Bahkan pagi ini Filan tidak menjemputnya pergi ke sekolah seperti biasa sampai-sampai ia harus pergi ke sekolah sendiri dengan mengendarai motor miliknya. Dan sekarang gadis itu tiba di gedung kelas Filan, ia menemukan Alavan sedang berbincang bersama entah siapa, Nada tidak tahu. Nada menghampiri laki-laki berkaca mata itu, membuat orang-orang yang tidak Nada kenal bersorak tidak jelas yang membuat Nada sedikit risi mendengarnya.

Alavan memperbaiki kacamatanya, "kenapa?"

"Bisa gak temen-temen lo ngejauh dulu?"

Orang-orang yang tadi berkerumun itu mulai pergi meninggalkan mereka, sebagian masuk ke dalam kelas sebagian lagi pergi ke kantin untuk urusan perut.

"Udah. Kenapa?" tanyanya ulang.

"Filan mana?"

"Di rumah,"

"Hah? Dia gak sekolah?"

Alavan kemudian menepuk dahinya. Saking paniknya ia sampai lupa untuk memberitahu Nada tentang pesannya Filan.

"Sorry, gue lupa. Kemaren Filan demamnya tinggi banget sampai-sampai gue yang antar dia pulang. Terus motornya dia dibawa sama Wahyu. Maaf banget gue lupa ngasih tau lo."

"Parah banget?" tanya Nada dengan raut khawatir.

"Tadi malam gue ajakin papa gue buat meriksa dia, dan ya, kayaknya dia udah baikan."

"Kayaknya?"

"Soalnya tadi malam dia drop. Tapi papa sudah kasih dia obat. Jadi mungkin sekarang dia udah baikan,"

"Mungkin? Sumpah ya gue gak habis pikir. Dia sampai gak ngehubungin gue? Tandanya udah parah banget. Gue bakal ke rumahnya, sekarang."

"Eh? Lo kan harusnya sekolah. Nad, lo itu ketos, istirahat pertama nanti ada pembukaan event angkatan yang mengharuskan lo ada di sana."

"Gue gak perduli, bodo amat lah sama yang begitu,"

"Event cuman sekali saat lo ngejabat. Lo yakin bakal ngelewatin moment kayak gini, cuman buat Filan?"

"Cuman? Filan gak serendah itu."

Kemudian Nada berbalik meninggalkan Alavan yang terdiam.

[=]

Napas gadis itu terengah. Bagaimana tidak? Ia sudah berkeliling dari sudut lapangan satu ke sudut lapangan yang lain. Dari gedung satu ke gedung yang lain. Hanya untuk mencari seorang ketua osis yang sekarang berada entah dimana. Sampai akhirnya gadis itu dengan tak sengaja menabrak seseorang laki-laki bertubuh tegap  berkacamata.

"Maaf--" baru saja ia hendak mengatakan kata yang sama sekali lagi, ia kemudian tersenyum melihat siapa yang ia tabrak. "Hai, Al? Maaf ya ketabrak, buru-buru sih."

Alavan tersenyum kemudian mengusap kepala gadis itu, "buru-buru ngapain, sih?"

"Nada, Al. Dia gak tau ada dimana. Acara pembukaan event ini tinggal tiga puluh menit lagi, astaga. Terus anak acara minta aku cariin dia,"

"Nada gak bilang ke kamu kalau dia mau ke rumah Filan?"

"Hah?" Gadis itu bertanya setengah berseru. Gadis puan nama Zelaya itu kemudian mengusap wajahnya. "Ketua satu lagi nemenin eskul paskib sosialisasi ke sekolah lain, ketua dua lagi sakit. Gak ada yang bisa ngewakilin dia selain..."

"Kamu," jawab Alavan sambil tertawa kecil.

"Ish kamu," kesal Zelaya sambil meninju pelan perut Alavan.

We (Don't) Have RelationshipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang