Prolog

266 23 5
                                    

Diluar langit sedang mendung bergemuruh diiringi angin kencang yang membuat ranting-ranting pohon merunduk dan kembali lagi seperti semula, semua karna angin yang kencang itu.

Sementara di dalam sebuah gedung tua yang dulunya merupakan pusat perbelanjaan yang tidak jadi di operasionalkan, seorang laki-laki diikat kedua lengannya pada sandaran kursi kayu. Mulutnya disekap namun matanya dibiarkan melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.

Diseberang, kurang lebih dua meter jauhnya dari tempat laki-laki itu. Seorang gadis duduk disebuah kursi kayu, menatap laki-laki itu sambil bertopang dagu. Di depan sisi kiri dan kanan laki-laki itu terdapat dua pria besar berotot yang kapanpun siap menghantam laki-laki itu dengan bogeman kuatnya.

Laki-laki itu sesekali meronta agar dilepaskan, namun balasan yang ia dapat adalah pukulan telak di perut atau tendangan di kepala. Dahinya berdarah, sudut bibirnya membiru, wajahnya pucat, ia benar-benar harus ditolong.

Gadis yang duduk diseberangnya tertawa, "bagaimana Davilza Muhammad Tjadid? Sudah merasakan penderitaanku?"

Laki-laki yang dipanggil Davilza itu menunduk, dirinya terlalu lemah, bahkan sekedar mengangguk atau meronta pun ia sudah tidak sanggup.

Gadis itu berjalan ke arahnya dan saat didepan Davilza ia menjambak rambut milik Davilza kebelakang membuat laki-laki itu mau tak mau mendongakkan kepalanya.

"JAWAB!" gadis itu berseru tepat didepan wajah Davilza.

Namun Davilza benar-benar sudah kehabisan tenaga. Kemudian gadis itu membuka kain yang menutup mulut Davilza, membuat napas yang terengah itu menerpa wajah sang gadis. Gadis itu menatap Davilza lekat.

"Ke...na...pa...kena...pa...ke...na--" Gadis itu segera menampar wajah Davilza.

"Masih bertanya kenapa? Tidak sadar bahwa kesuksesan keluargamu itu adalah bencana untuk keluargaku, hah?! Apa masih belum sadar juga bahwa hubungan keluarga kalian yang tidak sehat itu karna kalian yang egois? Masih belum sadar?!" tanya gadis itu setengah berseru, napasnya menderu. Amarah gadis itu sedang berada dipuncak.

Davilza menatap ke arah gadis itu, "lalu apa yang kamu mau sekarang?" ia bertanya.

"Kematianmu."

"Maka bunuh aku dengan tanganmu sendiri, Rey."

Tangan gadis yang dipanggil Rey mengepal diiringi sebuah geraman dari mulutnya, "habisi dia." Titahnya pada kedua pria besar disisi kanan dan kursi Davilza.

Kemudian Rey berjalan kearah kursi yang sebelumnya ia duduki.

"KENAPA REY? KENAPA TIDAK KAMU YANG MEMBUNUHKU?!" seru Davilza ditengah pukulan-pukulan yang dihantamkan kepadanya. "KAMU MENYUKAIKU--" perkataan Davilza terhenti karna ia terbatuk akibat pukulan yang dihantamkan padanya.

"KAMU MENYUKAIKU ALISA SANDREY! KAMU MENYAYANGIKU! ITULAH MENGAPA KITA MENJADI SEPASANG KEKASIH!" Davilza berusaha sekuat tenaga untuk menyerukan hal tersebut kepada gadis yang ia panggil Rey.

Langkah Rey terhenti namun kepalan ditangannya malah semakin kuat, ia menoleh ke arah Davilza dan saat itu juga laki-laki itu tau bahwa gadis itu mencintainya namun cinta itu tertutup oleh kabut kebencian yang sudah sejak dulu tertanam dalam dirinya.

"Sejak awal kita itu tidak memiliki hubungan apapun," jawab Rey dan Davilza mendengarnya.

Setelahnya, semua terasa gelap untuk Davilza.

[=]

We (Don't) Have RelationshipTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang