Setelah melewati kepadatan lalu lintas akhirnya mobil fortuner hitam itu memarkirkan diri di depan toko buku yang dituju oleh si pengemudi. Mereka berangkat pada pukul setengah sebelas dan mereka baru tiba pada pukul satu tepat. Davilza turun kemudian disusul oleh Nada. Mereka berjalan beriringan memasuki toko tersebut. Nada tersenyum kecil ketika aroma dari buku-buku tersebut menggelitik indra penciumannya. Davilza berjalan mendahului, diikuti oleh Nada. Nada sadar sekali bahwa Davilza sedang berjalan ke arah rak secara acak. Laki-laki dihadapannya ini tidak mempunyai tujuan. Memberanikan diri, Nada menarik bahu Davilza hingga laki-laki itu menoleh dan mata mereka kemudian bertemu.
Sepi. Sakit. Dendam.
Itu yang Nada dapat ketika matanya bertemu dengan mata laki-laki yang ada dihadapannya. Nada terdiam sampai akhirnya Davilza mengangkat sebelah alis, tanda bahwa ia sedang bertanya apa maksud perlakuan Nada.
"Enggak jadi," jawab Nada kemudian tersenyum kecil.
Davilza tidak membalas senyum itu, laki-laki itu kemudian berjalan lagi dan Nada masih mengikuti dibelakangnya, sambil melihat ke kiri dan kanan dimana banyak buku yang berjejer rapi di rak-rak tersebut.
Namun dalam jalannya, pikiran Nada tidak tertuju pada apa yang dihadapannya. Pikirannya masih kepada mata yang tadi ia lihat. Yang terbersit dalam benak gadis itu sedari tadi hanyalah tanya tanpa jawaban pasti. Bahkan ketika Davilza sudah menghentikan langkah, Nada masih berjalan hingga ia menubruk punggung milik Davilza.
Davilza refleks menoleh, "lo kenapa sih?"
"Hah?"
"Tau ah," kemudian Davilza membelokkan langkahnya, sebelum ia benar-benar hilang dari pandangan Nada, laki-laki itu kembali berucap."Lo kalau mau liat-liat, liat-liat aja. Gak usah ngikutin gue."
"Ya juga," Nada menyetujui pernyataan Davilza. "Ngapain coba gue ngikutin dia dari tadi. Aneh," ucapnya pada diri sendiri.
Kemudian Nada pergi menyusuri rak-rak di toko tersebut. Ia kemudian membaca sinopsis dari beberapa buku yang sampulnya menarik diri gadis itu untuk membacanya.
“People say that Paris is the city of love, but for Raia, New York deserves the title more. It's impossible not to fall in love with the city like it's, almost impossible not to fall in love in the city.”
Nada membalik buku tersebut untuk melihat judulnya. The Architectecture of love, tertera nama penulis diatas judulnya. Ika Natassa. Sebelumnya, Nada sudah pernah membaca karya Ika yang berjudul Critical Eleven. Dan kini, ia tertarik untuk membeli novel tersebut jika saja ia tidak mengingat betapa banyaknya pengeluaran yang ia keluarkan untuk keperluan tugas sekolah dan OSIS, ia pasti tidak akan menunda untuk membeli novel itu sekarang.
Gadis itu lanjut berjalan. Kini rak-rak buku digantikan oleh barisan-barisan alat musik dan alat-alat olahraga yang dijual bersamaan di toko buku tersebut. Nada melihat-lihat biola yang terpajang disana, ia kemudian menyentuh senar biola tersebut dan sentuhannya berlanjut sampai diujung tangkai biola.
"Lo ngapain?" suara seseorang tiba-tiba saja mengintrupsi, membuat jantung yang belum siap untuk menerima suara itu berdetak lebih cepat daripada biasanya karena terkejut.
Gadis itu mengembuskan napas pelan sambil mengelus-elus dadanya. "Ngagetin banget," gumamnya. Kemudian atensinya tertuju pada tiga buku yang dipengang oleh tangan kiri Davilza. "Udah cari bukunya?" tanyanya.
Davilza mengangguk, "lo belum jawab. Lo ngapain?"
Nada menggeleng. "Cuman liat-liat,"
"Lo boleh beli kalau mau, biar gue yang bayar."
KAMU SEDANG MEMBACA
We (Don't) Have Relationship
Dla nastolatkówTanpa aku, kamu masih tetap bisa ngejalanin hidup kamu sebagaimana biasanya. copyright©2018 by BlueNeptunies
