Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, matahari juga sudah mulai kembali pada tempatnya. Filan sedari tadi hanya berbaring sambil menghadap kepada ponsel yang ia taruh di sebelahnya. Biasanya pada pukul lima, Nada sudah menelpon dan mengatakan bahwa ia sudah pulang lalu Filan pergi untuk menjemputnya. Tapi hari ini tidak.
Filan sudah mencoba menghubungi melalui aplikasi chatnya berkali-kali namun tidak diangkat, ternyata saat ia menelpon nomor Nada, gadis itu sedang tidak aktif. Filan juga sudah menghubungi nomor rumah Nada, namun hasilnya Nando, kakak Nada mengatakan bahwa adiknya belum pulang.
Ada sedikit rasa khawatir yang menjalar di dalam diri Filan. Ia tidak bisa pungkiri itu. Kemudian Filan segera bangkit dari tempat tidurnya dan memasang jaket berwarna merah yang tersampir di kursi belajarnya. Lalu Filan memilih untuk membawa mobil teriosnya yang berwarna putih, karena diluar sedang mendung.
Ia memutuskan untuk menunggu Nada di rumah gadis itu sendiri.
"Bun, Filan jalan dulu ya. Doain semoga Nada gak kenapa-kenapa," ucap Filan kepada sebuah bingkai yang ada di meja ruang tamu dimana didalamnya terdapat foto sang Ibu tengah tersenyum lebar yang menampakkan deretan giginya sedang memeluk seorang laki-laki yang juga sedang tertawa.
Filan kemudian melanjutkan langkahnya menuju sebuah mobil putih yang terparkir di halaman rumahnya. Jarak rumah Filan dan Nada sebenarnya hanya berbeda tiga blok saja, namun Filan memilih membawa mobil karna cuaca yang tidak mendukung.
Tidak butuh waktu lama, Filan sampai di sebuah rumah minimalis yang terlihat sederhana dan mewah secara bersamaan. Filan memarkirkan mobil di halaman depan, belum saja mengetuk pintu, seorang laki-laki dengan tubuh tegap yang lima senti lebih tinggi daripada Filan membukakakan pintu. Ia hanya memakai celana kain pendek berwarna cream dengan baju kaos polos lengan pendek berwarna hitam. Rambutnya berwarna coklat muda.
"Lah gue kira lo dateng sama Nada," ucap laki-laki itu setelah Filan menutup pintu mobilnya.
"Kagak bang Nando, gue biar nunggu Nada disini aja."
"Yaudah, lo langsung naik ke kamar dia aja." Titah Nando pada Filan, dan kemudian Filan langsung masuk dan pergi ke kamar Nada.
[=]
Pukul delapan lewat tiga puluh akhirnya Nada tiba di rumahnya. Janjinya Rando hanya mengajaknya makan nasi goreng bersama. Namun, kenyataannya ia malah diajak ke salah satu pusat perbelanjaan. Mereka berkeliling, pergi ke toko buku, ke tempat permainan, membeli es krim, bahkan mereka sempat untuk menonton film di bioskop.
"Gue boleh gak minta nomor lo?" tanya Rando.
"Buat apaan?" Nada balik bertanya.
"Minta pulsa buat nelpon mak gue, ya buat ngehubungin lo lah, Nada."
Nada tertawa kecil kemudian ia menyebutkan digit nomor ponselnya kepada Rando. Lalu gadis itu turun dari mobil yang sejak tadi membawanya pergi. Setelah Nada turun, Rando membuka kaca pintu mobil.
"Thank's buat hari ini."
Tanpa menoleh Nada hanya mengangkat jempolnya dan kemudian masuk ke dalam rumahnya. Tak lama Nada masuk, gadis itu mendengar ban mobil berdecit menandakan bahwa mobil itu sudah berjalan menjauh dari rumahnya.
"Darimana aja?" tanya Nando yang ada di ruang tengah, sedang menonton tv sambil memakan indomie mentah.
"Jalan," Nada kemudian mengambil mie mentah yang ada di tangan kakaknya. "Aku buang, gak sehat."

KAMU SEDANG MEMBACA
We (Don't) Have Relationship
Fiksi RemajaTanpa aku, kamu masih tetap bisa ngejalanin hidup kamu sebagaimana biasanya. copyright©2018 by BlueNeptunies