Nada berlari kecil menuju ruangan yang sudah disebutkan oleh Davilza. Saat berlari dia berpapasan dengan sebuah ranjang yang pasiennya terbaring dengan ditutupi kain putih. Perasaan Nada semakin tidak enak, sampainya di depan ruang rawat Filan, Nada menemukan Zelaya yang menunduk sedang dirangkul oleh Alavan. Ada juga Davilza yang sedang duduk sambil menunduk, Wahyu dan Zavano hanya diam dengan tatapan kosong.
"K-kalian kenapa?" tanya Alana yang berada di belakang Nada.
Mereka hanya menggeleng.
"Lo mending masuk, Nad." Ucap Wahyu.
Kemudian Alana ditarik tangannya oleh Zavano agar gadis itu tidak mengikuti Nada masuk ke dalam ruang rawat Filan. Alana membulatkan matanya, kemudian Zavano menggeleng pelan membuat Alana paham apa yang sebenarnya terjadi.
Nada membuka pintu, ia tidak berminat mendramatisir suasana dengan membuka pintu secara perlahan, jadi ia buka saja pintunya seperti biasa. Setelah pintu terbuka, ia bisa melihat laki-laki yang kemarin terlelap tidur kini duduk dengan pandangan yang ditujukan ke jendela.
"Filan?" panggil Nada.
Filan menoleh dan langsung tersenyum lebar ketika melihat siapa yang datang. "Hai, Nada. Kamu kemana aja coba, aku kan kang--"
Ucapan Filan terhenti ketika Nada memeluknya erat. Filan mengusap kepala Nada.
"Aku takut banget, mereka semua di depan ekspresinya kayak kamu kenapa-kenapa aja gitu."
"Kan aku gak apa-apa sekarang," jawab Filan sambil terkekeh.
Nada melepaskan pelukannya kemudian menatap Filan dengan bibir mengerucut ke depan, ia kesal.
"Kamu tuh sakit parah begini gak ngasih tau aku. Aku marah,"
Filan menjepit bibir Nada yang mengerucut dengan telunjuk dan jempolnya. "Marah aja marah, gak papa."
Bibir Nada bergerak-gerak tidak jelas, menghasilkan suara gumaman yang tidak jelas pula. Sampai akhirnya Nada diam dan Filan melepaskan jepitannya.
"Udah lah, jangan marah. Yang penting kan sekarang aku masih sama kamu,"
Nada tertawa kecil. Kemudian Alavan dan yang lain masuk ke ruang Filan.
"Gimana, Nad? Masih kangen?" tanya Zelaya yang masih berada di dalam rangkulan Alavan.
"Bahagia tuh sederhana ya buat lo, Fil." Ucap Zavano tiba-tiba, "liat Nada selalu di samping lo aja kayaknya bikin lo lebih baik."
"Iya, gak pucet lagi tuh mukanya. Senyumnya lebih enak diliat juga," lanjut Wahyu.
Davilza dan Alana hanya ikut tersenyum.
"Kalian itu bikin kesel tau gak, gue kan ngiranya Filan kenapa-kenapa. Davilza juga bilangnya, kondisi Filan menurun. Ya gue udah ngira macam-macam lah."
Davilza hanya terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.
"Yaudah, yang penting Filan sama Nada ketemu dan dua-duanya gak papa," sahut Alavan. "Kalau gitu, kita semua cabut, kuy."
Davilza dan yang lain serempak mengangguk kemudian pergi ke luar ruangan, meninggalkan Filan dan Nada berdua. Tiba-tiba saja Filan tertawa kecil.
"Eh? Kenapa?" tanya Nada bingung.
"Kenapa yok?" Filan balik bertanya dan melanjutkan. "Udah pada ngopi belom? Diem-diem bae, ngopi apa ngopi."
"Kamu mau aku tampar?" tanya Nada setelah Filan selesai mengatakan itu.
"Jangan, ditampar itu sakit biar aku saja,"
"Emang kamu yang mau aku tampar, Filan." Geram Nada, membuat Filan kembali tertawa setelah melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
We (Don't) Have Relationship
Teen FictionTanpa aku, kamu masih tetap bisa ngejalanin hidup kamu sebagaimana biasanya. copyright©2018 by BlueNeptunies
