WDHR-11,5

40 7 1
                                        

Nada tertawa bersama dengan teman-temannya yang berada di taman kanak-kanak. Mereka saat ini sedang berada di halaman luar untuk memainkan permainan yang tersedia seperti, prosotan, ayunan, permainan gantung, dan sebagainya. Hari ini Nada menggunakan rok pink kotak-kotak dan kemeja putih yang dilapisi rompi yang warnanya senada dengan rok yang ia gunakan.

"Nada, kamu itu saudaraan sama Filan, ya?" tanya salah satu diantara temannya yang sedang asyik bermain.

Nada yang berada di ayunan menggelengkan kepalanya, "aku sama Filan teman aja."

"Teman? Tapi kok akrab banget?" tanya temannya yang lain.

"Iya soalnya Filan sering ke rumah aku sama bundanya." Jawab Nada, pandangannya lurus ke depan, sambil menikmati sensasi ketika tubuhnya berayun.

"Oh jadi gak apa ya? Kalau aku ngarepin Filan jadi pangeran berkudanya aku." Intonasi suara menantang sekaligus sombong Nada dapati saat mendengar itu.

Nada berhenti mengayunkan ayunannya dan mengeratkan pegangannya pada tali ayunan. Ia menoleh ke arah gadis yang menyatakan hal tersebut. Dengan senyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya, Nada membalas.

"Gak papa dong!"

Kemudian sebuah angin membawa pergi bayang itu dan sekarang Nada berada di sebuah tempat yang tidak asing. Halaman belakang, sekolahnya. Ia menggunakan pakaian putih-merah, ia saat ini duduk di kelas enam SD. Tiga orang laki-laki menutupi pandangannya, salah satu diantara mereka menumpahkan segelas es jeruk.

Dengan wajah kaget, Nada memprotes perlakuan yang ditujukan padanya itu. "Gilang!" serunya pada laki-laki yang baru saja menumpahinya es jeruk. "Ini keterlaluan tau gak!"

Laki-laki bernama Gilang itu hanya menjulurkan lidah sambil memukul tembok disamping kiri wajah Nada dengan telapak tangannya.

"Kamu tau? Reputasi kelas A jadi rusak karena rumor tentang kamu yang anak pungut itu!"

"Aku bukan anak pungut!" seru Nada tidak terima. "Rumor itu tuh, bohong!"

"Gak perduli! Pada intinya kamu merusak reputasi kelas kita!" Nada menggigit bibir bawahnya ketika jarak Gilang lebih dekat. Air mata Nada mulai berjatuhan.

"Kamu pindah sekolah atau aku--"

Seorang laki-laki mendorong Gilang agar menjauh dari hadapan Nada.

"Kamu apa, hah?" potong laki-laki itu.

Dua laki-laki yang ada di belakang Gilang membantu Gilang untuk berdiri.

"Cih, satu-satunya orang di kelas yang gak perduli sama hal itu cuman kamu, Filan! Sadar! Semua orang gak suka sama kelas kita karna di dalamnya ada Nada!"

"Ya menurut aku kita gak perlu peduli sama hal itu!" Filan balas berseru, tangannya terkepal karna marah. "Kelas juga kelas kita, Nada itu bagian dari kelas, dia anak yang satu kelas sama kita. Salah dia apa, hah? Dia juga pintar, bawa nama kelas kita jadi lebih baik. Dibandingkan kamu juga masih lebih baik Nada."

Gilang mendecih kemudian mengajak kedua temannya pergi dari tempat itu.

Nada terduduk lalu memeluk lututnya dan Nada menaruh wajahnya diantara kedua lututnya. Filan bisa melihat betapa Nada merasa sakit, dari isakannya, dari bahunya yang bergetar, Filan tidak pernah tahu bagaimana caranya menenangkan seseorang yang menangis, tapi pada hari meninggalnya ibu Nada, Filan melihat banyak orang-orang yang terlihat sedih saling merangkul satu sama lain. Filan tidak paham maksudnya, namun hari itu ia merasakan kesedihan dan pada saat itu juga bundanya memeluk dirinya dan ia merasa tenang ketika di peluk.

Filan melangkah maju dan memilih duduk di samping Nada dengan lutut yang tertekuk.

"Udah, mereka udah pergi, kok." Filan berusaha menenangkan Nada.

"Mereka...bilang...aku itu aneh..." Nada membalas ditengah isaknya. "Aku...aneh...ka-karna...gak punya...i-ibu...padahal...Fi-Fil...mama...dulu hampir...bunuh...aku...terus aku...dibilang...anak pungut...seakan-akan...me-mereka semua...tau...penderitaan...a-aku,"

Filan mengembuskan napasnya pelan sambil mengusap lengan Nada. "Udah gak apa, ada Filan disini."

Nada diam tidak menanggapi.

Sampai akhirnya Nada berhenti menangis. Isaknya sudah tidak terdengar lagi.

"Filan..." panggil Nada.

Filan hanya membalas dengan gumaman pelan.

Nada mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Filan, ia melihat Filan tersenyum dan saat itu juga ia merasa semua akan baik-baik saja. Nada lantas memeluk Filan dengan erat.

"Filan jangan pergi kayak mama pergi ninggalin, Nada. Oke?"

Filan membalas pelukan Nada, "Filan selalu sama Nada. Janji."

Lalu Nada merasa ia salah memeluk seseorang, karna ia hafal sekali bagaimana postur tubuh Filan yang berisi. Dan sekarang, ia memeluk seseorang bertubuh ramping. Nada melepas pelukannya dan melihat wajah seseorang yang ia peluk.

Nada tidak salah memeluk orang. Hanya saja Filan dihadapannya berubah perawakannya. Filan terlihat pucat, badannya kurus, bahkan di kepalanya sudah tidak ada sehelai rambut-pun. Tak lama, Nada melihat darah keluar dari hidung Filan.

"Fil? Kamu gak apa?"

Filan tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu bibirnya bergerak mengatakan sesuatu yang Nada tidak bisa dengar namun Nada tahu apa yang Filan katakan.

'Maaf,'

Lalu bayang Filan pergi terbawa oleh sebuah hembusan angin.

"FILAN!" napasnya tersengal setelah meneriakkan nama laki-laki itu. Nada mengusap keningnya yang berpeluh.

Nada menoleh ke arah dimana tempat Filan tidur. Namun, Nada tidak menemukan laki-laki itu. Jam di dinding kamar menunjukkan pukul tiga dini hari. Nada beranjak pergi ke luar kamar, ia berjalan pergi ke dapur. Dan benar saja, ia mendapati Filan sedang mengaduk sesuatu di dalam gelas putih yang ia letakkan di atas meja dapur.

Perlahan langkah Nada tertuju kepada laki-laki itu, sampai tidak ada jarak di antara mereka, Nada memeluk Filan dari belakang. Bisa Nada rasakan Filan berjengit karna kaget. Filan menggenggam tangan Nada yang dingin.

"Kamu kenapa?" tanya Filan.

"Aku mimpi kamu pergi ninggalin aku,"

"Terus?"

"Pas bangun kamu beneran gak ada. Aku takut."

Filan tertawa kemudian melepaskan pelukan Nada dengan perlahan. Lalu ia membalikkan badannya agar bisa berhadapan dengan Nada. Filan menangkup wajah Nada sambil menggoyang-goyangkannya pelan.

"Ngapain takut, hah? Kan sekarang aku disini sama kamu."

Nada tertawa kecil dan langsung memeluk Filan dengan erat.

"Aku tiba-tiba keingat waktu dulu aku dijauhin karna aku dianggap anak pungut, dulu aku di caci-maki sama semua orang karna aku gak punya ibu." Air mata Nada tiba-tiba membasahi pipinya ketika mengucapkan hal tersebut.

Filan yang sudah membalas pelukan Nada kini mengusap rambut milik gadis itu.

"Terus kamu datang dan bilang--"

"I'm here with you and always be like that," potong Filan dan laki-laki itu bisa merasakan Nada mengangguk dalam pelukannya.

Filan mengusap punggung Nada dan ia juga mencium puncak kepala gadis itu. Dia mengeratkan pelukannya. Ia merasa, itu adalah malam terakhirnya bersama dengan Nada.

"Kalau bisa memilih aku juga gak mau pergi dan aku mau sama kamu untuk waktu yang sedikit lebih lama lagi."

Sayangnya, Filan hanya bisa mengatakan hal itu di dalam batinnya.

Disaat yang bersamaan seseorang mengirimi Filan pesan ke ponsel miliknya yang ia simpan di atas meja belajarnya.

Jasmine : can we meet today?

[=]

We (Don't) Have RelationshipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang