Kembali ke rutinitas biasa, kebiasaan yang dilakukan Filan dan Nada juga masih mereka lakukan setiap pagi sebelum masuk ke kelas masing-masing. Kadang kebiasaan itu dianggap berlebihan oleh orang yang melihatnya. Tapi apa peduli mereka? Yang menjalani kan mereka berdua, bukan orang yang entah berantah siapa itu. Berbeda dengan Alavan dan Zelaya, ketika melihat kebiasaan Filan dan Nada yang menyatukan kening mereka setiap pagi. Zelaya jadi selalu memeluk Alavan sebelum ia pergi ke kelasnya, dan Alavan hanya membalas pelukan itu dengan erat lalu keduanya tertawa karena merasa konyol.
Alavan dan Filan kemudian berjalan ke kelas dengan beriringan. Banyak bisik yang mengiringi langkah mereka berdua dalam perjalanan mereka menuju kelas. Beberapa kali Alavan memperbaiki letak kacamatanya, berusaha menetralisir rasa tidak nyaman ketika ia diperhatikan oleh perempuan-perempuan yang sedang duduk-duduk disekitaran koridor.
"UANG KAS WOY, FILAN, ALAVAN. JANGAN KABUR YA LO BERDUA!"
Filan memutar bola mata malas, Alavan hanya dapat mengembuskan napas kasar. Mereka bahkan belum masuk ke kelas untuk menaruh tas lalu bernapas lega. Bendahara laknat, memang.
Sadar akan ekspresi Filan dan Alavan, seorang gadis yang menjabat sebagai bendahara itu kembali berbicara.
"Apa? Berharap dapat sapaan selamat pagi dari bendahara? Ngimpi. Cepet sini uangnya, Alavan lo nunggak tiga minggu jadi lima belas ribu. Kalau Filan..." Gadis itu memeriksa catatan kas-nya. "Lo nunggak dari bulan lalu. Allah, Filan lo musti bayar sekarang, lunasin!"
Filan maju selangkah kemudian membisikan sesuatu kepada gadis itu, kemudian gadis itu terdiam. Dan ekspresinya tiba-tiba saja menjadi kalem.
"Oke sepakat,"
"Sip. Ini baru bendahara gue," ucap Filan kemudian berjalan masuk ke dalam kelas tanpa ada hambatan tagihan kas.
Saat Alavan hendak mengikuti Filan, langkahnya dihalangi oleh gadis itu. "Mana sini bayar dulu,"
"Nih," Alavan memberikan uang sejumlah lima belas ribu secara kasar kepada gadis tersebut. Gadis itu tersenyum senang dan memberikan jalan kepada Alavan untuk menyusul Filan.
"Lo bisikin dia apaan tadi?" tanya Alavan setelah menaruh ranselnya di atas meja.
"Gue bakal promot ig dia di instastory gue, terus gue kasih dia endorsan yang ditawarin ke gue, terus gue kasih dia followers satu k, sama likes satu k."
Alavan menepuk dahi tidak percaya, "astagfirullah, Fil. Dosa apa sih gue dapat teman kayak lo."
[=]
Nada sedikit terkejut ketika ia mendapati Davilza berdiri disamping pintu kelasnya ketika ia hendak pergi ke kantin. Sebelumnya, Nada sedang mengerjakan tugasnya, namun ia menunda menyelesaikan tugas tersebut ketika teman sekelasnya mengatakan bahwa ada seseorang yang tengah menunggunya di luar. Nada mengira orang itu adalah Filan, namun ternyata orang itu adalah Davilza. Ada sebersit rasa kecewa, namun ia berusaha menutupi itu dengan sapaan hangat kepada Davilza.
"Hai," sapa Nada dengan senyum.
Davilza menarik tangan Nada lalu pergi meninggalkan kelas Nada, ia berjalan menuju kantin. Nada berusaha melepaskan tarikan tersebut, namun yang ia dapat adalah pegangan yang makin erat.
"Dav, lepasin. Gue bisa jalan sendiri kok," bisik Nada, berusaha tidak menyinggung perasaan Davilza didepan umum.
Davilza tidak menanggapi ia malah mengeratkan pegangannya. Sampai mereka tiba di kantin. Banyak pasang mata mengarah kepada mereka, tatapan itu diiringi dengan bisik-bisik. Nada bahkan menepuk dahinya ketika ada kumpulan anak laki-laki kelas dua belas tengah menatapnya dengan Davilza.
KAMU SEDANG MEMBACA
We (Don't) Have Relationship
Dla nastolatkówTanpa aku, kamu masih tetap bisa ngejalanin hidup kamu sebagaimana biasanya. copyright©2018 by BlueNeptunies
