Bab 18 menemukan jawaban

11K 1.1K 5
                                        

Hatiku resah. Mama bahkan bisa membaca sikapku yang lebih banyak melamun saat ini. Dua malam aku terus menerus meminta petunjuk kepada Allah. Ingin memantapkan hati bahwa David memang jodoh yang di berikan Allah kepadaku.
Tapi aku belum menemukan jawaban. Mimpiku hanya tentang Salman itupun hanya satu kali. Aku semakin putus asa saat David mulai meneleponku terus.  Aku rebahkan tubuhku di atas kasur. Dan aku melihat buku yang aku beli tadi. Tergeletak begitu saja di atas nakas. Aku lupa kalau sudah membeli buku milik Salman ini.
Segera kuulurkan tangan dan mengambil buku itu. Membuka halaman pertama dan tersenyum melihat ucapan terimakasih Salman. Tapi di akhir tulisannya ada yang membuat jantungku berdegup dengan kencang. Aku baca lagi dan mencoba memahami siapa yang di sebut Salman itu.
“Untuk wanita yang aku sayangi, terimakasih karena telah memberi inspirasi dalam menulis buku ini. Karena dalam pencarianmu, aku menunggu. Semoga kita dipertemukan kembali. Aku mencintaimu karena Allah swt.”
Aku beristighfar. Memohon ampun karena perasaan yang menyelisik ini adalah salah. Aku tidak ingin berharap atau tidak mau menerka-nerka. Bukankah Salman sudah menikah? Aku berdosa jika mengharapkan suami orang lain. Aku tidak jadi membaca buku milik Salman itu. Kututup dan kuletakkan kembali di atas nakas. Dan saat itulah aku mendengar dering ponselku. Menoleh ke arah kasur, langsung kuambil ponsel yang ada di atas bantal. Menatap siapa yang meneleponku. Dan nama David ada di sana. Kuhela nafasku. Mencoba untuk menguatkan hati ini.
“Assalammualaikum Vid.”
‘Waalaikumsalam Fan. Maaf aku mengganggu malam-malam begini. Tapi aku tidak bisa menahan ini lagi. Aku tidak bisa menunggu Fan. Beberapa malam ini aku selalu memimpikanmu. Dan aku yakin kamulah jawaban dari salat istikharohku. Aku harap kamu mau menerimaku menjadi suamimu ya? Lebih cepat lebih baik kan Fan? Daripada nanti akan menjadi dosa. Malam ini aku memohon kepadamu Fan.”
Jantungku kembali berdegup kencang. Aku juga tidak tahu apa yang membuatku begini. David pria yang baik. mapan, dan agamanya juga baik. Bahkan dia sepertinya memang menyayangiku. Dia juga tidak pernah berbuat lebih kepadaku. Selalu menghargai dan menghormatiku. Aku tahu kalau ini memang pria yang dikirimkan Allah Swt untuk menjadi imamku. Aku beristighfar lagi.
“Baik Vid. Aku terima lamaranmu.” Terdengar suara David di ujung sana dengan mengucapkan syukur penuh suka cita. Aku tahu mendengar suara David yang bahagia langsung membuat aku tersenyum. Semoga Allah merestui semuanya.






NIKAH YUK!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang