BAB 11
KEPUTUSAN YANG BERAT
Kukibaskan rambutku saat aku melangkah menaiki tangga yang akan membawaku keruangan milik Pak Doni. Setelah tegurannya kemarin aku tahu memang akan menerima konsekuensi dari apapun yang aku perbuat. Setelah semalaman suntuk aku membaca buku Salman lagi akhirnya aku memutuskan untuk ini.
Langkahku yang mantap dengan stiletto dan rok span yang kembali terlihat memamerkan pahaku membuat semua orang kembali berdecak. Mereka mungkin menuduhku aku wanita yang labil. Kemarin aku memakai baju dan hijab yang menutup aurat. Tapi sekarang aku kembali berpakaian seperti ini.
“Fani. Astaghfirullah.” Bella mencegatku saat aku akan berbelok ke ruangan Pak Doni. Tapi aku memegang bahunya dan menggeleng. Dia sudah menangis. Akupun sudah ingin menangis tapi aku harus bisa menahannya.
“Nanti Bel gue jelasin.”Aku mendorong Bella dan segera mengetuk pintu ruangan Pak Doni.
“Masuk!”
Suara Pak Doni terdengar dari dalam. Dia mnenatapku terkejut saat aku masuk ke dalam ruangan ini.
“Aku sudah mengira kamu pasti akan memilih perusahaan. Aku salut sama kamu Fan. Sini deh aku mau tunjukkin seragam baru yang kemarin kita desain.”
Pak Doni sudah menyambutku tapi aku hanya menggeleng saat sampai di depan Pak Doni. Ku letakkan tas yang sedari tadi aku selempangkan ke atas meja. Lalu mengambil amplop putih dan meletakkan di atas meja kerja Pak Doni.
“Apa ini?”
“Saya memang yang mengusulkan SPG tidak boleh memakai hijab. Saya pula yang mengusulkan seragam yang sekarang dipakai SPG. Jadi saya mewakili diri sendiri, merasa bertanggung jawab untuk itu semua. Semoga Allah mengampuni apa yang saya perbuat.”
Pak Doni mengernyitkan keningnya lalu menatapku dengan bingung.
Aku langsung mengeluarkan hijab dan gamis yang memang aku bawa di dalam tas. Langsung memakainya di depan pak Doni.
“Sekarang di sini, saya mengundurkan diri sebagai leader. Saya menerima konsekuensi ini. Maafkan saya karena sudah mengecewakan perusahaan. Maafkan saya. Di depan Pak Doni sebagai saksi saya, sekarang saya menjadi Tiffany yang baru.”
Setelah mengatakan itu aku langsung memakai hijab dan gamis yang aku bawa tadi. Pak Doni membelalak terkejut.
“Saya resmi mengundurkan diri pak. Semua laporan yang harus di kirimkan hari ini sudah saya kirim ke email kantor. Kalau ada pertanyaan saya akan berikan kuasa kepada Nina. Salah satu SPG senior yang sudah selayaknya menjadi leader pak. Maafkan saya.”
“Tapi Fan..” Pak Doni sudah beranjak dari duduknya. Mengernyitkan kening dan tidak percaya atas apa yang aku lakukan untuk saat ini. Dia berkacak pinggang dan menatapku lekat. Tapi kemudian menghembuskan nafasnya.
“Aku menyesal kamu harus keluar dari perusahaan. Kamu salah satu leader yang berbakat dan cerdas. Perusahaan sangat bangga memilikimu. Tapi…” Pak Doni kini mengangkat bahunya. Menatapku dengan tatapan yang lain. Beliau seperti seorang ayah yang sedang menatap putrinya.
“Secara pribadi, diluar dari perusahaan saya salut dengan kamu. Kamu konsisten. Dan semoga kamu di beri rejeki yang lancar dengan keputusanmu itu. Saya tidak bisa melarangmu lagi untuk keluar dari perusahaan kalau semua ini sudah bertentangan dengan keyakinan kamu. Semoga sukses di luar sana.”
****
Aku menangis tergugu saat ini. Memohon ampun kepada Allah SWT karena dosaku yang baru saja aku perbuat. Aku berlari ke mushola kantor dan langsung mengambil air wudhu setelah keluar dari ruangan Pak Doni.
Shalat Taubat dan shalat duha. Setelah itu aku menangis meminta pengampunan. Aku hanya ingin di sini sampai hatiku tenang.
“Fani.” Suara lirih Bella membuatku menoleh ke arah belakangku. Sahabatku itu kini menatapku dengan mata yang sembab karena aku tahu dia juga menangis. Aku langsung beringsut ke arahnya dan memeluknya. Kami menangis bersama untuk saat ini.
“Doain aku semoga istiqomah ya Bel.” Suaraku pecah dan aku terisak di pelukan Bella.
“Alhamdulilah, puji syukur Ya Allah.”
Setelah sedikit tenang aku melepaskan pelukan Bella. Mengusap air mata lalu menegakkan tubuh dan kini menatap Bella yang ikut menangis juga bersamaku.
“Terus habis ini kamu mau balik ke Jakarta?”
Aku menatap Bella dengan ragu. Kalau harus balik lagi ke Jakarta artinya aku akan bertemu dengan Bimo lagi. Sementara hatiku masih berdarah karena pengkhianatan Bimo.
“Kalau boleh gue mau di sini dulu ya Bel? Rumah yang di kontrak gue atas nama perusahaan ya? Nanti gue yang bayar deh.” Aku memang perlu menyendiri dulu. Lagipula aku gak mau buat mama jadi sedih mendengar pengunduran diriku ini.
Bella langsung mengangguk dan memelukku lagi. “Aku di sini Fan kalau kamu membutuhkan bantuanku. Pokoknya kamu yang sabar ya.”
****
Merebahkan diri di atas kasur setelah seharian tidak bisa beristirahat adalah hal yang paling kutunggu. Akhirnya Pak Doni menyerah karena aku bersikeras, hanya saja karena aku masih karyawan kontrak dan kontrakku belum berakhir aku terkena penalty. Aku harus mengganti 3 bulan gajiku, untung saja aku masih mempunyai tabungan meskipun langsung terkuras habis.
Setelah berpamitan dengan semuanya, dan menyerahkan semua tugas leader kepada salah satu SPG yang sudah senior, akhirnya aku pulang. Di sinilah aku berada. Sendirian, tanpa pekerjaan dan uang. Dompetku hanya tersisa uang 50 rb, sedangkan di rekening tinggal 200ribu yang aku tahu pasti akan habis untuk keperluan makan. Biarlah, besok yang terjadi akan aku pikirkan lagi. Yang penting hari ini aku merasa tenang. Sudah keluar dari kungkungan tekanan yang menyiksaku.
Setelah shalat isya aku tidak bisa tidur karena tahu otakku juga masih memikirkan semuanya. Bagaimana aku bisa hidup tanpa pekerjaan di sini. Minta tolong mamapun aku tidak tega. Akhirnya daripada makin pusing, aku raih buku milik Salman. Buku itu sudah aku lupakan selama 2 hari ini. Lagipula aku memang sudah selesai membacanya. Aku ingin membacanya lagi. Saat aku membuka halaman terakhir aku tertegun. Kemarin aku memang hanya membaca sampai Salman mengatakan semoga buku ini bermanfaat untuk kita semua. Di baliknya kan sudah tidak ada lagi tulisan pikirku.
Tapi sekarang aku tertegun. Ada tulisan tangan yang sangat rapi milik Salman. Jantungku berdegup kencang saat membacanya.
Assalammualaikum Mbak Fani.
Maafkan atas kelancangan saya memberikan buku ini kepada Mbak Fani. Bukan maksud menggurui ataupun apapun mbak. Itupun kalau Mbak Fani mau membacanya ya. Saya hanya berbagi kebaikan mbak.
Mbak Fani maafkan saya juga karena selama ini saya bersikap menyebalkan kepada mbak Fani. Bukan karena saya membenci Mbak Fani, bukan. Sejak pertama melihat Mbak Fani saja saya langsung bersyukur kepada Allah Swt karena telah menciptakan hambanya dengan begitu sempurna. Mbak Fani itu cantik, sangat malah. Hanya saya merasa Mbak Fani merugi. Tidak menggunakan kecantikan mbak untuk kebaikan mbak sendiri.
Tiap malam saya berdoa untuk mbak di beri hidayah oeh Allah swt. Bukankah hukum islam menyatakan dengan jelas kalau wanita wajib menutup auratnya? Saya yakin Mbak Fani juga sudah tahu tentang itu semua.
Mbak cantik, subhanallah. Dalam doa saya semoga Mbak Fani diberi kebaikan ya. Mungkin saya memberikan buku dan surat ini terlalu mengharapkan hal yang tidak mungkin. Siapa saya yang mengharapkan Mbak Fani.
Hanya saja kita perlu berharap kan mbak? Dengan segala kerendahan hati mbak. Saya Salman Faturohman ingin meminang Mbak Fani. Bersediakah Mbak Fani menjadikan saya imam?
Saya juga hanya manusia biasa yang banyak salah. Masih perlu banyak belajar untuk menuju Ridho Allah Swt. Saya ingin kita belajar bersama mbak.
Dengan penuh permohonan maaf saya mengajukan lamaran ini. Mbak Fani bisa abaikan ini kalau memang tidak suka. Tapi saya mohon Mbak Fani lebih mengambil manfaat dari buku yang saya tulis. Karena mensyiarkan kebaikan itu perlu. Untuk kemaslhatan umat.
Salam
SALMAN FATUROHMAN.
Air mataku menetes. Mencoba untuk menahannya, tapi satu tetes kembali terasa membasahi pipiku. Astaghfirullah. Seorang pria yang baru saja mengenalku sudah melamarku. Berbanding terbalik dengan Bimo. Pria yang sudah bertahun-tahun mengenalku lebih baik, ternyata hanya seorang pria yang pengecut.
Kututup buku pemberian Salman itu. Lamaran ini mengguncangkan hatiku. Di saat hatiku sedang butuh kedamaian, datanglah Salman sebagai pengobatnya. Tapi sekali lagi aku beristighfar. Ya Allah semoga ini yang terbaik buatku.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH YUK!
SpiritualitéAku tidak percaya kalau menikah tanpa berpacaran terlebih dahulu. Mana ada orang bisa cocok hanya dengan kenal satu kali dan langsung menikah. Big No! aku tidak mau terperangkap di dalam pernikahan tanpa cinta dan tanpa rasa. Tapi tenggat waktu untu...
