Bagian 1

10.1K 408 18
                                        

Aku belum mandi tak tuntuang... Tak tuntuang..
Tapi masih cantik juga tak tuntuang.. Tak tuntuang..

Alesha merutuki suara dering ponsel yang mengganggu tidur siangnya. Bukan, maksudnya tidur pagi sampai siangnya. Wajar saja, toh hari ini hari minggu. Jadi ia bebas tidur tanpa harus memikirkan wajah bengis Pak Suto yang selalu menunggui siswa-siswi yang datang pada detik-detik terakhir sebelum berkumandangnya bel  dengan wajah yang hampir mirip dengan Hog Rider.

"Haloow..? Alesha yang cetar membahana, imut, dan body goals disini.." Ucap Alesha sambil menempelkan ponsel ditelinganya dengan mata yang masih terpejam, serta gaya tidur yang sangat absurd.

"Gila lo Sha! Masih tidur ternyata nih bocah ganjen. Kita udah sejam nungguin lo, dan lo dengan santainya masih peluk-pelukan manja sama guling yang udah bau iler itu? Waras banget lo ya?!" Oceh Seseorang dari seberang telpon tanpa jeda. Alesha langsung membulatkan matanya dan kemudian mengecek sejenak nama si penelpon di layar telponnya.

"Gila na, khilaf gue." Balas Alesha dengan ekspresi terkejut sambil mengakkan badannya. Lena, sahabat  Alesha mengumpat dengan bahasa kebun binatangnya. Alesha hanya cengengesan mendapat Khotbah di pagi hari. Ralat, siang hari.

"15 menit lo gak nyampe, kita tinggal." Lena memutuskan sambungan teleponnya yang membuat Alesha kalang kabut didalam kamarnya sendiri.

Tidak sampai sepuluh menit, Alesha sudah siap untuk pergi liburan hari minggu bersama teman-teman kelasnya. Alesha berlari menuruni tangga dan mendapati bundanya yang tengah duduk dimeja makan sambil mengolesi selai pada roti.  Rena, bunda Alesha menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd Alesha yang hampir terjadi setiap hari. Rena sangat menghafal tingkah putrinya itu, walaupun ia jarang dirumah. biasanya, ia pulang kerumah menemui Alesha 2 bulan sekali, itu semua dikarenakan oleh urusan pekerjaan. Ia memang bekerja keras semenjak tulang punggung keluarganya alias Ayah Alesha meninggal.

"Esha, kok buru-buru amat? Kamu mau kemana?" Tanya Rena. yang masih setia mengolesi selai pada rotinya.

"Alesha pengen refreshing bunda. Esha bisa gila, 6 hari gak pernah absen merhatiin buku. Sekali-kali Esha pengen merhatiin calon imam Esha." Cerocos Alesha sambil mengikat tali sepatu di samping Rena.

"Emang bener kamu merhatiin buku? Bunda kok gak yakin?" Alesha langsung menatap bundanya dengan tatapan terluka. Rena bergidik jijik melihat tatapan dramatis putrinya yang absurd itu.

"Bunda, apa barusan bunda meragukan kesungguhan Alesha dalam menuntut ilmu? Wahai bundaku yang kasihnya tak terhingga sepanjang masa.. Minta uang buat jajan dong." ekspresi Alesha yang tadinya terluka berubah menjadi ekspresi yang diimut-imutkan. Rena memutar bola matanya jengah melihat ekspresi Alesha. Andai saja otak anaknya itu bisa di service di bengkel, ia rela mengeluarkan uangnya untuk memperbaiki otak anaknya tersebut. Tak urung juga ia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu dari dompetnya. Mata Alesha berbinar saat melihat jumlah uang yang dikeluarkan Rena. Namun ekspresinya berubah saat Rena menyodorkan uang dua ribu dan seribu rupiah dihadapan Alesha.

"Bun..." Ucap Alesha menatap Rena dengan ekspresi datar. Rena terkekeh melihat ekspresi Alesha yang menurutnya lucu. Ia memang suka menjahili Alesha. Kini Alesha tahu, darimana sifat jahilnya itu menurun.

"Bercanda kok. Inget, jangan makan udang, pulangnya jangan larut malam. Jangan suka jahil, entar kena karma. Terus jangan centil-centil." Nasehat Rena sambil menyodorkan lima lembar uang seratus ribu pada Alesha. Alesha menatap indah uang yang disodorkan oleh Rena.

"Lah? Kok banyak amat? Esha gak mau liburan ke korea kok bun.. Cuma di ancol doang. Itupun cuma ngintip-ngintip dari luar, kayak maling lagi mantau buat nyuri perosotan." Rena hampir lupa memberitahu Alesha kalau dirinya akan kembali keluar kota siang nanti.

Prison And You (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang