"Gue udah janji nggak bakal ngelakuin hal kayak gini lagi.."
"Ayo dong Al... Nggak ada cara lain lagi. Cuma cara ini biar kita bisa ngecek tato orang itu." Bujuk Joni diikuti oleh Dimas dan Lena dengan tampang memelas.
"Inget Al, lo nggak mau kan balik ke rumah itu lagi? Lo gak mau kan terkurung disana kayak tahanan terus jadi babu?" Ucap Lena mengingatkan Alesha. Alesha tampak memikirkan sesuatu, tentu saja ia tidak mau kembali ke rumah itu, tapi ada rasa lain dihatinya, rindu.
"Yaudah deh, terakhir kali gue ngelakuin ini, gue berakhir di BK. Gue juga udah janji ke Bunda buat nggak ngelakuin hal kayak gitu, dosa katanya. Lagian sebulan lagi penaikan kelas, gue udah mau kelas tiga. Kalo gue dapet karma nggak naik kelas, kalian tanggung jawab." Oceh Alesha panjang lebar.
"Nggak bakal Alesha, ini kan demi kebaikan, kebaikan lo malah. Kita juga nggak bakal ke BK kok.." Ucap Joni menenangkan.
"Kalo nggak ketahuan." sambung Dimas yang disambut kekehan Lena.
"Yaudah, yuk mulai." Ajak Alesha semangat. Ia memang awalnya menolak karena sudah berjanji untuk meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Tapi demi kebaikan dan berjumpa dengan hobi dari sekian lama, apa boleh buat? Tentu saja ia bahagia.
Disinilah mereka berempat, didalam kamar mandi guru. Joni menempelkan kertas pada sebuah pintu kamar mandi yang bertuliskan "WC RUSAK, AKAN DIPERBAIKI." Hal tersebut bertujuan agar tidak ada guru yang memasuki kamar mandi tersebut selain target, Pak Nugianto.
"Bu Fatimah kesini, cepetan sembunyi." Komando Lena yang sedang mengawasi dari lubang kunci pintu. Disana ada tiga kamar mandi guru yang terdapat dalam satu ruangan. mereka berempat kemudian memasuki satu kamar mandi yang terletak paling ujung untuk bersembunyi. Awalnya Bu Fatimah ingin membuka Pintu kamar mandi tengah, tetapi ia melihat tulisan bahwa kamar mandi tersebut sedang rusak, jadi ia mengurungkan niatnya. Akhirnya ia memasuki kamar mandi pertama karena ia merasa kamar mandi ujung ada penghuninya.
Mereka berempat akhirnya keluar dari kamar mandi yang sempit dan berbau keramat itu dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Gila, pada makan apaan nih guru-guru?" Oceh Joni yang sedang berusaha mengatur nafasnya.
"Kayaknya kita nggak bisa terus-terusan ngumpet di wc itu deh, soalnya nggak muat, sesak." usul Alesha.
"gini aja, Gue tinggal di dalam, kalian bertiga diluar mantau, jangan putusin sambungan telpon." Joni ikut mengusulkan isi pikirannya.
"Kalau target udah mau masuk, langsung bilang ke gue. Kalo rencana berjalan lancar, kalian bertiga masuk terus jalanin skenario." mereka pun akhirnya setuju dengan ide Joni dan meninggalkan ruangan tersebut dengan Joni yang tinggal sendirian.
Mereka bertiga bersembunyi disamping kamar mandi. Lena terus memantau situasi bagian depan dengan ponsel yang siap siaga didekat bibirnya. Begitupun dengan Alesha yang memantau bagian samping kiri, dan Dimas bagian samping kanan dan belakang. Sekarang mereka sudah hampir menyerupai detektif, ralat maksudnya para pencuri yang sedang membobol satu rumah dengan pencuri lain yang sedang memantau keadaan.
"Target datang, siap-siap." Ucap Lena yang melihat Pak Nugianto sedang berjalan sambil menggulung lengan kemeja putihnya. Joni yang berada didalam langsung memindahkan tulisan WC Rusak ke kamar mandi pertama, kemudian ia memasuki yang bagian paling ujung sehingga hanya tersisa kamar mandi tengah.
Pak Nugianto memasuki ruangan tempat ketiga kamar mandi tersebut, ia membatalkan niatnya untuk masuk ke kamar mandi pertama karena kamar mandi tersebut rusak. Dikamar mandi ujung, Joni sengaja menyiram air dilantai. Pak Nugianto akhirnya menggerakkan tangannya untuk memutar knop pintu kamar mandi tengah.
Byuurr...
Dalam sekejap, seluruh badan pak Nugianto langsung basah kuyup.
"Sial! Siapa yang sudah berani ngerjain saya?!" umpat Pak Nugianto tidak terima.
"Masuk." bisik Joni ditelepon.
"Loh, Pak guru baru yang tadi ya?" Sapa Dimas yang sedang memegang kain pel ditangannya. Pak Nugianto menatap Dimas dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Saya Dimas pak. Yang nabrak bapak pas istirahat tadi." ucap Dimas mengingatkan.
"oh kamu.. Ini ada yang berani ngerjain saya." Jelas Pak Nugianto sambil menunjukkan seluruh tubuhnya yang basah kuyup.
"Astaga, ini pasti ulah anak kelas sepuluh nih Pak!" Timpal Lena yang berada dibelakang Dimas bersama dengan Alesha.
"Iya tuh Pak. Biasanya itu kerjaan anak kelas sepuluh. Dikamar mandi anak kelas dua belas aja sering digituin. Tapi kayaknya udah keterlaluan deh Pak, masa kamar mandi guru juga digituin." sambung Alesha meyakinkan.
"Astaghfirullah, Kalo bapak masuk ngajar, bapak tanyain aja satu-satu. Kalo pada nggak mau ngaku, pinjem aja trik abu nawas biar ngaku." usul Dimas. Pak Nugianto terlihat berpikir sejenak.
"Beneran? Terus kalian ngapain disini? Bukannya ini udah jam pulang?" tanya guru tersebut yang sepertinya mulai curiga. Mereka bertiga kemudian mengangkat masing masing benda yang berada ditangan mereka, mulai dari pel, sikat closet, sabun, dan sebotol wipol.
"Kita dihukum pak, katanya disuruh bersihin kamar mandi guru pas jam pulang sekolah." jelas Dimas.
"Oohh... yaudah, saya pulang dulu." Pamit Pak Nugianto lalu berjalan hendak meninggalkan murid-murid tersebut.
"Tunggu dulu, Pak." Dimas mencekal pergelangan tangan guru tersebut yang membuatnya berhenti melangkah tepat disamping Dimas. Dimas terlihat seolah memastikan sesuatu, sedangkan Pak Nugianto mengerutkan dahinya bingung.
"Saya ada baju ganti, kalau bapak mau." tawar Dimas sambil tersenyum.
"nggak usah, ini saya juga mau langsung pulang." tolak guru tersebut kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka bertiga.
Joni keluar dari tempat persembunyiannya saat Pak Nugianto benar-benar hilang dari sana.
"Gimana?" tanya Joni to the point. Dimas hanya tersenyum miring sambil menganggung kecil yang membuat ketiganya sedikit melotot tidak percaya, dari sekian banyak orang ternyata tersangka berada satu lingkungan dengan mereka.
Mereka memilih meluncurkan aksinya tepat dihari kamis ini. Karena hari ini semua guru mengenakan kemeja putih polos yang dipasangkan celana/rok hitam pekat. Jadi mereka memilih untuk melakukan jebakan water boom kegemaran Alesha saat kelas sepuluh. Tetapi ia berjanji tidak mau melakukannya lagi, dan hari ini ia melanggar janji tersebut dengan paksaan teman-temannya, demi kebaikan katanya.
Saat kemeja putih Pak Nugianto basah, itu memudahkan mereka untuk mengecek tato dibahunya, karena ketika basah kemejanya akan terlihat transparan. Dan ternyata ia adalah orang yang diincar ketiga murid tersebut.
"Tapi kok namanya Nugianto yak? Kata Bunda namanya Restu." tanya Alesha.
"Udah potong kambing lagi kali.." jawab Joni santai. Mereka pun akhirnya memilih pulang dan menyusun rencana berikutnya.
Huahahahahaaa...
Gilang:Gak ada yang lucu_-
Wah, Gilang muncul? Ada yang kangen Gilang nggak nih? Atau Gilang kangen Alesha?
Gilang: Diem lo author rese-_- Alesha kapan baliknya?
Sabar ya Bos, ini Aleshanya lagi berjuang..
Yang kangen Gilang, Gilang akan muncul di 2 part selanjutnya. Kalo gak ada halangan entar Gilang muncul di part selanjutnya. KALO GAK ADA HALANGAN.
KLIK BINTANG DIBAWAH INI:V
⬇
KAMU SEDANG MEMBACA
Prison And You (Completed)
Teen FictionAlesha, gadis SMA blak-blakan yang harus menanggung tuduhan atas nama ibunya dengan menjadi korban penculikan ditengah-tengah liburan singkatnya. Ia dipaksa menjadi pembantu oleh Bos besar yang bertanggung jawab atas penculikannya. Tidak tahu jalan...
