Alesha berjalan sambil bersenandung pelan dengan kemoceng ditangannya. Ia benci ini, setiap pagi ia harus membersihkan dan membersihkan. Bahkan ia juga jarang makan sehingga membuat badannya agak mengurus.
"Hei, bocah!" Alesha menghentikan langkahnya dengan kening berkerut.
"Bocah...?" Beo Alesha sambil menunjuk wajahnya sendiri. Alesha tidak terima dipanggil bocah. Demi bikini bottom, usianya sekarang sudah 17 tahun. Alesha berbalik dengan wajah tidak terima dan hendak protes dengan orang yang baru saja menyebutnya bocah.
"Gu-" Ucapan Alesha terhenti saat mendapati Gilang yang sedang berdiri didepannya dengan kedua tangan yang dilipat didada. Alesha mematung dengan kemoceng yang diacungkan seolah-olah akan memukul wajah Gilang.
"Apa? Mau pukul saya?" tanya Gilang dengan nada datar tapi menantang.
"ha? Haha... Gak mungkinlah Bos." Alesha langsung menetralkan ekspresinya semanis mungkin dengan tawa yang renyah.
"Mau kemana nih Bos? Guanteng banget.. Kalah deh Doi." Ucap Alesha basa-basi serta mengalihkan pembicaraan.
"Gak usah banyak omong. Cepat buatkan saya sarapan. Setelah itu, antarkan keruangan saya." Pinta Gilang lalu meninggalkan Alesha yang sedang merutukinya dengan beribu umpatan.
Alesha meninju dan menendang udara dengan kesal berulang kali. Ia berani bertaruh kalau nilai Bahasa Indonesia Gilang dulunya jebol. Sejebol-jebolnya nilai Bahasa Indonesia Alesha, ia masih tau jika ingin meminta bantuan itu harus menggunakan kalimat persuasif, atau kalimat yang bersifat merayu. Tidak seperti Gilang.
Alesha mulai tenang dan kembali memikirkan ucapan Gilang sebelumnya. "Sarapan?" beo Alesha.
Alesha berdiri mematung menatap kompor didepannya. Saat ini ia bingung akan memasak apa. Sepertinya Gilang salah memilih orang yang ia suruh untuk membuat sarapan.
Alesha kemudian tersenyum lebar seolah bola lampu sedang bersinar diatas kepalanya. Ia pun mulai meracik makanan yang selalu ia buat dengan lihai. Makanan yang ia buat adalah satu-satunya makanan yang sangat Alesha hapal, dan makanan yang menurut Alesha sangat lezat jika dibuat olehnya sendiri.
"Taraaa..." Alesha menatap haru pada makanan yang baru ia buat susah payah.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu kemudian menghembuskannya dengan hikmat dengan mata terpejam.
"Wangi... Gue jamin, rasanya gak bakal mengecewakan." ucap Alesha percaya diri lalu mengangkat nampan yang berisi makanan yang dibuatnya untuk dibawa keruangan Gilang. Radit yang sejak tadi melihat tingkah Alesha hanya tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya.
Alesha berjalan menaiki tangga dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya. Tak lama kemudian ia akhirnya sampai didepan pintu ruangan Gilang. Alesha mengurungkan niatnya untuk mengetuk, ia penasaran dengan suara tawa orang didalam ruangan itu. Ia mengerutkan dahinya bertanya-tanya, suara tawa lelaki didalam ruangan itu sudah pasti suara Gilang. Tapi suara perempuan itu? Alesha semakin penasaran. Tapi ia harus memendam rasa penasarannya dulu saat mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat dari balik pintu. Alesha langsung bersembunyi dibalik pilar agar tidak ketahuan sedang menguping.
"Gina?" Alesha membulatkan matanya saat melihat orang yang baru saja keluar dari ruangan Gilang adalah Gina. Senyum Gina terus mengembang sepanjang jalan tanpa menyadari kalau sejak tadi Alesha tengah memperhatikannya layaknya tersangka dalam sebuah kasus kriminal.
"Ada yang aneh. Gue harus selidikin.".gumam Alesha yang telah keluar dari tempat persembunyiannya saat Gina sudah menghilang dari sana.
Gilang menatap aneh makanan yang tengah berada didepannya. Sedangkan Alesha sedang berdiri bangga menunggu respon atau pujian dari Gilang, setidaknya.
"Kamu pikir saya anak kost?" senyum Alesha perlahan memudar mendengar respon Gilang.
"Huh?" Tanya Alesha bingung.
"Cuma anak kost yang selalu sarapan dengan indomie rebus campur telur ceplok seperti ini." Ucap Gilang kesal. Alesha hanya cengengesan sambil memeluk nampan yang sejak tadi dibawanya.
"hehehe... Kan itu Bos, anu.."
"Anu anu... Ngomong yang jelas dong!"
"itu Bos, aku cuma bisa masak kayak gitu. Kata Bunda itu enak kok." ucap Alesha membela diri.
"Anak TK juga masak kayak gini ya pasti enak" Cibir Gilang.
"dan juga berhenti bawa-bawa Bunda kamu. Kamu harus membiasakan diri. Karena sekarang dan untuk seterusnya, dia tidak akan denganmu lagi." Alesha terdiam. Kata-kata Gilang sangat menusuk, apa Gilang tidak punya Ibu? Bagaimana bisa ia mengatakan kepada seorang anak SMA tentang hidup tanpa sosok seorang Ibu. Apalagi ia mengatakannya pada Alesha.
"Emang gitu? Kok aku gak yakin ya?" ucap Alesha menantang lalu pergi meninggalkan ruangan Gilang. Gilang menatap punggung Alesha dengan kening berkerut. Apa lagi yang akan dilakukan anak itu?
Alesha duduk dibangku taman sambil menatap kosong kedepan. Kata-kata Gilang tidak mau pergi dari pikirannya. Bagaimana jika ia benar-benar tidak akan bertemu dengan Bundanya lagi? Alesha.menunduk dengan air mata yang berhasil lolos dari matanya.
"Cepat temuin gue... Cepat..." Gumam Alesha seolah menyampaikan pesan lewat angin. Ia sangat yakin kalau sekarang teman-temannya pasti sedang mencarinya.
Alesha kembali menegapkan kepalanya. Ia memandangi sekitar, hanya ada beberapa pengawal, dan juga Gina yang sedang menyirami tanaman. Gina? Alesha kembali mengerutkan keningnya. Sekarang Gina seolah menjadi misterius baginya.
***
Alesha duduk ditepi kasurnya sambil memerhatikan Gina yang sedang membersihkan wajahnya dengan kapas. Menurut Alesha, Gina cantik.
"Gin.." ucap Alesha memecah keheningan.
"iya, kenapa Sha?" Jawab Gina dengan wajah yang tidak lepas dari cermin kecilnya.
"Lo udah berapa lama disini?" Gina menghentikan gerakannya dan perlahan menurunkan cermin yang dipegangnya. Ia menatap Alesha heran.
"Tumben kamu nanya?"
"Nggak.. I-itu.. Cuma pengen tau aja.. Hehe.." Jawab Alesha sambil menggaruk pelipisnya. Semoga Gina tidak curiga dengan pertanyaannya. Lagipula wajar saja kan kalau Alesha bertanya seperti itu.
"Hmmm... Sejak..." Gina tampak memikirkan jawaban untuk pertanyaan Alesha.
"Gue lupa.. Hehehehehee..." Ucap Gina cengengesan.
"Udah gih, tidur. Besok harus bangun pagi." suruh Gina. Ia kemudian masuk kedalam selimutnya dan memejamkan matanya.
Alesha menatap Gina yang sepertinya sudah tertidur. Ada yang aneh, jawaban Gina seperti tidak bisa diterima oleh otak Alesha.
Alesha kemudian masuk kedalam selimutnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan beribu pikiran yang menari dikepalanya.
"Apa yang Gina sembunyiin?" tanyanya dalam hati.
_________
KAMU SEDANG MEMBACA
Prison And You (Completed)
Teen FictionAlesha, gadis SMA blak-blakan yang harus menanggung tuduhan atas nama ibunya dengan menjadi korban penculikan ditengah-tengah liburan singkatnya. Ia dipaksa menjadi pembantu oleh Bos besar yang bertanggung jawab atas penculikannya. Tidak tahu jalan...
