Bagian 24

3.4K 210 8
                                        

Cahaya matahari pagi menerpa tubuh Gilang yang membuat rambutnya terlihat semakin kecoklatan. Suara beberapa pasien yang sedang mencari udara segar mengisi setiap pendengarannya. Ia duduk disebuah bangku putih panjang yang telah disediakan untuk para pengunjug atau pasien yang ingin beristirahat. Gilang kemudian melihat beberapa siswa-siswi yang sedang tertawa dengan seorang pasien, sepertinya itu adalah teman mereka. Pemandangan tersebut mengingatkannya kembali pada Alesha.

"Bocah nakal..." gumam Gilang pada dirinya sendiri.

Ia kemudian mengingat kembali kenangannya bersama Alesha, mungkin itu masih bisa disebut kenangan. Saat Alesha pertama kali datang, saat ia membuatkan Gilang makanan, saat Gilang menubruk Alesha dan pingsan sampai pagi, saat Alesha mengambil ciumannya, sampai saat Alesha memberikannya hadiah topi bundar. Gilang sedikit tersenyum saat mengingatnya kembali.

"Bahkan saat gue ngehindar, dia berusaha ngejar gue. Bahkan dia bilang kita masih ada alasan untuk tetap bertemu. Lantas apa yang jadi alasannya?" ucap Gilang pelan.

"Dia bahkan mutusin hubungan secara sepihak, dengan bilang kalo dia udah punya pacar. Dia..." Gilang menggantungkan kalimatnya saat menyadari sesuatu.

"Putus?"

"Bahkan terlalu singkat. Nggak ada hal-hal romantis yang terjadi, nggak ada adegan ngasih bunga, bahkan nggak ada kata 'sayang' yang saling terucap. Jadi bagaimana bisa dikatakan putus?" Gilang tersenyum hambar memikirkannya.

Gilang sedikit tersentak saat seorang wanita tiba-tiba duduk disampingnya. Ia menoleh dan mendapati Meta yang sedang berusaha terlihat cantik didepan Gilang dengan senyumnya.

"Kamu udah makan? Makan bareng aku yuk." ajak Meta sambil merangkul lengan Gilang.

"Nggak usah." Tolak Gilang dingin sambil melepaskan tangan Meta yang membuat Meta menekuk wajahnya.

"Gilang! Kamu kenapa sih selalu bersikap dingin ke aku? Kita udah temenan sejak kecil, dan sekarang perasaan aku udah lebih dari sebatas teman, kamu juga udah tau itu. Tapi kenapa kamu nggak pernah ngehargain perasaan aku? Kamu selalu ketus ke aku." Ucap Meta yang sepertinya tidak tahan lagi dengan sikap Gilang. Gilang hanya menghembuskan nafasnya lelah, seolah ia sudah sering mendengar kalimat yang barusan diucapkan Meta itu.

"Kita emang udah temenan dari kecil Ta.. Tapi perasaan aku nggak lebih dari seorang sahabat. Aku bersikap kayak gini ke kamu karna aku nggak mau ngasih harapan yang nggak bisa aku pertanggung jawabkan. Aku cuma mau buat kamu jera, dan hilangin perasaan itu ke aku." Gilang mencoba menjelaskan kepada Meta secara baik-baik.

"Kenapa Gilang? Apa karena anak SMA itu?" Gilang sedikit terpancing dengan kalimat Meta.

"Maksud kamu?"

"Udahlah Gilang. Aku tau kok, kamu suka sama anak itu kan?" Gilang terdiam.

"Gilang, kalo kamu nganggep aku sahabat, aku akan ngejelasin ke kamu sebagai sahabat. Biar kamu sadar dengan arti perasaan kamu sesungguhnya." Meta memberi jeda sedikit sebelum menyambung kalimatnya.

"Kalian belum ada dua bulan kenal, kalo kamu nganggep perasaan kamu itu cinta, kamu salah. Kamu sudah dewasa, pasti kamu sudah bisa membedakan mana cinta, dan mana perasaan yang hanya sekedar nafsu pada seorang gadis." Gilang berpikir apa perasaannya memang hanya sekedar nafsu? Bukannya cinta? Tapi entah kenapa dia tidak dapat membedakan kedua hal tersebut.

"coba kamu pikir, Alesha masih pelajar, dia masih remaja. Remaja itu adalah saat dimana mereka sedang mencari jati dirinya, perasaan mereka selalu berubah-ubah. Mereka belum tahu arti cinta yang sebenarnya, begitupun dengan Alesha. Dia hanyalah remaja yang masih labil, Gilang." Gilang merasa bahwa ia tidak dapat menerima perkataan Meta. tapi yang dikatakan Meta itu ada benarnya, dan dia tidak bisa menyangkal.

"Aku mau balik kerja." Gilang segera berdiri dan meninggalkan Meta tanpa berbicara lagi. Sedangkan Meta tersenyum penuh kemenangan sepeninggal Gilang. Ia merasa telah berhasil mencuci pikiran Gilang.

***

Alesha mengayunkan kedua kakinya di balkon sekolah sambil memerhatikan beberapa siswa yang sedang bermain basket dibawahnya. Hal seperti ini selalu ia dapatkan di novel. Saat sedang dalam masalah, biasanya murid akan pergi ke atap sekolah untuk melampiaskan masalah mereka.

"Biasanya di novel kayak gini... Duduk dibalkon sambil minum-minum atau ngerokok kalo lagi ada masalah. Mereka nggak takut apa kalo ketahuan sama guru BK?" Alesha kemudian menoleh dan memerhatikan minuman yang ada disampingnya.

"Apalah gue yang cuma bisa minum sprite..." Alesha terkekeh sendiri. Beberapa saat kemudian, ekspresi wajahnya berubah menjadi sendu.

"Jangan percaya novel, apalagi drama korea." Alesha memdongak dan mendapati Dimas yang tiba-tiba muncul disana. Dimas kemudian duduk disamping Alesha dan ikut memerhatikan keadaan dibawah mereka.

"Gue udah tau kok, biarpun lo nggak cerita." Alesha bingung. Apa maksud Gilang adalah dia tahu masalah Alesha? Tapi mana mungkin, hanya Lena dan dirinya sendiri yang tahu semua masalah tersebut. Tunggu dulu...

"Sial..." Gumam Alesha pelan.

"Nggak usah kesal sama Lena. Niat Lena baik kok, dia itu percaya kalo gue adalah ketua kelas yang pintar, penasehat handal, dan cowok ganteng." Alesha sedikit terkekeh mendengar ucapan Dimas.

"Udahlah Al... Jangan percaya novel, apalagi drama korea. Semuanya itu cuma fiksi. Laki-laki kaya yang ketemu cewek miskin terus mereka hidup bahagia, badboy jatuh cinta sama nerd, artis nikah sama fans, semuanya itu hanya untuk hiburan, bukannya kenyataan."

"Maksudnya?"

"Maksud gue, kita itu masih remaja. Suka sama laki-laki itu biasa, belum jadi cinta. Contohnya kalo lo lagi nonton drama korea, terus lo langsung suka sama pemeran laki-lakinya. Perasaan lo sekarang ke Gilang itu sama saat lo lagi nonton drama korea Sha.." Alesha tampak meresapi ucapan Dimas.

"Gilang itu bukan Ahjussi rasa Oppa yang kayak di drama korea itu loh, gue lupa... Jadi lo jangan nganggep serius sama perasaan lo. Gue tau, dulu lo suka sama gue kan? Tapi liat, perasaan lo berubah kan?" Ucapan Dimas benar. Alesha mulai berpikir kalau perasaannya ke Gilang mungkin hanya sementara. Seperti saat dia menyukai aktor korea yang menurutnya tampan.

"Makasih Dim, lo emang penasehat yang handal. Tapi... Itu yang barusan lo bilang,  kok gue dengernya lo PD banget yak?" Alesha mencoba mencairkan suasana yang menurutnya terlalu serius.

"Emang iyakan? Hahahahaaa..." mereka tertawa sejenak kemudian suasana kembali hening.

"Jadi, gue harus gimana?" tanya Alesha.

"Hilangin perasaan lo yang sekarang, dan balikin perasaan lo yang dulu...." Dimas menggantung kalimatnya yang membuat Alesha menatapnya dengan alis yang terangkat tanda penasaran.

"...ke gue." Alesha terdiam memandang bola mata hitam Dimas. Alesha merasa ada rasa tulus yang terdengar dari kalimat Dimas barusan.

Aksi tatap-menatap mereka berakhir saat bel tanda masuk berbunyi, dan lapangan basket yang tadinya dipenuhi para siswa kini sudah kosong.

****










Prison And You (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang