"Esha...."
"Bunda..."
"Al..."
"Lena.."
"Sha..."
"Dimas.."
"Le.. Ale-Alee..."
"Jon.. Joni.. Kalian pada dimana?.."
"Al... Aleshaa.. Esha... Shaa..." semua suara itu kini bersahut-sahutan ditelinga Alesha. Alesha sontak terbangun dan langsung terduduk dikasurnya. Keringat dingin membanjiri seluruh wajahnya.
"Kok gue mimpiin mereka ya?" Gumam Alesha sambil menatap keluar jendela.
"Bunda... Esha rindu." Gumam Alesha lagi.
"Jangan rindu, berat. Esha gak akan kuat, biar Bunda saja." ucap Alesha sambil meniru suara Rena, bundanya. Alesha terkikik sendiri saat menirukan kata-kata puitis dari film yang sedang booming itu.
"Gue bahkan baru liat trailernya." Alesha bergumam sedih sambil mengingat film yang sedang tayang di bioskop itu. Lena dan dirinya sudah membuat janji untuk menonton film itu bersama-sama. Tapi apa boleh buat, sekarang ia sedang terkurung ditempat ini, mungkin untuk selamanya?
Alesha langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tidak boleh memikirkan untuk tinggal disini selamanya, ia harus yakin kalau ia pasti akan keluar dari tempat ini.
"Nggak, gue nggak boleh mikir kayak gitu. Gue pasti bisa keluar dari tempat ini, pasti." ucap Alesha sambil menepuk-nepuk kedua pipinya berulang kali.
"haus.." Alesha menuruni tempat tidurnya dan hendak menuju kedapur.
Alesha meneguk satu gelas air putih. Kepalanya terasa pusing, ia kemudian menempelkan tangannya di dahinya untuk mengecek suhu badannya.
"eh, gue demam? Pantes aja dari tadi gue lemes. Sekarang gue gak boleh ngeluh, gak ada yang bisa bantuin gue disini. Yang kuat Alesha, fighting!" ucap Alesha semangat untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Eh, siapa yang dateng jam segini?" ucap Alesha penasaran saat mendengar suara deru mobil dari luar. Ia kemudian melihat jam dinding yang terpampang disana, masih pukul empat subuh.
Alesha memberanikan diri untuk keluar dan melihat siapa yang datang. Ia melotot saat melihat Gilang yang baru saja keluar dari sebuah mobil hitam dengan langkah sempoyongan.
"Bos!!" panggil Alesha yang tidak digubris sama sekali oleh Gilang. Alesha kemudian berlari menghampiri Gilang.
"Bos, Bos! Bos kenapa? Kok jalannya kayak zombie?" tanya Alesha sambil meneliti tubuh Gilang.
"bau apaan nih? Bos, Bos mabuk ya? Duh, hobi bapak-bapak jaman sekarang kalo nggak mabuk ya teler." Alesha memegang kepalanya dan panik sendiri.
"Ini juga pengawal botaknya pada kemana coba? Giliran dibutuhin juga pada nggak ada, giliran nggak dibutuhin pada ngumpul. Ntar gue pecat pada tau rasa. Eh, hehehee.." omel Alesha merutuki para pengawal yang biasanya siap sedia 24 jam itu.
"Eh?" Alesha melangkah mundur saat Gilang berjalan mendekatinya.
"Om... Om, Insyaf Om.. Ini udah mau sholat shubuh Om." ucap Alesha terbata-bata sambil melambaikan tangannya dihadapan wajah Gilang. Namun Gilang tidak menanggapinya, ia terus berjalan kearah Alesha hingga menubruk tubuh Alesha. Mereka berdua terjatuh ditanah dengan posisi saling bertindihan. Gilang sudah kehilangan kesadarannya, sedangkan Alesha merasa ada sebuah benda keras yang baru saja membentur kepalanya. Kepala Alesha semakin pusing, dan perlahan semuanya menjadi gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prison And You (Completed)
Teen FictionAlesha, gadis SMA blak-blakan yang harus menanggung tuduhan atas nama ibunya dengan menjadi korban penculikan ditengah-tengah liburan singkatnya. Ia dipaksa menjadi pembantu oleh Bos besar yang bertanggung jawab atas penculikannya. Tidak tahu jalan...
