Aku sudah jatuh cinta dengan gunung, gunung sekarang nampak lebih indah bagiku. Gunung tahu semua kisahku, gunung mengerti apa yang kubutuh kala itu. Gunung mengajariku arti perjuangan, mencapai puncak tidaklah mudah sama seperti hidup menuju mimpimu tidaklah mudah banyak sekali yang harus kamu terjang termasuk terik dan hujan bahkan darah jika diperlukan.
Sebab dia aku jatuh cinta dengan gunung aku suka dengan gunung aku suka sebab dengan dia gunung nampak indah katena senyumnya gunung nampak ramah. Sebab dia gunung menjadi tempat saat gundah gulana bahkan kehilangan jalan dan harapan. Seolah gunung tahu apa yang kurasa dan tahu apa isi hati sang penggundah.
Kali ini pendakian yang menurutku paling sempurna sebab tak ada kekurangan. Biasanya banyak sekali yang kurang seperti logistik tenda yang kotor cuaca yang ekstrem dan banyak sekali. Tapi kali semua terpenuhi tenda yang nyaman dan logistic makanan yang mumpuni. Semua terasa begitu pas waktu ku mendaki dengan persiapan yang menurutku bagus sekali.
Bayangkan saja kalian ingin mendaki gunung dan sempat sempatnya membeli sebuah bakso dan berniat dimakan saat sudah sampai puncak yang diharapkan gimana gak unch. Kalian bisa makan bakso diatas gunung ditemani udara gunung yang umumnya menembus kulit bahkan menusuk tulang. Huh kukira itu nikmat sekali.
Aku mendaki dengan penuh perasaan bahagia seperti semua sudah tak kukhawatirkan semua nampak semua pas tak ada yang kurang termasuk tangan dia yang masih bisa kugenggam, pipinya yang masih bisa kucubit. Asal kau tahu jika kau tahu pipinya aku jamin kalian pasti ingin mencubitnya bahkan ingin sekali menggigitnya itu pipinya mengemaskan sungguh.
Kumendaki tanpa perasaan lelah atau sebagainya walau terkadang berhenti hanya sekedar membasahi tenggorokan. Aku suka pendakian kali ini tawa canda nampak beradu didalam perjalananku dengannya. Seolah dunia sedang bersahabat memberiku ruang luwas bisa tertawa dengannya dengan hal hal yang tak jelas dibicarakan tapi menjadi sebuah canda yang tak terlupakan.
Kubangun sebuah tenda menghindarkanku dari terik dan panasnya dunia. Kunyalakan kompor portable itu, kumasukkan 2 bungkus mie instant (biasanya aku pakai indomie entah kalau kalian itu selera kalian saja) iya kutunggu sampai masak dan tidak lupa kuberi boncabe agar rasanya bisa membakar tenggorokan dengan hawa gunung yang semakin bersahabat.
Kupanaskan bakso yang kubeli tadi dan terasa sempurna makanan yang layak saat berkemah. Dan ditemani kopi hangat hasil buatan pabrik yang bermerk good day vanilla seakan sekarang hawa gunung semakin mendukung agar aku segera makan dan mengisi kerinduan dengan kopi hangat. Dan benar memang sempurna sekali rasanya walau kutahu kesempurnaan hanya milik tuhan tapi ini sempurna sekali buatku.
Dan pulang pun telah tiba aku pulang dengan keadaan basah akibat hujan yang mengguyur seperti badai. Jalan raya nampak seperti sungai, sungguh jika kau mengalaminya aku lebih menyarankan kau untuk berteduh. Bahaya jika kamu nekat melawan hujan itu, sungguh deras sekali kala itu.
Tapi saat sudah sampai rumah aku tak menyangka ini menjadi yang terakhir. Bukan terakhir dari hubunganku tapi terakhir aku mendaki dengannya. Aku tak tahu apa penyebabnya dan yang aku tahu aku hanya rindu, rindu suara alam waktu itu juga rindu kamu genggam tanganku dan berkata aku sayang padamu.
"Gunung akan tetap menjadi gunung ia tak kan pernah berubah. Sebab yang berubah bukan gunung namun perasaan orang yang pernah mendakinya bersama"
~bangpian~
KAMU SEDANG MEMBACA
PANDANG PERTAMA
RomansaAkun author berubah menjadi @Bangpian Sebuah kisah tentang remaja SMA yang jatuh cinta dengan adik kelasnya yang baru masuk ke SMAnya Sebuah kisah yang berawal dari cinta pandangan pertama yang mungkin lucu bagi sebagian orang yang mungkin membosank...
