" Good morning Netaaaa. Guten morgen Neta. Buenas dias Neta. Bojour Netaaaaaa " sapa Mishall pada Neta yang baru saja tiba di sekolah. Mishall memang terbiasa menggunakan bahasa-bahasa asing yang hampir tidak diketahui artinya oleh teman-temannya.
" pliss deh pagi-pagi nggak usah kek radio rusak gitu bisa nggak? " protes Neta yang merasa terganggu dengan suara cempreng temannya yang satu ini.
Mishall hanya memamerkan cengirannya. Neta rasanya ingin muntah melihat cengiran itu. Tapi anehnya kenapa dia betah berteman dengan manusia aneh satu ini?.
Ya karena mereka berteman bukan karena fisik, tapi mereka melihatnya dengan ketulusan hati. Apa jadinya jika kita berteman melihat fisik? Bagaimana nasib orang diluar sana yang memiliki keterbatasan fisik? Tentu itu tidak akan adil.
Mishall dan Neta berjalan menyusuri koridor menuju kelas mereka. Saat hendak berbelok, Mishall menjerit kaget melihat Rio berada tepat di hadapannya.
" setannnnnn!!! " Mishall menjerit dan dengan cepat Rio membekap mulut Mishall yang berteriak cukup keras. Bahkan Neta yang berada di sebelahnya terbelalak kaget. Kemudian Rio melepaskan tangannya dari mulut Mishall.
" ehhh kampret!! Dia Rio bukan setan! " ucap Neta pada Mishall yang sedang mengatur nafasnya.
" hehh jangan seenak jidat panggil-panggil gue setan yaa! Berhenti lo panggil gue setan! Nama gue Rio! " jelas Rio panjang lebar pada Mishall.
Sepanjang apapun dan selebar apapun Rio menjelaskan pada Mishall, tak akan pernah masuk dalam memory Mishall. Dia selalu mengabaikan hal-hal yang menurutnya tidak penting.
" udah lahhh nggak usah ribut pagi-pagi! Mending ke kelas aja yuk Shall. Gue ke kelas dulu Yo " pamit Neta pada Rio, Rio tak menjawab sedikitpun tetapi keduanya sudah berlalu. Mishall mengikuti langkah Neta menuju kelas mereka.
Sebenarnya Neta mendukung dua manusia aneh ini, tapi tidak untuk saat ini. Dan yang membuatnya bingung kenapa dia sangat mendukung?. Mungkin karena mereka cocok? Mungkin saja.
Rio melihat kepergian mereka berdua. Bahkan sampai punggung mereka tak terlihat, barulah Rio membalikkan badannya.
Lysta dan Lita sudah berada di kelas lebih dulu. Karena terbilang rumah mereka tidak terlalu jauh dari sekolahan. Mishall berlari menuju kedua temannya itu dan memeluk mereka erat.
" lepasin Shall woyyy gue susah napas nihhh kampret!! " protes Lita pada Mishall.
" aku kangen kalian muach muach " ucap Mishall semakin mempererat pelukannya. Sedangkan kedua temannya sudah berusaha melepaskan pelukannya.
" iya kangen sih kangen tapi nggak buat anak orang mati juga kali uhukk uhukk " ucap Lysta sambil terbatuk karena susah bernapas.
Lagi-lagi Mishall hanya memamerkan cengirannya. Mishall dan Neta meletakkan tasnya di bangku mereka dan menuju ke bangku dimana Lysta dan Lita duduk.
" gimana konser lo Shall? Ada kabar katanya lo ditonton sama si pembalap yang itu yah? " tanya Lita dengan kedua alisnya yang dinaik turunkan menggoda Mishall. Dengan santainya dan tanpa beban, Mishall menjawab iya sekaligus anggukan.
" lo nyanyi apaan sih? Lo nggak nyamperin tuh anak? " tanya Lysta yang tidak kalah penasarannya. Mishall dan Neta duduk tepat di depan bangku milik Lysta dan Lita.
" lagu kesukaan aku banget!!! " Mishall menjawabnya dengan penuh semangat. Bahkan dirinya sempat memejamkan kedua matanya dan tersenyum-senyum sendiri untuk membayangkan keindahan lagu kesukaannya itu.
" ehh kampret!! Ditanya malah senyum-senyum sendiri. Dah gila lo?? " Lita menoyor kepala Mishall pelan dan seketika Mishall sadar dan langsung memasang wajah masam.

KAMU SEDANG MEMBACA
MISHALL
Teen FictionRank #1 Geng motor 8/8/18 Rank #3 Ceria 8/8/18 Rank #10 Coolboy 8/8/18 Mawar hitam 1. Elegant, ya lo itu cewe elegant yang nggak banyak neko-neko. 2. Indah, lo enak dipandang, nggak bosenin dan manisnya lo itu nggak baik buat jantung gue. 3. Berharg...