About Heart

149 27 11
                                    

Pagi yang cukup mendung dan berawan itu membuatnya terlalu malas untuk beranjak dari tempat tidur. Kalau saja Jongin tidak datang dan secara paksa menarik lengannya untuk turun dari kasur, mungkin ia bisa melanjutkan tidurnya sampai siang.

"Berapa jam kau bermain game semalam?" tanya ibunya yang juga berada di kamarnya, membantu Jongin memaksanya bergegas dari kasur.

"Molla," gumam pria itu dengan mata setengah terbuka.

"Cepat bersiap-siap dan ayo berangkat ke sekolah!" perintah Jongin seraya memutar tubuh Sehun, kemudian menepuk-nepuk punggung pria itu.

"Kau saja. Aku izin hari ini," gumam Sehun.

"Yang benar saja. Apa kau tidak ingin bertemu kekasihmu hari ini, hm?"

"Aku akan bertemu dengannya nanti malam."

"Cepat bersiap. Aku akan menunggumu di bawah," Jongin mendorong Sehun ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya, kemudian ia keluar dari kamar Sehun.

Pria itu menggosok giginya, kemudian membasuh wajahnya. Ia sama seperti kebanyakan penduduk Korea, lebih memprioritaskan mandi saat malam hari.

Setelah itu, dia mengenakan seragam sekolahnya, memasukkan buku ke dalam tas, memakai sepatu, dan segera turun ke ruang makan. Di sana Jongin sedang sarapan sambil sibuk dengan ponsel.

"Tak bisakah kau sarapan di rumahmu sendiri?" tegur Sehun pada Jongin. Selama ini karibnya itu gemar sekali mengotori meja makan di rumahnya, numpang makan, dan menghabiskan berbagai konsumsi yang disediakan di dapur.

"Sehun~ ah, jangan seperti itu," timpal sang Ibu.

"Masakan Ibuku tak selezat masakan Ibumu. Lagi pula Ibu dan Ayahku sudah berangkat kerja sejak pagi buta," tutur Jongin.

Sehun mencibir. Mana ada seorang anak yang memuji masakan orang lain lebih baik daripada masakan ibunya sendiri? Sehun yakin hanya Jongin orangnya.

"Kau pikir aku peduli?" ujar Sehun, setelah itu menggigit sepotong roti.

"Eomma, di mana Namjoo?" tanya Sehun.

"Ada di kamar, dia sakit," jelas sang Ibu.

"Sakit?"

Setelah selesai menyantap sarapan, Sehun dan Jongin segera berangkat ke sekolah. Di perjalanan, berkali-kali Jongin menjahili dan membicarakan hal-hal yang melantur serta tidak penting. Sehun sama sekali tak menghiraukannya, hanya diam dan berkali-kali mengabaikan Jongin.

"Sehun~ah, menurutmu aku bagaimana?"

Mendengar pertanyaan Jongin yang membingungkan itu, Sehun hanya mengedikkan bahu.

"Aku bertanya serius. Menurutmu, aku ini bagaimana?"

"Bagaimana apanya?"

"Apa aku terlalu buruk sampai orang yang aku sukai tidak menyukaiku?"

"Mwo?" desis Sehun. Ia menatap Jongin penuh pertanyaan.

"Bukankah aku terlihat lebih baik darimu? Kenapa orang yang aku sukai harus menyukaimu?" ujar Jongin. Kedua matanya menerawang jauh ke depan.

Ada kerutan konsentrasi di kening Sehun. Meski tipis, tapi itu bisa mendeskripsikan betapa sensitifnya bahasan yang Jongin mulai.

"Kau membahas masalah itu lagi?" balas Sehun datar. Karena masalah perasaan pada Eun Ji, hubungannya dengan Jongin pernah renggang. Sekarang saat sudah berbaikan, tampaknya membahas hal tersebut masih terdengar sakral.

"Maksudku, apa yang salah dariku? Memangnya aku ini kenapa sampai tidak pantas untuk disukai?" tutur Jongin. Ucapan Jongin itu terdengar litotes di telinga Sehun.

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu hanya karena satu wanita tidak membalas perasaanmu?" kata Sehun.

Jongin diam. Seharusnya ia memang tidak perlu tiba-tiba menjadi inferior seperti ini. Tapi hatinya terlanjur jatuh cinta pada Eun Ji. Dan yang menyakitkan, ia menyaksikan wanita yang ia cintai memiliki hubungan yang sangat dekat dengan sahabatnya sendiri.

Namun, Jongin paham bahwa memaksakan perasaan pada orang lain bukanlah hal yang baik. Eun Ji sudah menentukan pilihannya dan senantiasa menghadirkan Sehun di hatinya. Lalu, jika sudah begitu, Jongin bisa apa?

"Aku tak peduli sedekat apa kita berdua, tapi aku ingin memperingatimu bahwa aku akan tetap bersama Eun Ji," ujar Sehun tajam.

Melihat mata elang karibnya itu mendadak sangat dingin, Jongin tertawa untuk mencairkan suasana. Ia tidak mau kejadian perselisihan waktu itu terulang lagi. Dirinya dan Sehun sudah mampu berpikiran dewasa, bertengkar karena cinta merupakan hal yang memalukan.

"Jangan serius seperti itu. Aku hanya bercanda," ujar Jongin sambil menepuk-nepuk bahu Sehun.

***

"Ya, Oh Sehun!"

Sehun menghentikan langkahnya ketika namanya disebut. Ia berbalik dan mendapati Chanyeol sedang berjalan menghampirinya.

"Tolong bagikan lembar soal ini ke semua murid di kelas. Kyung~Ssaem akan segera datang ke kelas," ujar Chanyeol sembari menyodorkan setumpuk kertas pada Sehun.

"Kenapa tidak kau saja yang membagikannya?" tanya Sehun datar. Ia memerhatikan gerak-gerik Chanyeol.

Sesaat kemudian, Chanyeol menurunkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih ia gunakan untuk menyodorkan lembaran kertas tersebut.

Sehun tersenyum miring. Ia sempat melihat apa yang ada di tangan kiri pria itu. Itu adalah sebuah flashdisk.

Bukan sekali dua kali Sehun datang ke ruang guru dan berhadapan dengan Park Sang Kyung, wali kelasnya. Jadi, ia tahu betul bahwa flashdisk itu adalah milik Park Sang Kyung.

Sehun menoleh ke sekelilingnya, mengamati keadaan koridor lantai dasar yang tidak terlalu ramai. Ia ingin menghakimi dan menegur Chanyeol, tapi ia tahu bahwa menegur seseorang di hadapan banyak orang adalah jahat.

Agar tak mempermalukan Chanyeol, ia pun melangkah maju mendekati pria itu.

"Apa kau akan mencuri jawaban untuk ujian hari ini dari benda itu?" tanya Sehun dengan suara pelan dan rendah. Ia sudah memastikan bahwa hanya Chanyeol yang bisa mendengar suaranya.

"Bukankah kunci jawaban di benda itu juga kau gunakan untuk menyalin jawaban dan memberikannya pada Chorong waktu itu?" tanya Sehun lagi. Kali ini dengan suara yang sangat tajam.

Melihat Chanyeol hanya diam dan meliriknya penuh kesinisan, Sehun tersenyum simpul. Ia pun menepuk-nepuk bahu ketua kelasnya itu.

"Gwaechana, aku tidak akan besar kepala dan mengadukanmu karena hal ini. Tapi ingatlah, jika perbuatanmu ini harus menumbalkanku lagi seperti waktu itu, aku benar-benar akan membuatmu berada dalam masalah besar."

Setelah berkata begitu, Sehun mengambil alih setumpuk kertas dari tangan Chanyeol dan berlalu pergi.

***

WaveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang