Malam yang bersejarah, kisah yang tak dapat dibeli oleh uang. Mungkin itu definisi yang dapat menggambarkan "waktu mereka".
"Go, lo aja yah yang ngeditin video, soalnya kan lo itu paling kreatif dan paling bisa diandelin, iya kan Dimas!?", kata Ayu dengan nada jaim.
Dimas yang sibuk main ML tidak menghiraukan kata-kata Ayu.
"Ok, sip!", jawab Figo.
"Jangan ngaret kalau kerjain, Go. Kalau sampe nih tugas gak selesai, gue kecewa ama lo...", kata Putri.
Figo memang selalu di percaya sahabatnya mengerjakan setiap ada tugas kelompok, itulah Figo, selalu saja berkorban.
"Aku pulang dulu yah ama Lusiana, Lus ayo!", ajak Wilya.
Lusiana masuk ke dalam dulu untuk mengambil tasnya.
"Gue ikut juga, udah ngantuk nih... Pengen bobooo dirumah...", ucap Rizal dengan nada manja.
"Ahhhhhhh, kaka Rizal... Sarangheyo! Cute banget!!!", goda Vivi.
Karena masih memilki kesibukan dan kehidupan masing-masing, Figo dan kawan-kawan kembali pulang.
Keesokan harinya, satu hari sebelum tugasnya dikumpul, Vivi bertanya ke Figo.
"Go, gimana udah selesai?".
"Iya nih, Figo! Udah selesai belum... Awas yah kalau sampe tugas masih ngambang!", sambung Dimas.
Karena merasa di desak, Figo mulai merasa badmood dan akhirnya amarahnya membludak.
"Apaan sih! Lo pikir gue robot, gue gak punya titik lelah dan bosan!? Tunggu aja kali... Pasti gue bakalan kerjain, lo jang...", marah Figo.
"Eh nyantai aja lo!", seru Dimas.
"Kalau gue belum berhenti ngomong jangan potong, bangsat!", sambung Figo.
Karena melihat suasana semakin menjadi-jadi, sedang Lusiana dan Wilya hanya bisa menonton sambil ngemil, Putri pun angkat bicara.
"Udah-udah, lo tuh yah! Dimas, Vi! Nanya mulu, nanya mulu... Kalau udah selesai pasti bakal dikasih tau kok! Lo juga Go, santai aja kali... Gak usah bawa emosi! Kita gak manfaatin lo yah, lo nya aja yang mau kerja sendiri!", sanggah Putri.
Karena merasa tak dihargai dan penuh oleh ambisi yang membara, Figo meninggalkan sahabatnya dan tanpa sengaja menabrak Rizal yang baru datang.
"Eh, Figo kenapa? Ada masalah yah?", tanya Rizal.
"Biasa, salah paham. Baru gue tanya soal tugas udah emosi! Lah, gue kan juga ikut emosi jadinya...", kata Dimas.
"Makanya, kalau gak sabar lo taulah apa dampaknya! Lihat, sekarang kacau kan! Gimana kalau Figo down... Lo mau Figo kayak dulu lagi?", ucap Rizal.
"Udahlah, nanti juga baikan... Gak bakal kita sekelas musuhan terus! Dan plis, Zal! Gak usah ungkit ungkit masa lalu.", sambung Ayu.
Tring...tring... Tring...
Menandakan awal penjajahan dimulai, Lusiana yang tak melihat Figo tak kunjung datang berinisiatif untuk mencari Figo.
"Duh, Figo mana nih?", ucapnya dalam hati.
"Guys, Figo mana nih? Aku mau cari dulu yah, kalau guru nanya... Bilang aja gue ke WC!", ucap Lusiana di hadapan teman temannya.
Kira kira hampir 30 menit mencari, akhirnya Lusi mendapati Figo di area sawah belakang sekolah.
"Go, ngapain disini? Udah masuk lo kita, ayo ke kelas!", ajak Lusiana.
"Duluan aja, Lus. Gue emang gak pernah bisa nyatu dengan kalian, gue emang gak mampu menjadi sahabat kalian! Gue tau kalau gue ini feeling boy, tapi jangan nuntut sampai segitunya dong.", jawab Figo dengan raut wajah yang sedih.
Mungkin inilah yang dinamakan takdir dalam artian sejati, Figo dan Lusiana akhirnya bisa connect dan jadi sahabat yang tak pernah mereka duga duga karena moment yang tepat itu.
"Ok deh, Lus. Makasih yah karena udah denger aspirasi gue, hmmmmm... Gue ngerasa lebih baik setelah bicarain keluh kesah gue!", kata Figo.
Merekapun kembali ke kelas dengan bahagia sambil berbincang membahas hal hal bodoh.
Quotes:
"Sahabat sejati tidak dibeli, tapi akan muncul dengan sendirinya bersama dengan luka yang membekas."
KAMU SEDANG MEMBACA
saudara tak sedarah
Teen FictionSebuah kisah yang dibumbui dengan imajinasi epic, yang bercerita tentang seorang individu yang sulit menjadi dirinya sendiri. individu ini menjalani takdir yang luar biasa dengan menemui seseorang dalam naskah kehidupannya yang mampu membuat dirinya...
