"Masuk ke mobil!", Seru Padli.
Figo berpasrah dan mengikuti segala instruksi yang diberi oleh Kakak nya.
Di dekat Kakak nya, bersama-sama dalam mobil lagi, Figo merasa berada di titik terendahnya, tak menyangka hari itu benar nyata.
"Kamu pikir kamu siapa?", Terdengar suara dingin Padli bertanya.
Figo menundukkan kepalanya.
Padli melayangkan pandangan tajam ke Figo.
"Kamu pikir kamu siapa!!!", Teriak Padli yang merasa tak dihargai.
"Kalau ada seseorang yang mengajak kamu berbicara tatap matanya, balas argumennya!", Sambungnya.
Figo mulai menatap Kakak nya.
"Sa-sa-saya adikmu.", Jawab singkat Figo.
Padli tertawa kecil, tangannya mengepal kencang di gagang stir mobil lalu mengerutkan dahinya.
"Lo ngaku adik saya? Kamu tidak malu! Saya tidak sudih punya adik pembunuh!", Balas sinis Padli.
Air mata Figo begitu kencang mengalir, tak menyangka hinaan serendah itu berasal dari seseorang yang sedarah dengannya.
"A-a-aku...", Kata Figo yang lalu di berhentikan oleh Kakak nya.
"Diam!!! Kamu tidak berhak berbicara. Pembelaan apa lagi yang ingin kau katakan?", Salip Padli.
Figo menutup matanya yang lelah...
"Ka...", Suara lembut Figo.
"Tolong, Kak... Aku tak pernah berharap kita harus dewasa tanpa Ayah dan Ibu di samping kita. Aku tak pernah mengharapkan itu. Andai jika bisa, tak apa jika aku yang pergi, tak apa jika kasih sayang Ayah dan Ibu untuk Kakak semata... Jika itu membuatmu bahagia aku pasti tak akan melewatkan kesempatan itu", Sambungnya.
Tak terasa Kakak Figo menitikkan sebutir air mata.
"Harusnya kau malu Figo, malu sebab mengharapkan ketidakpastian, berpikir akan hal yang palsu. Kau bukan siapa-siapa! Kau tidak bisa memutar waktu. Satu hal yang pasti, Ibu dan Ayah lenyap di tanganmu!", Jawab Padli dengan penuh penekanan.
Sesak nafas Figo mendengar nya, pecah tangis Figo lagi dan lagi...
"Stop. Ku bilang stop!!!", Teriak Figo.
Namun Padli tak menghiraukan.
"Ada apa? Kau ingin membunuhku juga? Sama seperti yang kau lakukan pada Ayah dan Ibu, Figo?", Sambar Padli.
Figo tak bisa menahan lebih lama lagi sakit hatinya...
"Aku bukan pembunuh!", Jawab tegas Figo.
Clik... Clik...
Figo membuka sabuk lalu pintu mobil.
"Apa yang kau lakukan!!!?", Tanya Padli.
Namun Figo seolah tuli dan tak menghiraukan apa yang selanjutnya terjadi.
Figo melompat dari mobil.
Brukkk... Brakkkk....
Tangan Figo berdarah, kakinya terluka, kepalanya berdarah... Luka menang.
Citt.. Crittt.... Cit...
Padli nge-rem mendadak dan berlari ke arah Figo.
"Apa yang lo lakuin!!!", Tanya Padli.
"Saya yang harusnya bertanya, kamu sadar atas apa yang kamu lakulan!?", Tanya balik Figo.
Padli semakin mendekat ke arah Figo...
"Lo nanya ke gue?", Tanya Padli sambil mendorong memojokkan Figo.
"Ha!!! Apa lo gak sadar diri? Ha!!!", Sambungnya.
Figo merasa risih. Ia menyingkirkan tangan Kakak nya
"Saya sadar!", Jawab Figo dengan penekanan.
"Kamu sadar apa?", Tanya Padli lagi.
Figo menghapus air matanya lalu memeluk Kakak nya.
Figo larut dalam tubuh hangat saudaranya.
"Aku sadar sekuat apapun ku mencoba, sekeras apapun ku berteriak... Sulit menemukan maafmu, dirimu yang bahagia.", Kata Figo.
Padli terpaku, terpaku namun tak sanggup membalas pelukan Figo.
"Terima kasih, terima kasih sebab masih menyayangiku walaupun hanya setetes embun. Kakak berhak menyalahkanku aku tak bisa melarang... Namun, kamu juga perlu tahu aku juga punya titik lelah.", Sambung Figo.
Figo melepaskan pelukannya lalu berjalan mundur perlahan.
"Dan ku rasa ini adalah akhirnya... Aku tak sanggup menghembuskan nafas lagi! Tak ada yang mencintaiku. Seramai apapun, aku selalu merasa sendiri", Sedih Figo.
Figo menghapus air matanya lalu tersenyum kecil.
"Yang ku inginkan hanyalah sapaan mu ketika fajar menjemput, sarapan yang kau buat sama seperti yang ibu lakukan dulu, senyummu yang hebat ketika ku lemah sama seperti yang ayah lakukan dulu, pelukanmu, kasih sayangmu, cintamu... Hanya itu yang sebenarnya ku butuhkan! Naasnya, kau tidak ada ketika aku perlu sandaran. Kau menang, aku yang terluka.", Keluh kesah Figo.
Mata Padli memerah, ada rasa ingin memeluk adiknya... Namun egonya masih berkuasa.
"Kak, terima kasih atas segalanya, aku tak bisa bertahan lagi aku lelah. Selamat tingg...", Kata Figo namun harus terhenti.
Gubrakkk... Brakkk.... Pragggg....
Betapa terkejut Padli atas apa yang barusan terjadi di hadapannya, kejadiannya berlangsung beberapa detik namun waktu serasa berhenti.
Air matanya menetes lebih deras dari sebelumnya, bahkan ketika hari ia kehilangan orang tuanya.
Satu-satunya Adik yang ia miliki memilih pergi.
"Figo...", Senduh suara Padli.
Padli memalingkan kepalanya ke arah titik terakhir mobil yang menabrak Figo.
"Figo!!!", Teriak Padli.
Padli berlari sekencang yang ia bisa menuju Figo. Teriakannya lebih kencang, tanginya hebat.
"Fi-fi-figo...", Suaranya tergesah-gesah.
Menetes air mata Padli di pipih Figo yang penuh darah, ia terlambat menyadari.
"Figo!!! Bangun Figo!", Ketakutan serta rasa was-was menguasai Padli.
"Bangun! Jangan pergi. Kaka banyak menyalahkanmu, selalu membentakmu. Figo! Buka mata kamu! Buka! Kakak janji jika kamu bisa menamparku sekaranh Kakak akan menjadi seorang Kakak yang seutuhnya untuk Kamu.", Sambungnya.
Padli hanya bisa memeluk adiknya, melihat wajahnya yang begitu berdarah, mencium tanpa menghiraukan keadaan Figo.
"Figo, maaf jika Kakak terlambat sadar, Kakak benar-benar minta maaf. Tetaplah bersamaku.", Ucap Padli yang penuh penyesalan.
Quotes:
"Di setiap kisah akan ada seseorang yang senang memberimu kesempatan. Berkali-kali bahkan beribu-ribu... Bukan sebab hatinya kuat, hanya saja soal cara pandangnya.
Namun ingat, semua orang punya titik lelah. Maka hargai."
KAMU SEDANG MEMBACA
saudara tak sedarah
Teen FictionSebuah kisah yang dibumbui dengan imajinasi epic, yang bercerita tentang seorang individu yang sulit menjadi dirinya sendiri. individu ini menjalani takdir yang luar biasa dengan menemui seseorang dalam naskah kehidupannya yang mampu membuat dirinya...
