Figo benar-benar mengubah pola pikir sahabatnya. Kini Figo terasa asing dimata orang yang menyayanginya, mungkin inilah takdir buruk yang dituliskan untuk Figo. Merasa kecewa akan sifat Figo kemarin, Lusiana berinisiatif untuk empat mata dengan Figo yang terlihat sendiri di bawah pohon belakang kelas. Lusiana menghampiri Figo lalu duduk didekatnya.
"Go...", sapa Lusiana.
Figo hanya memberi isyarat menjawab Lusiana.
"Lo tau kalau kita mulai gqk ngenal lo?", tanya Lusiana lagi.
Mendengar pertanyaan Lusiana, Figo langsung melihat Lusiana lalu berkata...
"Penting? Kalian mau kenal, gak kenal semua itu udah gua masukin ke kamu masa bodoh gua!", jawab sinis Figo.
"Begitu mudah yah lo bilang gitu... Asal lo tau aja, susah ngenal orang kayak lo!", kata Lusiana.
"Emang susah kenal orang yang beda, makanua jauhin! Gak usah sok akrab!", kesal Figo.
"Semua ini, semua masalah ini asalnya dari permasalahan sepeleh, Go!", ungkap Lusiana.
Lalu Figo menatap Lusiana lagi, ingin berkata tapi di potong oleh Lusiana...
"Ushhhhh! Gua tau lo mau bilang apa! Dia itu saudara, kan? Dia memang saudara... Lo itu orang terbodoh yang gua pernah kenal, tapi paling bisa buat gue berpikir lebih bodoh lagi kenapa orang-orang malah gak bisa ngelihat sisi terbaik dari individu seperti mu!", kata Lusiana yang terharu.
"Saat ini gua gak butuh kata kiasan, gua cuman butuh tamparan kata! Gua ingin lebih sakit lagi... Supaya gua lebih dewasa lagi tanpa harus menunggu umur!", balas Figo.
"Di luar sana masih banyak orang-orang lo! Yang menyayangi, yang mencintai, yang mengasihi tanpa kamu minta!", kata Lusiana.
Figo merasa sedikit open mind, open eyes! Tapi Figo hanya merasakan rasa dari lebih baik hanya hitungan detik bahkan menit saja...
L"Andai saja ada kata yang Tuhan ciptain, sekali ucap bisa fix anything! Maka gua akan ucapin setiap pagi ke semua orang.", tekad Fajar.
"Three magic world? Kau tahu kan? Apa itu tidak bisa memperbaiki semuanya? Kau susah melihat bahagia kalau kau tak bisa memperhatikan hal yang jelas ada didepan matamu!", balas Lusiana.
Mendengarnya seakan menyulut emosi tersendiri bagi Figo...
"Ahhh! Udahlah! Gak usah sok ngajarin gua... Gua mau pergi dulu, hilangin penat!", seru Figo.
"Mau ke mana?", tanya Lusiana.
"Nongkrong ama Dendi lah, sama siapa lagi!", jawab Figo.
"Ngerokok!? Tanya sinis Lusiana.
"Ya iyyalah! Lo pikir apa lagi.. Hari gini absen ngerokok! Bisa pusing gua!", jawab enteng Figo.
Mendengar jawaban Figo, Lusiana merasa sangat emosi... Iapun berdiri lalu menampar keras pipih Figo!
Pakkksssss!!!
"Auuuu! Salah gua apa lo tampar!!!", teriak Figo ke Lusiana.
Mendengar keributan yang terjadi di luar... Dimas dkk berlari menuju keluar!
"Gua gak mau lihat lo rusak hanya karena dia yang jarang perduli ama lo! Kurang yah perhatian dan tawa dari kami sehingga tidak ada yang bisa mengiri rapuhnya hati yang lo miliki!?", seru Lusiana.
Melihat Figo dan Lusiana cekcok Ayu pun angkat bicara.
"Apa-apaan sih nih! Kalian kenapa bertengkar? Kayak anak kecil aja!", tanya Ayu.
"Lo kenapa lagi, Go! Gak habis-habisnya yah lo bikin masalah mulu, lo pikir keren jadi diri lo yang sekarang?", sambung Wiwi.
Mendengar pertanyaan yang Figo anggap bodoh dan tidak perlu dijawab itu, menuntun Figo untuk meninggalkan mereka.
"Wow, masa bodo'!", jawab singkat Figo yang kemudian berjalan meninggalkan mereka.
Akan tetapi langkahnya di cegah oleh Rizal.
"Tunggu!", cegah Rizal.
Figo menatap tajam Rizal.
"Lo siapa! Lepasin gak!?", balas Figo.
"Lo gak berhak nyakitin hati orang-orang yang gak pernah beri lo luka di tempat yang sama!", kata Rizal dengan nada rada tinggi.
Dimas mendekat dan menahan Figo juga, lalu berkata...
"Berapa kali lo harus dibangunin biar lo bisa lihat kalau cahaya masih ada di hadapan lo!", kata Dimas.
Merasa di beri uluran oleh para sahabatnya, Figo menitikkan air mata...
"Menangis adalah hal yang terlemah dilakukan lelaki, tapi dari tangis lah kita menjadi kuat...", kata Rizal dengan puitis lalu dipotong Dimas.
"SEBENARNYA...", sambung Dimas dengan senyum.
Figo tersenyum...
"Kata-kata itu... Kalian ternyata melihatnya.", sedih Figo.
"Kami lihat! Kami sadar! Kami tahu!", ucap Dimas.
"Hanya saja kami tak ingin terlalu care! Bukannya tak perduli, tapi saudaramu juga ini, tak ingin kau bermental lemah karena setiap keinginan yang kau ekspektasikan terwujud dengan mudahnya!", argumen Rizal.
Seperti terjun bebas sambil berteriak... Lega sekali hati Figo. Tapi ketika Dendi datang mengajak Figo untuk nongkrong, seketika itu pula Figo berubah lagi.
"Maafin gua yah, karena sela...", kata Figo, lalu berhenti ketika ia mendengar suara Dendi.
"Go, nongkrong bos!", panggil Dendi.
Sahabat Figo seketika merasa atmosfer yang berbeda dari Figo.
Semua terdiam... Lalu...
"Tunggu, Den! Kalian lihat guys... Sahabat seru udah datang!", kata Figo sambip melepaskan tangan Dimas dan Rizal.
"Go...", sedih Lusiana.
"Bye yoooo", balas santai Figo.
Figo sudau benar-benar berpaling, berjuanh rasanya sudah menjadi hal yang sia-sia. Sahabatnya sudah lelah berjuang. Berpangku tangan? Mungkin itu yang kini berada dipikiran sahabat Figo.
Quotes:
"Terkadang, kita perlu menyelipkan kata lelah ketika kita berjuang."
KAMU SEDANG MEMBACA
saudara tak sedarah
Fiksi RemajaSebuah kisah yang dibumbui dengan imajinasi epic, yang bercerita tentang seorang individu yang sulit menjadi dirinya sendiri. individu ini menjalani takdir yang luar biasa dengan menemui seseorang dalam naskah kehidupannya yang mampu membuat dirinya...
