Suatu hari, aku mengadakan resital piano.
(Resital merupakan pertunjukan musik (vokal atau instrumen) yang biasanya ditunjukkan karena seseorang atau suatu grup musik telah mempelajari beberapa lagu baru dan ingin menunjukan kebolehannya di publik. Lagu yang dimainkan bisa lagu ciptaan sendiri maupun lagu ciptaan orang lain. Dikutip dari Wikipedia)
Orang tuaku telah menemukan sebuah tempat bagiku untuk bisa mengambil kelas piano, sebuah tempat yang tepat sebagai seorang puteri dari Rumah Sakit Nishikino.
Bahkan pada saat itu, Ochanomizu Concert Hall adalah tempat yang megah dan trendi, jadi fakta bahwa mereka meminjamnya untuk mengadakan pertunjukan resital merupakan semacam perkara yang besar.
Aku baru mulai bermain piano sekitar lebih kurang tiga tahun terakhir ini. Hanya siswa tertentu dari kelas yang dipilih, kebanyakan dari orang-orang yang ingin masuk jurusan musik atau menjadi seorang pianis pro yang dapat mengambil bagian, jadi oleh fakta bahwa aku bisa terpilih saja sudah mengisiku dengan rasa bangga dan sukacita.
Lagi pula, karena aku masih kelas satu SD, tanganku terlalu kecil untuk dapat memainkan bagian yang rumit, dan gadis kelas lima dan enam di sana begitu terlihat begitu besar bagiku ketika aku harus melihat mereka. Cukup bisa berdiri di panggung bersama mereka adalah seperti sebuah mimpi bagiku. Maka, ketika aku dengan bersemangat melaporkan hal ini kepada ibuku, dia cukup senang untuk mau meluangkan waktu dari jadwalnya yang sibuk dan mengantarkanku untuk memilih pakaian resital di hari berikutnya.
Kami pergi ke sebuah department store tua di Ginza dan membeli sebuah gaun panjang, yang berumbai-umbai dan begitu putih itu seperti tidak tampak nyata, hampir seperti sebuah gaun pengantin, dengan pita renda yang ditempeli sebuah mawar, untuk mengikat rambutku.
"Ya ampun, ya ampun, aku terlihat seperti putri dongeng!"
Melihat diri saya di cermin, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak dengan suara keras. Dan, untuk beberapa alasan, aku ingat bagaimana mama dengan bahagia memandangiku dan tertawa, "kamu terlihat sangat imut."
Mama itu seseorang yang senonoh, cerdas, anggun, sopan, dan selalu ketat kepadaku. Dan dia adalah seorang Mama yang sama yang selalu memberitahuku untuk tidak membuat keributan, jadi aku tidak akan memalukan bagi Papa, terlihat baik dan sayang kepadaku
Karena beliau tampak sangat bahagia. Aku jadi semakin bangga memiliki seorang ibu yang sangat cantik dan beradab, tetapi sekarang bila aku memikirkan itu, Mama itu selalu sibuk untuk membantu Papa di rumah sakit, dan beliau selalu terlihat tegang, dan sepertinya dia tidak punya banyak waktu luang. Sehingga, diriku yang masih muda ini jadi penasaran mengapa Mama tidak pernah memiliki ekspresi lembut di wajahnya seperti Ibu dari anak-anak yang lain.
Itu membuat aku senang saat mengetahui bahwa ketika aku bermain piano, dia menyayangiku dan memanggilku imut, seperti yang dilakukan ibu lain.
Sekarang bila aku memikirkan itu lagi... itu sangat bodoh bagiku, bukan? Pastinya itu bukan karena Mama dan Papa suka melihatku bermain piano, tetapi itu hanya bukti bahwa mereka tidak pernah mengira bahwa aku akan menjadi mahir dalam hal itu.
Baik Mama maupun Papa sama sekali tidak peduli tentang piano. Mereka tersenyum karena mereka menganggap itu sebagai sumber hiburan sementara.
Tapi, diriku yang bodoh itu tidak menyadari sama sekali saat itu.
Maka, pada hari resital, ketika pengurus rumah tangga kami, Ms. Waki, mengatakan kepadaku bahwa Mama dan Papa harus pergi ke beberapa pesta untuk bekerja, aku dengan polosnya berpikir, aw, sayang banget. Aku yakin Mama pasti benar-benar berharap dia bisa datang, tapi itu artinya aku harus berusaha lebih keras demi beliau!
"Apakah aku terlihat imut? Apakah ada yang terlihat aneh? Apakah kamu pikir kita harus mengambil foto untuk Mama dan Papa? "
Ms. Waki memeriksa saya beberapa kali.
Bahkan pada saat itu, aku adalah orang sangat kompetitif, dan semua orang, termasuk diriku sendiri, mengetahui itu. Jauh di lubuk hatiku, aku berpikir, apa yang akan mereka lakukan jika aku, seorang anak terkecil di sini, memenangkan divisi sekolah dasar? Aku yakin Mama dan Papa akan sangat terkejut, dan kemudian mereka akan memujiku banyak sekali!
Dan kemudian, mungkin, mereka menyesal telah melewatkan resital-ku, dan berpikir: Oh, seandainya saja kita bisa melihat resital Maki! Itu jauh lebih penting daripada pekerjaan apa pun!
Bayanganku itu mulai membuat hatiku berdebar-debar.
Maka, setelah resital, Dalam perjalanan pulang bersama Ms. Waki, aku sangat gembira sehingga hatiku terasa seperti mau meledak.
Aku senang, sangat bahagia. Aku mulai melompat tanpa menyadarinya.
Aku sangat bahagia, begitu terpenuhi, aku merasa seperti berada di puncak seluruh dunia.
Di dadaku terdapat hiasan berupa buket mawar merah kecil.
Di bawah buket itu ada pita bertulisan kata-kata berikut:
"Piano - Divisi Utama: Tempat Kedua". Bisa mampu membaca kalimat tersebut di usiaku itu membuatku juga menjadi cukup bangga.
"Ini sangat keren! Mereka semua itu anak-anak besar di kelas 6, dan aku masih bisa mendapat juara 2! Bukankah itu luar biasa!? Mama dan Papa pasti akan sangat terkejut ♪ "
Aku melompat. Sekumpulan pujian dari semua orang yang menimbunku di bawah sorotan, setelah upacara penghargaan, berputar dan menari-nari di kepalaku
"Kamu sangat terampil, saya tidak percaya bahwa kamu masih seorang siswi kelas satu, kamu memiliki begitu banyak bakat musik, saya tidak dapat percaya bahwa kamu masih duduk di bangku SD, bahkan pakaianmu sama indahnya dengan seorang profesional..."
Dan, lebih dari segalanya, Sensasi tampil di panggung raksasa di aula raksasa itu, seorang diri, masih belum hilang merasuki tubuhku.
Aku tidak dapat berbuat hal yang lain selain menjadi bersemangat.
Musik itu sangat menakjubkan. Aku sangat mencintai piano!
Aku melompat lagi, dan dengan senyuman, menepuk pita juara keduaku, seperti harta pribadiku sendiri. Aku bahkan tidak menyadari ada sedikit kesedihan di mata Ms. Waki saat dia melihatku..
Aku dengan sepenuh hati percaya bahwa ketika mereka pulang, Mama dan Papa akan mengusap kepalaku, dan memberi tahuku, "Maki, kamu luar biasa! Mendapat tempat juara kedua saat kamu masih di kelas satu? Ini baru gadis kita!" Dan memelukku....
Tapi,
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Live! School idol diary: Maki Nishikino [COMPLETE]
Roman pour AdolescentsLove Live! School idol diary is a series of novels in the Love Live! franchise, written by Kimino Sakurako and illustrated by Otono Natsu and Kiyose Akame with character designs from Murota Yuuhei. There are currently twelve published novels, split...
![Love Live! School idol diary: Maki Nishikino [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/148927541-64-k747143.jpg)