Chapter 6: Part 2

61 2 0
                                        

"Rin."

Aku pikir aku melihat sosoknya di kejauhan, tetapi dia berhasil mendekatiku pada saat aku menoleh kepadanya.

"M... Maki... Fiuh, aku berhasil menyusul ... Haah haah ..."

Mendesah dan terengah-engah, Rin berhenti untuk menarik napas, dan di belakangnya, aku melihat Hanayo berusaha untuk mengejar, sambil berteriak, "T-Tunggu!".

Itu cukup jauh! Rin itu benar-benar pelari cepat, yah.

Aku tanpa sadar mulai memperhatikan ke arah kaki Rin.

Pergelangan kaki yang meruncing halus, betis yang terbentuk dengan baik, dan oh, ada band-aid di tempurung lututnya. Apakah dia melukai dirinya sendiri atau semacamnya. Itu pasti sakit. Aku hampir mulai mengulurkan tanganku, tapi aku menahan diri.

"Kamu lihat apa, Maki?"

"Uh, bukan apa-apa."

Sungguh, bukan apa-apa.

"L-lagian, ada apa? Apakah kamu butuh sesuatu?"

Oh, mungkin dia akan memintaku untuk makan bersamanya? Sekarang aku mulai memikirkan itu, pada hari ini seusai latihan mereka mulai berbicara mengenai sesuatu yang konyol semacam itu ...

Yah, baiklah, aku akan menemani mereka selama itu tidak memakan banyak waktu.

"Gini, Makkii, aku pikir mungkin kamu gak sengaja mengambil buku catatan bahasa Inggrisku bersamamu"

... Oh, Cuma itu?

"Buku catatanmu... yah? Oh iya, Kini kamu menyinggungnya, tugas esai bahasa Inggris kita dikumpulkan besok, kan? Jangan bilang kalau kamu baru mau mengerjakannya malam ini, yah?. Ya udah lah, aku akan membantumu, jika kamu tidak keberatan" kataku sambil membuka resleting tasku. Saat aku melakukannya, Rin mencondongkan wajahnya ke arah dalam tasku dan mulai mengobrak-abriknya.

"Hei, jangan mengacaukan barang-barangku."

"Ah... aku akhirnya sampai juga, haah haah. Hei, Rin, aku cukup yakin kamu meninggalkannya di ruang kelas," kata Hanayo dengan suara goyah saat dia tiba.

"Hmm, menurutmu begitu? Kurasa aku harus kembali untuk mendapatkannya"

"Sudah terlambat untuk itu. Ayo kita pulang sekarang. Kamu bisa menulis esaimu di atas kertas bekas yang lama."

Hanayo memberikan saran terbaiknya untuk membujuk Rin. Kurasa siapapun juga enggan untuk pergi ke sekolah sekarang, ketika waktu menunjukkan pukul hampir jam 7 malam. Bersimpati dengannya, aku pun juga ikut bergabung.

"Aku setuju. Tidakkah kamu merasa lelah setelah berlatih begitu banyak? Semester 2 baru saja dimulai, jadi aku tidak berpikir akan ada orang yang akan menyalahkanmu jika kamu melewatkan beberapa PR untuk pergi makan bersama dengan teman-temanmu..." Aku mulai berkata, tapi Rin mengangkat tangan kanannya ke udara dan membentakku.

"Tidak, aku harus kembali! Jika aku melupakan PR-ku besok, mereka akhirnya akan membuatku melewatkan makan siang untuk mengerjakannya! Jika itu terjadi, aku akan mati kelaparan!"

"Rin..." lirih Hanayo tanpa energi dalam suaranya.

"Sudah diputuskan sekarang, nah, ayo lekas!"

Dengan itu, Rin mulai menarik lengan Hanayo.

Jadi... mereka benar-benar akan pergi, yah.

Untuk beberapa alasan, aku merasa sedikit kecewa. B-Bukan berarti karena aku ingin makan bareng dengan mereka atau apapun...

Tidak masalah, kalau begitu aku akan pulang sekarang. Mereka berdua hanya kemari hanya untuk memeriksa apakah buku catatan Rin ada bersamaku. Itu saja. Aku hanya merasa lelah dan lapar setelah semua latihan itu, itulah mengapa aku berharap bisa makan bersama mereka.

Itu saja? Aku tidak bertindak benar ketika sedang lapar. Itu pasti karena hari-hari musim gugur yang singkat. Itu sebabnya aku merasa sedikit kesepian.

Love Live! School idol diary: Maki Nishikino [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang