●
●
●
●
●
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Yerim kala memandang putra kecilnya dari balik kaca besar disebuah ruangan. Alpha kecil. Begitulah mereka memanggil putra kecilnya yang saat ini tengah diperiksa oleh dokter Seo setelah semua alat yang menempel ditubuh mungil itu terlepas.
Jungkook yang berada dibelakang tubuh Yerim ikut menyaksikan semua itu dengan senyum mendaratkan telapak tangannya dibahu Yerim yang tak mendapatkan respon apapun dari Yerim meski wanita itu sempat melirik tangannya sebentar lalu kembali fokus ke depan.
Kesalahan Jungkook memang tak termaafkan. Ya, ia mengakui hal itu, tapi ia bersungguh-sungguh ingin menebus segalanya untuk Yerim dan kedua anak mereka.
"Yer...," panggil Jungkook berlutut dihadapan Yerim yang tidak mau menatapnya. "Apa luka yang ku berikan masih membekas hingga kau tidak mau memaafkanku atas apa yang telah ku lakukan?" lirih Jungkook merasakan sakit di relung hatinya. Tidak salah lagi, itu adalah perasaan Yerim saat ini.
"Maafkan aku, Yer, please jangan hukum aku lagi," sesal Jungkook menjatuhkan kepalanya dipaha Yerim memohon ampunan dari wanita yang telah ia sakiti begitu dalam.
Yerim mengalihkan tatapannya. Air matanya terus menerus keluar tanpa bisa ia tahan. Ya, ia sangat sakit, rasa sakit itu masih membekas dan tidak mau pergi sekuat apapun Yerim berusaha melupakannya.
"Aku tidak bisa," balas Yerim dingin berhasil mematahkan segala harapan Jungkook.
Seokjin memperhatikan semua itu dari balik ruang Alpha kecil hanya bisa tertunduk. Sampai kapan Jungkook terjebak dalam belenggu yang menjeratnya menuju kebahagiaan yang ia impikan. Adiknya pantas mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaan itu hanya terletak pada Yerim dan kedua anak kembar mereka.
Salah seorang suster keluar membawa bayi lelaki Yerim dalam pelukannya membuat Jungkook tersadar buru-buru beranjak dari tempatnya menghampiri Seokjin yang langsung menepuk pundaknya memberi kekuatan.
"Beri Yerim waktu, Kook," bisik Seokjin memberi nasehat dibalas anggukan Jungkook.
Senyum Yerim menyambut bayi mungil, alpha kecil dalam dekapan hangatnya. Kecupan sayang tak henti-hentinya Yerim berikan untuk putranya yang sangat tampan itu. Alpha kecil mengeliat, terlihat seperti tengah bersedih dalam dekapan Yerim.
"Kenapa sayang?" tanya Yerim heran melihat raut wajah putranya. Jangan bilang ini bentuk protes untuknya yang tidak mau memaafkan ayah mereka. "Apa kau keberatan, nak, dengan sikap eomma barusan?" bisik Yerim. Salahkah jika ia berpikir demikian mengingat si kembar nyatanya menunggu kehadiran ayah mereka sebelum ia mengalami kontraksi hebat.
"Ada apa?"
Jungkook mendekat, memposisikan tubuhnya sejajar dengan Yerim memperhatikan alpha kecil yang masih terpejam tapi bibirnya melengkung kebawah pertanda sesuatu tengah menganggu tidurnya.
"Tidak tau," balas Yerim singkat.
"Sayang, anak appa," panggil Jungkook pelan, mengusap rambut hitam lebat putranya lembut berhasil mengundang senyum tampan dibibir mungil alpha kecil. Hal itu sontak membuat wajah Yerim murung karena dugaannya ternyata benar. Putranya yang masih kecil sudah mulai memihak pada ayahnya.
Jungkook mendekatkan kepalanya, mencium pipi gembul putranya yang menggemaskan diam-diam menarik senyum tipis dibibir Yerim yang tidak disadari oleh Jungkook bahkan Seokjin yang masih berdiri disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Mate √
FanfictionKim Yerim sudah yakin betul bahwa ia hanyalah seorang gadis biasa tetapi mengapa ibunya selalu bersikeras membawanya pergi seolah dia adalah sebuah ancaman besar bagi orang lain.. Hingga suatu hari... Kehidupan Yerim berubah drastis ketika dirinya...
