●
●
●
●
●
Yukhei membaringkan Yerim di tempat tidurnya secara perlahan. Yerim memilih duduk dengan badan disandarkan pada dashboard, sementara Yukhei menyelimuti kakinya. Ia segera duduk di tepi tempat tidur memandang perut Luna-nya yang sudah membesar dengan tersenyum.
“Kenapa kau melihat perutku seperti itu?,” tanya Yerim sembari mengelus perut besarnya.
“Aku hanya berpikir. Betapa beruntungnya si kembar memiliki ibu yang kuat seperti Luna,” sahut Yukhei tersenyum.
“Aku tak akan kuat seperti ini jika tak ada kalian. Gomapta…”
“Tapi Luna, apa itu tak berat. Ada dua makhluk disana. Mereka pasti membuatmu kesulitan..”
Yerim menyunggingkan senyumnya seraya menggeleng, menolak kalimat terakhir Yukhei. "Sama sekali tidak, mereka adalah anugerah, aku mungkin tidak akan bertahan sampai sejauh ini jika mereka tidak ada dalam hidupku..," Yerim mengelus perut buncitnya lembut. Tidak pernah sedikitpun ia menyesali akan kehadiran kedua bayi kembarnya setelah apa yang terjadi dalam hidupnya. Justru merekalah yang membuat dirinya merasakan semangat hidup.
"Sebenarnya yang membuat tubuhmu berat itu karena mereka semakin besar didalam sana. Aku akan membalas perbuatan mereka yang membuat tubuhmu jadi semakin berat ketika mereka lahir nanti, Luna..” kata Yukhei lalu tertawa lebar membuat Yerim juga ikut tertawa. Melupakan sejenak sakit yang ia rasakan sebelumnya. "Dan akan ku katakan pada mereka berdua bahwa mereka memiliki salah satu dari ibu terbaik yang pernah dimiliki dunia," wajah tampan Yukhei berubah murung. Ia merindukan ibunya yang tak pernah ia lihat.
“Hey,Yukhei, ada apa?,” tanya Yerim menyadari perubahan Yukhei.
"Aku hanya sedang merindukan ibuku, Luna," Yukhei tertawa, tawa yang terkesan paksa. "Luna, tidurlah. Aku akan turun setelah kau tidur..,” seru Yukhei mengalihkan topik.
Yerim menggeleng. “Kau turunlah. Aku tak bisa tidur. Kau tau kan, semakin besar perutku, aku jadi semakin sulit untuk tidur. Posisi seperti ini lebih nyaman untukku dan perutku.”
“Kan, hukuman mereka berdua bertambah karena membuatmu tak bisa tidur!,” kata Yukhei dengan semangat.
“YUKHEI!!! Jangan ambil kesempatan untuk kabur dari latihan!!!! TURUN SEKARANG!!!!”
Yukhei menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aish sial… si hitam yang satu itu tak bisa diam setiap aku pergi dari latihan.”
Yerim tertawa tanpa suara. Ia menggelengkan kepalanya mendengar gumaman Yukhei. Entah mengapa hal favoritnya selama di rumah pohon, salah satunya adalah ketidak-akuran Yukhei dan Jongin. Itu mengingatkannya pada Seulgi. Dulu mereka suka sekali berdebat bahkan tentang hal kecil. Ia merindukan moment itu.
“Luna…?”
“Eoh? Ada apa? Iya?,” Yerim tersadar jika ia melamun sesaat.
“Jangan membuatku khawatir dengan melamun seperti itu. Kau sedang memikirkan apa?”
“Aku tidak apa-apa, turunlah sekarang sebelum Jongin naik dan menyeretmu turun..”
Yukhei memberikan gerakan hormat untuk Yerim. Dia berlari menuju balkon yang ada di kamar Yerim dan melompat dari sana. Hal itu tak mengagetkan bagi Yerim. Lelaki aneh yang lebih muda darinya itu mencari hal-hal yang tidak biasa. Dia bisa saja lewat pintu jika mau. Tapi, dia memilih melompat melalui balkon, atau mungkin jika ada latihan naik turun tebing, dialah yang paling bersemangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Mate √
Hayran KurguKim Yerim sudah yakin betul bahwa ia hanyalah seorang gadis biasa tetapi mengapa ibunya selalu bersikeras membawanya pergi seolah dia adalah sebuah ancaman besar bagi orang lain.. Hingga suatu hari... Kehidupan Yerim berubah drastis ketika dirinya...
