>>note : kata yang dicetak miring dalam dialog, itu menandakan serigalanya yang berbicara.<<
↓
↓
↓
↓
↓
Seorang gadis cantik, berperawakan mungil memandangi ibunya sedih tatkala melihat lagi dan lagi ibunya itu mengepak pakaian namun kali ini ada yang berbeda, hanya barangnya saja yang dipacking oleh ibunya tersebut. Gadis itu sudah sangat lelah jika harus berpindah tempat lagi. Selama sepuluh tahun, ia dan ibunya tidak pernah berada dan menetap disatu kota selama lebih dari satu tahun karena alasan yang tidak gadis itu ketahui sama sekali, setiap ia bertanya maka ibunya akan menjawab hal serupa.
'Ini demi kebaikanmu'.
Gadis itu tidak tahan lagi, ia mendekati ibunya, menarik tangan yeoja paruh baya yang selalu nampak cantik dimatanya kemudian berlutut disana dan masih mengenggam tangan ibunya erat.
"Eomma tidak bisa melakukan ini padaku, aku mau disini saja bersama eomma.." lirih gadis itu dengan kepala menunduk dalam dan menangis.
Ibunya ikut berlutut, mengangkat wajah putri yang sangat ia sayangi. Ia pun tidak mau berpisah dengan Putri semata wayangnya namun ia tidak boleh egois, keselamatan putrinya, buah cintanya yang terlarang sedang dipertaruhkan akibat kesalahannya dimasa lalu. Tidak! Ia tidak mau mengambil resiko, putrinya harus berada jauh darinya saat ini..
"Tidak Yerim, kau harus pergi, nak, ini demi kebaikanmu sendiri.." ibunya mengangkat wajah Putri yang ia beri nama Kim Yerim dua puluh tahun yang lalu ketika melihat buntelan putih berlumuran darah itu diletakkan di pangkuannya. Gadis cantik seperti cahaya bulan terlahir kedunia dan membawa takdir akan sebuah kehancuran digenggaman tangannya.
"Tapi kenapa? Eomma tidak pernah mengatakan alasannya padaku.."
"Belum saatnya kau tau, nak, belum.." balas ibunya terdengar menyakitkan.
Tiba-tiba pintu kamar Yerim terbuka, seorang pria bertubuh tegap, tinggi dengan wajah mirip perempuan muncul dibalik pintu membuat adik perempuan dan keponakannya menoleh serempak kearah pintu.
"Taeyeon, mobilnya sudah siap, kita harus pergi sekarang sebelum semuanya terlambat.." ujarnya tenang namun dengan wajah khawatir yang sangat terlihat jelas dimatanya.
"Heechul uncle juga mau aku pergi.." gumam Yerim semakin sedih. Kenapa semua orang justru ingin menjauhkan dirinya dengan ibunya. Ini tidak adil.
"Ayo Kim Yerim.."
*
Di Incheon Airport
Yerim enggan menatap ibunya, sedari tadi yang ia lakukan hanya mendengar musik melalui earphone yang terpasang di kedua telinganya. Entahlah, ia jelas terlanjur marah dan kecewa sehingga mengatakan sesuatu hal kepada ibunya pun terasa berat. Yerim tidak ingin menjadi anak durhaka dengan melawan perintah ibunya dan jikalau pergi dari kehidupan ibunya membuat yeoja paruh baya itu senang, maka Yerim akan mengikuti kemauan itu..
"Oppa, apa kau yakin rencana ini akan berhasil, bagaimana jika mereka berhasil menemukan Yerim tanpa pengawasan kita disana.." ujar Taeyeon panik melirik Yerim yang tengah memejamkan mata dikursi tunggu.
Yerim mengernyit. Volume musiknya rendah, dan yang tak pernah diketahui oleh ibunya, Kim Yerim mempunyai Indra pendengaran yang sangat kuat. Yerim tetap diam menunggu hal apa yang akan dibicarakan oleh keduanya.
"Tidak, aku yakin tidak akan, aku akan meminta Donghae untuk menjaga Yerim kita disana, tenang saja.."
Yerim tidak mendengar apapun lagi setelah itu membuatnya menggeram kecewa dalam hati. Bahkan ketika dirinya harus masuk karena pesawat akan segera berangkat, Kim Yerim tidak berpamitan pada ibunya sama sekali, bahkan sekedar berpamitan atau berucap perpisahan pun tidak ia lakukan. Yerim tau perbuatannya pasti akan membuat ibunya semakin sedih tapi ia tidak peduli karena ia sangat kecewa kali ini..
KAMU SEDANG MEMBACA
Unexpected Mate √
FanfictionKim Yerim sudah yakin betul bahwa ia hanyalah seorang gadis biasa tetapi mengapa ibunya selalu bersikeras membawanya pergi seolah dia adalah sebuah ancaman besar bagi orang lain.. Hingga suatu hari... Kehidupan Yerim berubah drastis ketika dirinya...
