Bab Sembilan belas

200 28 25
                                        

Dokter baru menyelesaikan pemeriksaan tiffany hari ini. "dalam waktu dekat, saudari tiffany bisa kembali ke rumah. Taeyeon kau bisa menjaga teman mu ini kan? Pastikan dia meminum obatnya dan makan dengan teratur" ujar seorang dokter yang merupakan senior taeyeon di rumah sakit tersebut.

"kau dengar nona tiffany? Lakukan seperti itu dan berhenti membuat kami khawatir." Ucap taeyeon yang kini duduk sambil memakan makanan yang dibelinya tadi di kantin rumah sakit.

"jangan terlalu cerewet nona taeyeon. Aku mendengarnya, aku bukan anak kecil lagi" ucap tiffany yang kini sibuk memakan apel yang sedang dikupas oleh seohyun. "gomawo" ucapnya saat melihat apel yang telah kandas di piring.

"aku akan pergi sekarang. Ada rapat yang harus aku hadiri unnie. Baik-baik dengan taeyeon unnie" ucap seohyun sebelum menghilang dari balik pintu.

"kau tidak ada pasien yang harus kau rawat?" Tanya tiffany yang melihat taeyeon yang bermalas-malasan di sofa.

"nanti saja. lagian ada junior ku yang pasti sedang merawat mereka dan juga.."

"pergi dan lihat pasien mu sebelum vas bunga ini melayang kim taeyeon, mereka sedang membutuhkan bantuanmu dank au bermalas-malasan? Dasar dokter.."

"Baiklah-baiklah dasar harimau...aurgghhh" ucap taeyeon yang menirukan suara harimau sebelum pergi karena di "usir" tiffany tadi.

"ahh.. bosan." Keluh tiffany.

"bosan?" ucap sehun tiba-tiba memasuki kamar inap tiffany dengan membawa sebuket bunga besar dan meletakkannya di sudut ruangan. "noona bosan? Ingin jalan-jalan sebentar?" Tanya sehun yang dibalas dengan anggukan ringan dari tiffany.

****

"kau sudah menemukan bukti kuat untuk kasus.."

"tidak ada pembahasan pekerjaan disini. Noona harus istirahat selama dirumah sakit" ucap sehun yang kini membantu tiffany duduk di kursi taman.

"tapi.."

"tidak ada tapi-tapian noona. Tenanglah aku sudah menyelesaikannya." Ucap sehun yang duduk disebelah tiffany. "istirahatlah selama disini. Noona tidak tahu bagaimana sakitnya saat melihat noona terbaring di tempat tidur waktu itu? Dan itu disebabkan karena.."

"sshh..tidak apa. Aku akan istirahat selama disini" ucap tiffany yang kini menatap sehun "dan juga, jangan menuduhku mencintai tae hyung, kau salah besar sehun-a" ucap tiffany yang kini memalingkan wajahnya yang memerah. Kenapa dia mengucapkan itu?

"baiklah. Istirahatlah. Bukankah disini sangat nyaman. Lagian hanya kita berdua disini" ucap sehun yang kini menggenggam tangan tiffany. Membuat sang empunya kini memiliki senyuman lebar yang sangat manis. "tidurlah. Aku akan membagunkan noona jika suhu mulai terasa dingin" ucap sehun yang sedikit menarik kepala tiffany untuk bersandar padanya.

"kau benar. Ini nyaman" ucap tiffany tersenyum dalam tidurnya.

"tidurlah, noona"

****

"bukankah mereka sebenarnya sangat serasi?" Tanya seseorang di dekat lorong yang sedikit jauh dari tiffany dan sehun berada.

"memang benar. Ah..tapi junior nya juga menyukainya" ucap seseorang lagi..

"maksud unnie? taehyung?" sahut seseorang lagi.

"ya maksudku dia" ucap seseorang itu lagi

"ada apa para noona membicarakanku?" Tanya taehyung yang tiba-tiba berdiri di belakang mereka.

Aahh...teriak ketiga wanita tadi "yah..kim taehyung" bentak salah satu dari ketiga wanita itu.

"sshh..jangan berisik. Tiffany noona bisa bangun nanti" ucap taehyung yang melihat tiffany tertidu nyaman didalam pelukan sehun.

"tae hyung? Kau tidak cemburu?" Tanya seseorang itu.

"well, dengarkan baik-baik para noona ku yang cantik. Jessica noona, yuri noona, dan hyoyeon noona. Aku tidak cemburu. Bukankah mereka terlihat serasi? Aku menyetujuinya jika mereka memiliki sebuah hubungan yang romantic, bukan begitu hyung?" Tanya tehyung kepada baekhyun yang berdiri di belakang mereka.

"tentu. Jika mereka memiliki hubungan itu. Aku menyetujuinya" ucap baekhyun yang membuat ketiga wanita itu memutar mata mereka malas.

"yang benar saja." ucap yuri

"tidak akan" ucap Jessica

"tiffany tidak seperti itu" ucap hyoyeon yang mengikuti kedua temannya kearah ruangan tiffany dengan jalan perlahan.

Taehyung dan baekhyun yang melihat itu hanya menggelengkan kepala mereka. "jadi adikku yang kuat. Apa kau tetap mau menjenguk noona-mu yang nyaman berada dipelukan sehun hyung-mu?" Tanya baekhyun dengan sindiran didalamnya.

"kita akan menunggu didalam. Biarkan mereka hyung. Aku menyerah" ucap taehyung yang berjalan duluan mendahului baekhyu dengan sebuket dan buah-buahan ditangannya.

****

Setengah jam berlalu dan tiffany mulai menggerakkan tubuhnya. Tepat saat dia membuka matanya terdapat wajah sehun yang sedang tersenyum ke arahnya.

"apa aku terlalu lama tertidurnya?" Tanya tiffany dengan suara seraknya. "kita kembali sekarang?"

Sehun tersenyum lebar. "tadi aku bertanya kepada perawat apakah ada piano di rumah sakit ini. Katanya ada satu piano tua di ruang bermain bangsal anak" jelasnya. Lalu sehun bangkit dan mendekatkan kursi roda " duduklah disini. Dan aku akan membawamu ke bangsal anak"

Tiffany menatap kursi roda itu dengan alis terangkat "atau noona lebih suka aku menggendongmu kesana?" pancing sehun.

"sepertinya kursi roda ini lebih aman"

Sehun menyipitkan matanya " aku tahu noona berbohong" katanya dan terkekeh pelan, "tapi tidak apa. Ayo kita pergi".

Mereka akhirnya tiba diruangan bermain bangsal anak setelah bertanya kepada perawat, tidak ada seorang pun disana. Sehun mendorong kursi roda tiffany kearah piano bewarna hitam disalah satu sisi ruangan. Setelah menempatkan kursi roda tiffany disamping bangku piano, sehun membuka tutup piano dan memainkan jemarinya diatas deretan tuts piano.

"bagus" gumamnya, lebih pada diri sendiri. Lalu ia menoleh pada tiffany, "siap?"

Tiffany tersenyum manis, lalu merapatkan selimut di sekeliling tubuhnya dan mengangguk. Lalu kesepuluh jemari sehun mulai bergerak diatas tuts-tuts piano dan alunan yang indah pun mulai terdengar. Tiffany memejamkan matanya dan kembali membayangkan sinar matahari, padang rumput dibawah langit biru yang luas, rumput-rumput yang bergoyang ditiup angin, musim semi.

Dibalik selimut tebal yang menutupi tubuhnya, tangan kanannya juga terangkat ke dada. Lagu ini seolah-olah menyusup ke relung hatinya, menyelinap di dadanya, memasuki jiwanya, dan mengendap disana. Lagu ini memenuhi dada tiffany dengan harapan dan kebahagiaan. Dan tiffany ingin mempertahankan perasaan ini selama mungkin didalam dadanya.

Ketika lagu itu berakhir, tiffany bertepuk tangan dan terkejut mendengar tepuk tangan yang riuh dibelakangnya. Sehun yang terkejut ketika ia melihat kumpulan kecil yang ia buat di depan pintu bangsal. Ia berdiri dan membungkuk kearah penonton dengan rasa hormat.

"aku tidak tahu kau bisa bermain piano dengan sangat bagus" kata tiffany " dank au membuat mereka terpesona" ucapnya lagi ketika para penonton sudah menghilang dari ambang pintu.

"benarkah?" gumam sehun sambil menatap tiffany. "padahal aku hanya ingin menawan hati satu orang" tiffany tidak berkomentar. Ia alihkan pandangannya kearah tuts piano. "terimakasih kau telah memainkannya untukku" katanya.

Sehun mengambil tangan tiffany dan menggenggamnya dan tiffany hanya bisa menatap tanganya berada disana.

"untuk berterimaksih padaku, aku ingin noona mengabulkan satu permintaan ku" kata sehun. Tiffany tertawa dan membalas genggaman tangannya. "apa permintaanmu?"

"biarkan aku menciummu"

Sorry [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang