Part 12a

77.3K 3.1K 68
                                        

hai..

Terima kasih masih mengikuti cerita gaje saya ini.. maaf untuk apdet yang lumayan lama krn masih mengerjakan laporan keuangan semesteran. sy nulis ini sambil mengerjakan laporan lho  *tentunya sembunyi2 supaya ga ketauan bos* hihihi plus si bungsu yang demam karena mo tumbuh gigi *kurang tidur sy jadinya*

di part kali ini, sy menepati janji untuk menambah porsi scene romantis Rein-Mandy.. Uhm, walaupun ga eksplisit adegannya, sy menyarankan untuk membacanya setelah iftar bagi yang sedang menunaikan ibadah puasa.. klo batal sy ga tanggung lho buahahaha..

VLeeRhysMancini

 Rein memeluk Mandy erat, laki-laki itu melingkarkan lengannya di tubuh Mandy dengan protektif.

"Aku merindukanmu juga, honey..." Rein mengecup kening Mandy dan mengelus rambut gadis itu lembut. Memeluk tubuh Mandy yang rapuh dan gemetar seperti ini membuat rasa benci dan muak yang ia rasakan tadi menguap tak berbekas sama sekali. Sedangkan Mandy menikmati pelukan Reinhart, merasakan kenyamanan dan perlindungan yang diberikan dada kokoh laki-laki itu..

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk melarikan diri.. ini karena.. " Mandy menghentikan kata-katanya.

"Kenapa Mandy?" Reinhart bertanya lembut,

Mandy tidak menjawab pertanyaan Reinhart gadis itu kembali bungkam, tetapi pelukannya terhadap laki-laki itu semakin erat.

"EHM.." Douglas  mulai merasa menjadi nyamuk pengganggu kemesraan dua sejoli yang usianya terpaut jauh itu.

"Kau ingin tahu apa alasannya Rein? Begitupun aku, gadis kecil ini susah sekali mengatakan pelakunya."

"Pelaku? Maksudmu Doug?" Rein menatap Doug dengan bingung karena Mandy semakin gemetar dan memeluknya makin erat.

"Kita bicara di dalam saja biar semuanya menjadi jelas. Banyak yang ingin aku bicarakan denganmu."

***

"Jadi aku harus memanggilmu apa Doug? Kakak?" Rein bergidik ngeri begitu menyadari bahwa memang kemungkinan besar dari fakta-fakta yang diungkapkan oleh Douglas bahwa laki-laki itu adalah kakak kandung Mandy walaupun bukan dari satu Ibu.

"Terserah maumu Rein.." Douglas tersenyum jumawa, laki-laki itu duduk sambil menyilangkan kakinya di salah satu sofa empuk suite room hotel bintang empat itu. Kepastian akan mereka peroleh dalam waktu 14 hari lagi, dan Douglas 100% yakin kalau Mandy adalah adiknya, tes DNA baginya hanyalah pengukuhan dan prosedur resmi hitam di atas putih.

Reinhart hanya tersenyum kecut pada Douglas, tangan kokoh laki-laki itu masih menggenggam erat tangan Mandy seolah tidak ingin kehilangan gadis itu lagi. Mandy tertawa kecil melihat ulah jahil Douglas, kakak laki-lakinya itu sangat menikmati posisi unggulnya saat ini. Douglas memperhatikan perubahan wajah Mandy yang mulai terlihat santai, ia sengaja tidak membicarakan mengenai luka cambukan terlebih dahulu.

"Sepertinya Mandy sudah terlihat tenang, kita bisa memulainya Sis?" Douglas merundukkan tubuhnya pada Mandy, menepuk pelan lutut sang adik.

Mandy menggigit bibirnya, matanya melirik Reinhart cemas. Kemudian tatapan gadis itu memohon pada Douglas, meminta agar pembicaraan dihentikan.

"Kalau kau tidak sanggup, biar aku yang bicara Mandy. Bagaimana?" Douglas menatap wajah Mandy dalam-dalam, berusaha memberikan gadis itu keberanian untuk bicara. Tetapi Mandy hanya diam dan menundukkan kepalanya.

"OK, aku menganggap diam-mu sebagai tanda persetujuanmu." Douglas menepuk pelan lutut Mandy, kemudian beralih pada Reinhart.

"Rein coba lihat ini.." Douglas memberikan ponselnya pada Reinhart. Mata Reinhart membesar ketika melihat gambar-gambar yang berada ponsel itu..  Bibir laki itu menipis dan tangannya sedikit bergetar.

SecretsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang