2. Benci

184 97 30
                                        

Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Setelah pertemuan yang melelahkan di kantor, Alessia dan papanya pulang dengan mengendarai mobil masing-masing. Hubungan Alessia dengan papanya memang tidak pernah benar-benar membaik sejak lama. Ia terlalu malas untuk membahas alasan di balik rasa tidak sukanya yang mendalam, hingga ia lebih memilih menghabiskan waktu di apartemen pribadinya daripada tinggal di rumah besar sang papa yang terasa dingin.

Sebelum menuju apartemen, Alessia menyempatkan diri mampir ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan stok makanan. Saat sedang sibuk memilih bahan di rak, pandangannya tertumpu pada seorang cowok yang terlihat familiar. Ia menyipitkan mata, mencoba mengingat, dan seketika menyadari bahwa lelaki itu adalah cowok yang tadi siang mengganggu ketenangannya di rooftop sekolah.

"Lo?" celetuk Nando saat menyadari kehadiran Alessia di dekatnya.

"Iya, hai. Lo ke sini sengaja buat minta maaf sama gue, kan? Ternyata lo niat banget ya nyari gue cuma buat minta maaf," sahut Alessia dengan nada percaya diri yang menyebalkan.

Nando tidak menjawab. Dengan wajah sedatar papan, ia hanya melewati Alessia begitu saja seolah gadis itu hanyalah pajangan rak.

"Yee, pake gaya malu-malu kucing segala, padahal dalam hati niat banget mau minta maaf. Sebelum lo ngomong, udah gue maafin kok. Slow aja," seru Alessia panjang lebar sambil mengikuti langkah Nando.

"Dasar gila!" umpat Nando pelan, namun cukup keras untuk didengar Alessia.

"Dih, kok gitu? Gue kan udah baik mau maafin. Kita temenan aja gimana?" tanya Alessia sambil tersenyum licik.

Nando berhenti melangkah dan menatap Alessia tajam. "Temenan sama cewek bad girl, gila, dan troublemaker kayak lo? Sama adik kelas aja lo cari masalah," ketus Nando.

Alessia justru tertawa kecil. "Wow, jadi lo tahu tentang gue ya? Btw, nama lo siapa? Nggak usah malu, gue tahu lo sebenarnya suka kan sama gue?" goda Alessia.

"Gila! Minggir! Ganggu aja lo!" Nando menggeser tubuh Alessia dengan kasar, lalu bergegas menuju kasir. Setelah membayar, ia segera menancapkan gas motornya, meninggalkan supermarket dengan perasaan dongkol.

Alessia hanya menggelengkan kepala melihat kepergian Nando. "Ada-ada aja. Mau-mauan cewek cantik kayak gue repot maafin cowok gila itu," gumamnya pelan sebelum melanjutkan belanjanya.

---

Di tempat yang berbeda, tiga orang cowok sedang sibuk dengan gadget mereka masing-masing menunggu seseorang.

"Bro, mana sih Nando? Beli makanan di supermarket aja lama banget kayak cewek," keluh Galih.

"Gila lo, sahabat sendiri dibilang kayak cewek. Tapi iya juga sih, lama banget dia," sahut Alex sambil tertawa.

Tak lama, Nando datang dengan wajah kusut. "Assalamualaikum, sorry guys gue terlambat," ucapnya.

"Waalaikumsalam. Dari mana aja lo? Pergi ke supermarket doang lama banget," tanya Rizki.

"Gue tadi ketemu cewek gila, makanya jadi telat begini," jelas Nando sambil menghempaskan kantong belanjaan.

"Cewek gila?" tanya Rizki heran.

Nando hanya bergumam malas. Sementara itu, Alex menimpali, "Btw, Alessia nggak ada pula di rumahnya. Gagal PDKT deh gue.".

"Udah gue bilang, dia kan jarang pulang ke rumah, lebih sering di apartemen," kata Rizki, mempertegas informasi yang ia dengar sebelumnya.

"Udah deh, kerjain tugas dulu entar nggak selesai-selesai. Berhenti bahas cewek bad girl itu," potong Nando ketus.

Alex menyipitkan mata menatap Nando. "Lo kenapa sih, Nando? Kalau kita bahas Alessia, lo kayak sengaja ngehindar terus," sindirnya.

Rizki segera menengahi sebelum perdebatan makin panjang, sementara Galih mencoba menenangkan Nando yang terlihat masih emosi. Mereka pun akhirnya fokus pada tugas kelompok mereka.

---

Sementara itu, Alessia baru saja sampai di lobi apartemennya. Langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis kecil sedang menangis tersedu-sedu sendirian. Sisi lain Alessia yang jarang terlihat—sisi lembutnya—tiba-tiba muncul. Ia mendekati gadis kecil itu.

"Hai sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Alessia dengan nada yang sangat ramah, jauh dari kesan bad girl.

"Ka... kak, kakak siapa?" tanya gadis kecil itu sambil sesenggukan.

"Hmm, nama Kakak Kaynan. Kamu siapa namanya?" Alessia tersenyum lembut. Di area apartemen ini, Alessia memang tidak pernah memakai nama aslinya; ia selalu menggunakan nama tengahnya, Kaynan, untuk menjaga privasi dari identitasnya di sekolah.

"Aku Annaya," jawab gadis itu pelan.

"Jadi, kamu kenapa menangis, Annaya?" Alessia berjongkok dan menyeka air mata di pipi gadis kecil itu.

"Ta... tadi aku main sama temenku, terus dia ninggalin aku. Sekarang aku nggak tahu aku ada di mana," jelas Annaya.

"Kamu ke sini sama siapa tadi?".

"Mama, Kak.".

"Yaudah, ikut Kakak dulu ya. Kita cari mama kamu ke pusat keamanan," ajak Alessia. Ia pun menggandeng tangan Annaya menuju pos security apartemen Kencana Pesona.

Alessia memerintahkan petugas keamanan untuk segera mengumumkan informasi tentang Annaya melalui pengeras suara. Tak lama setelah pengumuman dikumandangkan, seorang wanita paruh baya berlari mendekat dengan wajah cemas.

"Mama!" teriak Annaya sambil berlari memeluk ibunya.

Wanita itu meminta maaf berkali-kali karena sempat kehilangan pengawasan saat Annaya sedang bermain dengan temannya yang bernama Dinda. "Makasih ya, Nak Kaynan, udah mau nolongin Annaya," ucap wanita itu tulus.

"Tentu, Bu. Sama-sama," jawab Alessia dengan senyum tipis sebelum berpamitan menuju unit apartemennya.

Kembali ke kediaman Nando, suasana rumah terasa tegang. Nando sedang berdiri di depan mamanya dengan rahang mengeras.

"Ma, udah deh, jangan deketin Tante Bella lagi. Dia itu licik, Ma! Papa meninggal gara-gara dia!" bentak Nando penuh amarah.

"Nando, kamu salah paham. Tante Bella nggak sejahat yang kamu kira," bela mamanya lembut.

"Nggak salah gimana, Ma? Kalau Tante Bella waktu itu nggak pergi, kemungkinan Papa masih hidup! Dan lagi, kalau Mama nggak sibuk ke sana, Annaya nggak mungkin bakal kesasar tadi!" seru Nando frustrasi.

"Nando, Bella nggak salah. Dan Annaya kan sudah ketemu, untungnya ada Nak Kaynan yang menolongnya," jawab mamanya mencoba meredam suasana.

"Untungnya? Ahh, percuma bicara sama Mama. Mama nggak akan pernah paham!" Nando langsung keluar rumah dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi untuk menemui teman-temannya kembali.

Nando bertemu kembali dengan Galih di tempat tongkrongan mereka.

"Lo kenapa lagi? Masalah nyokap lo lagi?" tanya Galih prihatin.

"Hmm, hal yang sama. Capek gue ngomong sama Mama. Kalau bukan karena Tante Bella, papa gue masih hidup, Lih," ucap Nando sambil mengepalkan tangan.

"Ya sudah tunggu aja, nanti nyokap lo juga bakal tahu sendiri kalau dia jahat," sahut Galih menenangkan.

Nando akhirnya pulang dan menghempaskan badannya ke kasur, memejamkan mata erat. Ia berusaha melupakan dendam pada wanita yang ia anggap bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Namun, bayangan lain justru melintas di benaknya.

"Btw, kok lo kesel banget sih setiap kami bahas masalah Alessia?" tanya Galih dalam ingatannya.

"Entahlah, gue cuma benci sama cewek troublemaker kayak dia," gumam Nando pada diri sendiri.

"Hati-hati lo, inget karma. Entar lama-lama malah lo yang suka sama dia," suara Alex terngiang di telinganya.

"Nggak bakal," desis Nando sebelum akhirnya terlelap.

Alessia (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang