Hari ini, aku berjalan menyusuri desa kecil penuh kehangatan. Seorang anak, berjalan sendirian dengan keringat banyak di pelipisnya serta wajah pucatnya.
Kuhampiri dia dengan senyum merekah. Kecoba berkata 'hay'. Dia tersenyum dan mendongak melihatku.
"Kau baru pulang sekolah?" ucapku kepadanya saat itu.
"Iya kak" dia tetap tersenyum padaku."Mana temanmu? Bukankah biasanya anak-anak disini sering pulang bersama?" ucapku kepadanya.
"Tidak, mereka tak ingin berteman padaku lagi. Katanya aku tak punya apa-apa ataupun aku tak punya keahlian apa-apa. Jadi, untuk apa menjadi teman mereka? Itu yang mereka katakan"
Aku terdiam, memperhatikan anak itu.Begitulah sifat manusia, yang kaya hanya akan bergaul dengan yang kaya. Mereka akan mencari seorang yang ali untuk dijadikan teman.
Aku contohnya, kalian pasti membaca story yang lalu. Aku punya kelebihan, semacam sesuatu yang tak didapatkan oleh orang lain.
Aku memakai itu sebagai caraku bergaul, sekarang aku berfikir. Bagaimana jadinya diaku tak punya kemampuan ini? Bagaimana jadinya jika aku tak punya kemampuan lain?
Apa ada yang ingin menjadi temanku?Haha, bodoh. Aku memang bodoh, di peralat dan dikatakan sebagai teman. Dan sekarang? Mereka bosan, mereka pergi seakan tak mengenalku. Dan sekarang? Aku seperti anak itu. Tak punya siapa-siapa lagi, tak punya apa-apa lagi.
Karena aku orang bodoh yang mencari teman lewat kemampuan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kata
Teen FictionSebuah catatan kecil yang bersarang dari sebuah hati, Menjadi sebuah kata, berubah menjadi kalimat dan di lengkapi dengan paragraf. Hanya sebuah kata yang menjadi curahan hati.