[ SERIES # 1 Romance Crime ]
adult story +
anak kecil yang masih unyu unyu nih dilarang baca Yah ^ 3 ^
*Harap Bijak Dalam Memilih Bacaan*
Disini kalian akan menemukan cerita dengan Konflik berliku liku .
Cerita ini Sangat Rumit , romantis , dengan e...
Dingin, Huh dingin sekali. Serasa angin telah menusukku, tubuhku sangat menggigil dan kepalaku sangat pusing sekali. "Tidurlah Sayang..."
Samar samar aku mendengar suara seorang pria berbicara dengan sangat lembut. Ku rasa dia berbicara tepat didepan wajahku karena wangi napasnya begitu jelas menerpa mataku. Sepertinya kacamataku sudah dilepas olehnya saat aku tidur. Aku merasakan dia tengah mencium dahiku , lalu menarik selimut untukku.
⚘
Sinar matahari pagi sangat menusuk mataku, membuatku mau tak mau membuka mata pelan pelan. Sangat silau sekali. Meski belum sempurna penglihatan mataku. Aku bisa mengenali peter yang sedang menyibak gorden panjang berwarna merah maroon. Tempat tidur berwarna Merah muda itu seolah olah mencuci mataku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sudah bangun rupanya". Kata peter seraya menghampiriku dan duduk disebelah aku berbaring."masih sakit kepalamu?". Tanya nya kepadaku. "Sedikit peter". "Baiklah ". Ucapnya.sepagi ini dia sudah berpakaian sangat rapi memakai jas hitam dan celana bahan dengan warna yang sama. Aku mencoba duduk, tapi tiba tiba sesuatu yang basah dan lembab jatuh dari dahiku. "Semalam kau sepertinya demam, jadi aku khawatir dengan kondisimu, makanya aku mengompresmu". Ujarnya menjawab kebingunganku. Dia mengambil handuk basah itu lalu memasukkannya ke dalam baskom diatas nakas. Setelah itu dia , dia bergerak memosisikan bantal di punggungku, lalu membantuku bersandar dengan nyaman. "Tasku dimana peter?" . Peter menunjuk kearah lemari berwarna putih itu."disana".peter masih saja duduk disampingku."peter tolong ambilkan kacamataku?".peter mengambilnya lalu memberikan kepadaku. "Peter , tumben sekali dirimu berubah" Peter masih saja mendiamkanku , sungguh manusia ini sangat menyebalkan! Peter tidak berbicara lagi, membuatku memberanikan diri untuk menatap tepat dibola matanya. Mata kami pun beradu sesaat sebelum aku menundukkan kepala lagi. Ternyata tidak mudah berlama lama menatap matanya yang setajam mata pisau. "Peter aku ingin pulang , Tempatku bukan disini !!" . Aku langsung beranjak dari kasur dan ternyata ucapanku barusan memang memancing kemarahan peter. Dia langsung mencengkram tanganku dan menusukku dengan tatapan membunuh. Apakah aku salah kata? "Mengapa tiba tiba saja kau marah padaku"peter menatapku tajam. "DASAR KAU PRIA DENGAN IDENTITAS TAK JELAS !!!". Ucapku ketus , aku marah padanya, aku ini wanita bukan laki laki. Aku bosan dengan sifatnya yang kadang kadang tak terkontrol "Apa maksudmu..??!!" "Engghh..." . Keluhku merasakan sakit dipergelangan tangan. Sungguh tanganku sangat sakit sekali dicengkram olehnya.Bahkan, aku tak sanggup melanjutkan kata kataku. "Kunci rumahmu ku simpan , kau tak bisa pulang kerumahmu lagi!". Ya tuhan mengapa peter tiba tiba seperti ini? Terkadang lembut, terkadang kasar , mengapa aku sekarang sangat takut kepadanya? "Aku tidak mau mendengar perkataan itu lagi , sekarang disini rumahmu, tunggu sampai aku mengizinkanmu pulang , baru kau akan kuantar pulang!!". Peter terlihat sangat marah dan belum mau melepas tanganku. Sakit peter.. "Peter tapi aku mau pul....mmmppphhtt...!!" Ucapanku terpotong karena peter langsung menyambar bibirku dengan bibirnya. Dia mencium ku dengan segala jurus lumatan maut darinya. "Mmmpphtt..." .aku mengerang lagi. Saat aku nyaris tak bisa bernapas karena peter menciumku dengan kesan memaksa, akhirnya peter melepas lumatannya. Buru buru aku menghirup udara sebanyak mungkin. Peter memelukku dengan lembut. "Aku tunggu diluar , kita akan sarapan".ucap peter dengan nada datar. Susah untuk membantah kata katanya. Dia pergi meninggalkanku begitu saja, namun sebelum menutup pintu dia menoleh untuk melihatku. "Jika kau tidak keluar juga, kau akan kucium lebih Memaksa dari ini sayang..." . Lanjutnya sambil memicingkan mata.